Serba-serbi Warga Lebaran Duluan: Palembang hingga Indramayu

kumparan.com
8 jam lalu
Cover Berita

Sejumlah warga Palembang merayakan Lebaran atau Idul Fitri 1447 Hijriah lebih awal dengan melaksanakan Salat Id pada hari ini, Kamis (19/3).

Pelaksanaan Salat Id itu berlangsung di halaman Masjid Al-Mustanir, di kawasan Jalan Gubernur H. Bastari, Kecamatan Rambutan, Kabupaten Banyuasin, tepatnya di depan Sekolah Al Fahd.

Ustaz Syahrul Musta’in yang juga bertindak sebagai imam salat mengatakan kelompoknya merayakan Idul Fitri lebih awal karena mereka menggunakan metode rukyat global dalam menentukan awal bulan Syawal.

“Kami menggunakan rukyat global yang merujuk pada tiga mazhab, yaitu Imam Maliki, Hambali, dan Hanafi. Kesimpulannya, apabila hilal terlihat di suatu negeri, maka negeri lain mengikutinya,” katanya.

Menurutnya, berdasarkan informasi yang mereka terima, hilal sendiri telah terlihat di sejumlah wilayah, termasuk di beberapa kota di Afghanistan dan juga di Turki.

“Maka dari itu kami menetapkan Idul Fitri lebih awal,” jelasnya.

Ustaz Syahrul berpendapat, perbedaan penetapan hari besar keagamaan seperti Idul Fitri bukanlah hal baru di Indonesia karena ada perbedaan metode yang digunakan.

Seperti pada Muhammadiyah menggunakan metode hisab, sementara sebagian umat Islam di Indonesia mengikuti rukyat lokal sesuai dengan mazhab Imam Syafi’i.

“Yang merayakan besok tetap sah karena mengikuti rukyat lokal. Sementara kami mengikuti rukyat global yang juga digunakan di sekitar 60 negara,” katanya.

Selain itu, ia menyebut kelompoknya juga telah lebih dahulu memulai ibadah puasa Ramadan, yakni pada 18 Februari 2026, mengikuti negara-negara lain yang telah lebih dulu menetapkannya.

Indramayu

Ratusan jemaah Asy-Syahadatain di Desa Tinumpuk, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, telah melaksanakan Salat Idul Fitri 1447 Hijriah pada Kamis pagi (19/3).

Perayaan ini berlangsung lebih awal dibandingkan ketetapan pemerintah yang hingga kini belum menentukan 1 Syawal.

Pantauan kumparan di lokasi menunjukkan jemaah mulai memadati Masjid Nurul Huda sejak pukul 05.30 WIB.

Sebelum menggelar Salat Id, para jemaah tampak khusyuk melaksanakan rangkaian ibadah sunah.

“Jemaah terlebih dahulu melaksanakan salat sunah dua rakaat dan salat duha sebelum memulai Salat Idul Fitri secara berjamaah,” ungkap pimpinan Asy-Syahadatain Desa Tinumpuk, Habib Zaenal Abidin, kepada kumparan usai salat Id.

Habib Zaenal menjelaskan secara rinci bahwa penentuan 1 Syawal bagi jemaah Asy-Syahadatain didasarkan pada perhitungan hisab yang spesifik.

Menurutnya, tahun 2026 ini masuk dalam siklus hitungan yang disebut Tahun Dal.

“Perhitungan kami jemaah Syahadatain adalah menggunakan hisab. Adapun tahun 2026 ini adalah Tahun Dal, di mana Tahun Dal itu jatuhnya di hari Rabu Kliwon, awal bulan Ramadan secara sulasiah,” jelas Habib Zaenal.

Lebih lanjut, ia memaparkan adanya perbedaan teknis yang membuat mereka memulai puasa lebih cepat.

“Kami menggunakan Isneniah, maka ketika di hari Rabu Kliwon, kami memulainya sebelum hari Rabu Kliwon itu. Maka kami memulai bulan suci Ramadan di hari Selasa (17/2),” tambahnya.

Atas dasar itulah, Habib Zaenal mengatakan, jemaah meyakini bahwa masa puasa telah genap dilakukan.

“Tepat di hari ini adalah sudah genap 30 hari kemarin kita melaksanakan puasa, maka hari ini kami tentukan adalah 1 Syawal di tahun 2026 ini,” tegasnya.

Pelaksanaan Salat Id hari ini tidak hanya terpusat di satu titik. Habib Zaenal menyebutkan bahwa gerakan serupa juga dilakukan oleh jemaah di wilayah tetangga.

“Selain di Desa Tinumpuk ini, informasinya di Panguragan Cirebon juga sama dan juga di Segeran juga sama. Dan sebagian besar jemaah Syahadatain melaksanakan Salat Idul Fitri di hari ini,” tuturnya.

Meski demikian, ia tidak menampik adanya perbedaan internal di kalangan jemaah terkait waktu pelaksanaan.

“Cuma ada juga sebagian yang mungkin besok (melaksanakan Salat Id),” imbuhnya.

Mengenai jumlah massa yang hadir di Masjid Nurul Huda, Habib Zaenal memperkirakan ada hampir seribu orang yang terlibat.

“Tadi sekitar, kita biasa melaksanakan di Desa Tinumpuk ini sekitar 800 sampai 900 jemaah,” pungkasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kakorlantas Sebut Arus Mudik Terkendali Usai "One Way" Nasional Diterapkan
• 14 jam lalukompas.com
thumb
Prabowo Tegaskan Kasus Penyiraman Air Keras Aktivis Harus Diusut hingga Dalang!
• 16 menit lalurctiplus.com
thumb
Pemkot Makassar dan IKA Unhas Salurkan 300 Paket Sembako untuk Petugas Lapangan
• 22 jam laluharianfajar
thumb
Momen Prabowo Bertemu Megawati di Istana Merdeka 2 Jam Lebih
• 4 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Komnas HAM Akan Periksa Panglima TNI Terkait Dugaan Keterlibatan Anggota dalam Kasus Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS
• 41 menit lalupantau.com
Berhasil disimpan.