EtIndonesia. Negara pulau komunis Kuba dalam beberapa tahun terakhir mengalami kemerosotan ekonomi dan kekurangan energi. Pekan ini, negara tersebut dilanda pemadaman listrik besar-besaran serta gempa bumi. Negosiasi antara Kuba dan Amerika Serikat serta arah masa depannya juga menjadi perhatian luas.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dengan tegas menyatakan bahwa dia akan merasa terhormat untuk “mengambil alih” Kuba dalam suatu bentuk tertentu.
Pada Selasa (17 Maret), Trump mengatakan bahwa Kuba sedang berdialog dengan Menteri Luar Negeri Marco Rubio, dan Washington akan segera mengambil “beberapa tindakan” terhadap Kuba.
Rubio menegaskan bahwa ekonomi Kuba sudah benar-benar tidak berjalan, sehingga perlu pergantian pemimpin.
Rubio mengatakan: “Mereka (Kuba) dulu bertahan dengan subsidi Uni Soviet, dan sekarang dengan subsidi Venezuela. Kini subsidi itu tidak lagi tersedia, sehingga mereka berada dalam situasi sulit. Namun para penguasa tidak mampu berbuat apa-apa. Jadi mereka harus diganti.”
Faktanya, sejak tahun 1959, Kuba terus diperintah oleh rezim komunis yang ada saat ini. Presiden Trump sebelumnya juga telah menyatakan bahwa menurutnya rezim komunis Kuba sudah mendekati akhir.
Trump mengatakan: “Saya percaya saya akan merasa terhormat, sangat terhormat, untuk mengambil alih Kuba. Itu akan menjadi suatu kehormatan besar.”
Ketika ditanya “mengambil alih Kuba?”
Trump menjawab: “Dalam suatu bentuk tertentu. Maksud saya, entah itu membebaskannya atau mengambil alihnya. Saya rasa saya bisa melakukan apa pun yang saya inginkan terhadapnya. Sejujurnya, mereka sekarang adalah negara yang sangat lemah.”
Sejak Amerika Serikat menangkap pemimpin Venezuela, Nicolás Maduro pada Januari, AS telah meningkatkan blokade minyak dan sanksi, yang semakin memperburuk kondisi ekonomi Kuba. Hal ini menyebabkan pemadaman listrik berkepanjangan serta kekurangan bahan bakar, makanan, dan obat-obatan.
Pejabat AS sebelumnya mengungkapkan bahwa salah satu tujuan negosiasi adalah mendorong Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel untuk mundur dari jabatannya.
Pemerintahan Trump juga menuntut Kuba membebaskan tahanan politik dan bergerak menuju liberalisasi politik dan ekonomi sebagai syarat pencabutan sanksi.
Untuk menghadapi krisis, Pemerintah Kuba sedang mendorong reformasi ekonomi, termasuk mengizinkan warga Kuba di luar negeri untuk berinvestasi atau memiliki usaha swasta, serta menyatakan kesediaan untuk berdagang dengan perusahaan-perusahaan Amerika.
Wakil Perdana Menteri Kuba sekaligus Menteri Perdagangan Luar Negeri dan Investasi Asing, Oscar Perez-Oliva Fraga, mengatakan: “Kami tidak sedang membahas kegiatan bisnis tertentu. Negara kami membuka pintu bagi komunitas Kuba yang tinggal di luar negeri.”
Pada Selasa dini hari, Kuba mengalami gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,8. Dalam dua jam berikutnya, terjadi beberapa gempa dangkal dengan magnitudo antara 4,7 hingga 3,3.
Sementara itu, pada Senin (16 Maret), jaringan listrik nasional Kuba runtuh, menyebabkan sekitar 11 juta penduduk terjebak dalam kegelapan. Ini merupakan pemadaman besar ketiga dalam empat bulan terakhir.
Pemadaman listrik besar dan berkepanjangan memicu protes. Sejumlah warga Kuba berkumpul di pusat kota Havana sambil memukul panci dan wajan sebagai bentuk protes. Di wilayah utara Kuba, tepatnya di Morón, juga terjadi aksi protes kekerasan yang jarang terjadi, di mana para demonstran anti-pemerintah menyerang sebuah kantor Partai Komunis. Api besar terlihat berkobar di lokasi, sementara terdengar teriakan “kebebasan” di latar belakang.





