Teleskop Hubble Baru Saja Mengambil Gambar Komet Antarbintang Langka Yang Paling Jelas Yang Pernah Ada

mediaindonesia.com
8 jam lalu
Cover Berita

SEBUAH tim astronom telah mengambil gambar paling tajam yang pernah ada dari komet antarbintang tak terduga 3I/ATLAS, menggunakan penglihatan tajam Teleskop Luar Angkasa Hubble milik NASA. 

Hubble adalah salah satu dari banyak misi di seluruh armada teleskop luar angkasa NASA yang dijadwalkan untuk mengamati komet ini, bersama-sama memberikan lebih banyak informasi tentang ukuran dan sifat fisiknya. 

Meskipun komet tersebut tidak menimbulkan ancaman bagi Bumi, teleskop luar angkasa NASA membantu mendukung misi berkelanjutan badan tersebut untuk menemukan, melacak, dan lebih memahami objek-objek dekat Bumi.

Baca juga : Komet Antarbintang 3I/ATLAS Pancarkan Semburan Es dan Debu Saat Dekati Matahari

Pengamatan Hubble memungkinkan para astronom untuk memperkirakan ukuran inti es padat komet dengan lebih akurat. Batas atas diameter inti adalah 3,5 mil (5,6 kilometer), meskipun ukurannya bisa sekecil 1.000 kaki (320 meter), menurut laporan para peneliti. 

Meskipun citra Hubble memberikan batasan yang lebih ketat pada ukuran inti dibandingkan dengan perkiraan berbasis darat sebelumnya. Inti padat komet saat ini tidak dapat dilihat secara langsung, bahkan oleh Hubble. 

Pengamatan dari misi NASA lainnya termasuk Teleskop Luar Angkasa James Webb, TESS (Transiting Exoplanet Survey Satellite), dan Observatorium Neil Gehrels Swift, serta kemitraan NASA dengan Observatorium WM Keck, akan membantu lebih menyempurnakan pengetahuan kita tentang komet, termasuk susunan kimianya.

Baca juga : Komet Antarbintang 3I/ATLAS Simpan Air dan Molekul Organik, Terungkap lewat Teleskop Korea–AS

Hubble juga menangkap gumpalan debu yang dikeluarkan dari sisi komet yang dihangatkan Matahari. Sedikit jejak ekor debu yang mengalir menjauh dari inti komet. 

Data Hubble menghasilkan laju kehilangan debu yang konsisten dengan komet yang pertama kali terdeteksi sekitar 300 juta mil dari Matahari. Perilaku ini sangat mirip dengan ciri khas komet yang sebelumnya terlihat menuju Matahari dan berasal dari dalam tata surya kita.

Perbedaan besarnya adalah pengunjung antarbintang ini berasal dari sistem tata surya lain di tempat lain di galaksi Bima Sakti kita.

Komet 3I/ATLAS melaju melalui tata surya kita dengan kecepatan luar biasa 130.000 mil (209.000 kilometer) per jam, kecepatan tertinggi yang pernah tercatat untuk pengunjung tata surya. Kecepatan yang menakjubkan ini merupakan bukti bahwa komet tersebut telah melayang di ruang antarbintang selama miliaran tahun. 

Efek lontaran gravitasi dari bintang dan nebula yang tak terhitung jumlahnya yang dilewati komet menambah momentum, meningkatkan kecepatannya. Semakin lama 3I/ATLAS berada di ruang angkasa, semakin tinggi kecepatannya.

Tidak ada yang tahu dari mana komet itu berasal. Ini seperti melihat peluru senapan selama seperseribu detik. Anda tidak dapat memproyeksikan kembali hal itu dengan akurat untuk mengetahui dari mana ia memulai perjalanannya," kata David Jewitt dari Universitas California, Los Angeles, pemimpin tim sains untuk pengamatan Hubble.

Bukti Baru Adanya Populasi pada Relik Luar Angkasa yang Mengembara

"Wisatawan antarbintang terbaru ini adalah salah satu dari populasi objek yang sebelumnya tidak terdeteksi yang tiba-tiba muncul dan akan secara bertahap terungkap," kata Jewitt. "Hal ini sekarang dimungkinkan karena kita memiliki kemampuan survei langit yang canggih yang sebelumnya tidak kita miliki. Kita telah melewati sebuah titik penting."

Komet ini ditemukan oleh Asteroid Terrestrial-impact Last Alert System (ATLAS) yang didanai NASA pada tanggal 1 Juli 2025, pada jarak 420 juta mil dari Matahari. ATLAS adalah sistem peringatan dini dampak asteroid yang dikembangkan oleh Universitas Hawai'i.

Sementara itu, misi NASA lainnya akan memberikan wawasan baru tentang penyusup antarbintang ketiga ini, membantu menyempurnakan pemahaman kita tentang objek-objek ini untuk kepentingan semua. 

3I/ATLAS diperkirakan akan tetap terlihat oleh teleskop berbasis darat hingga September, setelah itu akan melewati terlalu dekat dengan Matahari untuk diamati, dan diperkirakan akan muncul kembali di sisi lain Matahari pada awal Desember. (Science Daily/Z-2)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pengurus Pesantren Al Falah Ploso Beberkan Hasil Lajnah Falakiyah Berlebaran Jumat
• 13 jam lalutvonenews.com
thumb
Pengamat Dorong KPK Mengusut Tuntas Potensi Kerugian Negara Terkait Impor Pikap dari India
• 16 jam lalujpnn.com
thumb
Eks Kepala BAIS Bahas Penyiraman Air Keras pada Aktivis, Singgung Rantai Komando
• 21 jam lalukompas.tv
thumb
Kebakaran di Utan Jati Jakbar, Api Merambat hingga Perpustakaan SMA 84
• 21 jam laluokezone.com
thumb
Jelang Lebaran, Harga Emas Antam Melemah Tajam, Buyback Ikut Tertekan
• 10 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.