Di tengah hiruk-pikuk Pasar Bunga Rawa Belong, Jakarta Barat, yang tak pernah benar-benar tidur, Dani (27) berdiri di antara warna-warni bunga yang ia susun rapi setiap hari.
Tangannya lincah merapikan ikatan aster, mawar, hingga sedap malam, bunga-bunga yang bukan sekadar dagangan, tapi juga harapan yang ia kirimkan untuk keluarganya di kampung.
Dani bukan asli Jakarta. Ia merantau dari Cikalong Wetan, Bandung, mengikuti jejak banyak pedagang bunga lain di pasar ini.
“Saya dari Cikalong Wetan, Bandung, ke Jakarta sejak 2017, setelah lulus sekolah,” ujarnya saat ditemui kumparan di lapaknya, Kamis (19/3).
Dani bersama rekan-rekannya berjualan selama 24 jam di pasar, tak kenal waktu.
“Di sini 24 jam, pedagang ada yang dari Bandung, Sukabumi, Malang, sampai Purwakarta,” katanya.
Bunga-bunga yang dijualnya sebagian besar dipasok dari Bandung.
Dari sana, berbagai jenis bunga segar dikirim setiap hari untuk memenuhi permintaan pasar ibu kota yang tak pernah surut.
Menjelang Lebaran, denyut pasar mulai terasa lebih cepat. Dani menyebut, pembeli mulai memadati kios sejak pagi, Kamis (19/3) hingga Sabtu (21/3).
“Mau Lebaran gitu pasti lebih ramai. Bahkan pas hari Lebaran juga masih ada yang buka, walau cuma setengah kios. Siangnya biasanya tetap ramai,” ujarnya.
Di lapaknya, Aster jadi primadona. Selain warnanya yang beragam, harganya juga relatif terjangkau.
“Sekarang Rp 25 ribu per ikat isi 10 tangkai. Normalnya Rp 20 ribu,” kata Dani.
Dari satu ikat, ia bisa meraup keuntungan sekitar Rp 10 ribu.
Tak hanya aster, mawar dan sedap malam juga banyak diburu. Harga mawar kini menyentuh Rp 80 ribu per ikat dari harga normal Rp 50 ribuan.
Sementara sedap malam melonjak tajam hingga Rp 150 ribu, padahal biasanya hanya Rp 50 ribu.
“Sedap malam itu identik, harum, jadi banyak dicari,” ucapnya.
Kenaikan harga ini, menurut Dani, akan terus terjadi hingga H+3 Lebaran sebelum kembali normal.
Meski begitu, Dani mengaku penjualan tahun ini sedikit menurun dibanding tahun lalu.
“Sekitar 15 persen turun. Mungkin kemarin barengan sama Imlek, jadi orang-orang sudah banyak keluar uang,” katanya.
Dalam sehari, kata Dani, omzetnya bisa mencapai Rp 15 juta, bahkan bisa tembus Rp 20 juta saat Lebaran.
Dani telah berkeluarga. Istri dan anaknya tinggal di Bandung. Rutinitasnya di Jakarta membuat ia hanya bisa pulang di momen tertentu.
“Paling nanti malam takbiran pulang. Libur semingguan, refreshing, baru balik lagi ke sini,” katanya.
Bagi Dani, bunga bukan sekadar komoditas. Di setiap ikat yang ia jual, ada harapan untuk terus bertahan di ibu kota, sekaligus rindu yang selalu ingin segera dituntaskan, yakni pulang ke rumah.





