Keterbatasan kondisi finansial, jadwal kerja, atau tanggung jawab tertentu sering kali mengharuskan mereka melewatkan Hari Raya Lebaran di perantauan. Di tengah keriuhan media sosial yang mengidentikkan mudik sebagai simbol kebahagiaan, perasaan tidak nyaman, cemas, atau overthinking kerap muncul menyapa mereka yang tetap tinggal.
Dosen Fakultas Psikologi (Fpsi) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Riza Noviana Khoirunnisa, menjelaskan bahwa perasaan tersebut adalah hal yang sangat manusiawi. Menurutnya, rasa cemas tidak hanya dipengaruhi oleh situasi jauh dari rumah atau keluarga, tetapi juga oleh cara seseorang memaknai situasi tersebut.
Agar momen Idulfitri tetap terasa hangat meski jauh dari keluarga, ia membagikan beberapa perspektif yang menenangkan. 1. Kenali dan Tata Ulang Pikiran Negatif Langkah awal untuk berdamai dengan keadaan adalah menyadari kemunculan berbagai kekhawatiran dan overthinking, seperti takut dianggap gagal, khawatir dituduh tidak peduli dengan keluarga, atau merasa kehilangan momen kebersamaan.
Riza menyarankan penggunaan pendekatan Cognitive Behavioral Therapy (CBT) sederhana, yaitu dengan menguji apakah kekhawatiran yang muncul benar-benar nyata atau sekadar asumsi yang berlebihan.
"Dengan melihat situasi secara objektif, rasa khawatir akan perlahan mereda. Kita bisa melihat bahwa tidak mudik bukanlah sebuah kegagalan, melainkan keputusan yang diambil karena situasi tertentu," ujarnya dikutip dari laman Unesa, Kamis, 18 Maret 2026. 2. Kurangi atau Jeda Media Sosial Paparan konten mudik dan kebersamaan keluarga orang lain di media sosial sering kali menjadi pemicu rasa minder atau fear of missing out (FOMO). Menjeda sejenak konsumsi media sosial bisa menjadi pilihan bijak agar kita bisa kembali fokus pada diri sendiri.
Riza menekankan pentingnya penerimaan diri (self-acceptance), yaitu kemampuan menghargai kondisi saat ini tanpa syarat.
"Ketika kita mampu menerima situasi dengan lapang dada, hati akan menjadi lebih tenang dan tidak mudah merasa 'kurang' dibandingkan orang lain," bebernya. 3. Maknai Kepulangan secara Lebih Luas Idulfitri pada esensinya adalah tentang kemenangan dan kembalinya fitrah, bukan sekadar perjalanan fisik lintas kota. Silaturahmi tetap bisa terjalin erat melalui teknologi tanpa mengurangi rasa hormat dan kehangatan.
Selain itu, momen sepi di perantauan sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk refleksi diri, evaluasi pencapaian, dan membangun kembali energi positif untuk melanjutkan perjuangan setelah Lebaran. 4. Ingat Kembali Tujuan: Berjarak untuk Masa Depan Poin yang tidak kalah penting adalah kembali fokus pada tujuan utama berada di perantauan. Ingatlah bahwa keberadaan jauh dari rumah dan keluarga, meski harus melewatkan momen mudik, adalah bagian dari perjuangan besar untuk masa depan dan kebanggaan keluarga.
Menyadari bahwa "absen" sementara ini adalah investasi untuk kesuksesan di masa depan akan memberikan kekuatan mental yang luar biasa. Fokus pada tujuan besar ini akan mengubah rasa sepi menjadi rasa bangga atas ketangguhan dan perjuangan untuk mencapai cita-cita yang diharapkan.
Selain keempat langkah tersebut, Riza juga mengingatkan pentingnya melatih mindfulness atau kesadaran penuh agar pikiran tidak terjebak dalam kecemasan tentang masa lalu atau masa depan. Jika muncul rasa tidak nyaman saat berinteraksi dengan orang lain, terutama terkait pertanyaan pribadi tentang mudik, hal itu adalah wajar.
"Membangun kepercayaan diri yang sehat dan sesekali bersikap asertif dapat membantu kita menjaga batasan tanpa perlu menyakiti perasaan orang lain," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(CEU)





