Rusia akan merujuk perempuan yang tidak ingin memiliki anak ke psikolog. Hal itu tertuang dalam pedoman kesehatan baru yang dirancang untuk mengatasi krisis demografi.
Saat ini, menurunnya angka kelahiran menjadi fokus utama Presiden Rusia, Vladimir Putin.
Masalah tersebut semakin memburuk karena berbagai faktor. Salah satu yang utama adalah pengerahan ratusan ribu pria muda Rusia ke medan perang Ukraina dalam empat tahun terakhir.
Dalam pedoman kesehatan terbaru, Kementerian Kesehatan Rusia akan menggelar pemeriksaan kesehatan reproduksi. Nantinya, dokter akan menanyakan berapa jumlah anak yang diinginkan seorang perempuan.
“Jika perempuan tersebut menjawab nol, disarankan untuk merujuk pasien ke konsultasi dengan psikolog medis dengan tujuan membentuk sikap positif terhadap memiliki anak,” demikian isi laporan pedoman kesehatan terbaru tersebut, seperti dikutip dari Reuters.
Rekomendasi ini sebenarnya telah disetujui sejak akhir Februari lalu. Namun, media di Rusia baru menyebarkan laporan tersebut pada pekan ini.
Sejumlah pemimpin dan pemangku kepentingan di Rusia menilai penyusutan populasi sebagai masalah kelangsungan hidup nasional.
Mereka memperingatkan Rusia bisa mengalami krisis serius jika tidak ada perbaikan angka kelahiran.
Saat ini, angka kelahiran di Rusia menyentuh titik terendah dalam 200 tahun terakhir, yakni sekitar 1,4 anak per perempuan.
Angka tersebut jauh di bawah standar, yakni 2,1 anak per perempuan untuk menjaga stabilitas populasi.
Rusia telah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk meningkatkan angka kelahiran, seperti memperketat aturan aborsi hingga mengeluarkan undang-undang yang menyebut promosi gaya hidup childfree sebagai propaganda ilegal.
Rusia juga memuji keluarga dengan banyak anak sebagai pahlawan nasional serta menawarkan bantuan finansial bagi keluarga.





