Penulis: Fityan
TVRiNews - Teheran
Eskalasi Total: Menhan Iran Tewas Tereliminasip
Arus konflik di Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah Israel mengonfirmasi keberhasilan operasi presisi yang menewaskan Menteri Intelijen Iran, Esmaeil Khatib.
Serangan udara yang dilancarkan di jantung kota Teheran ini terjadi hanya berselang 24 jam setelah tewasnya Sekretaris Dewan Keamanan Nasional, Ali Larijani, menandakan keruntuhan sistematis pada struktur komando tertinggi Republik Islam tersebut.
Militer Israel (IDF) dalam pernyataan resminya menyebut eliminasi Khatib sebagai langkah krusial dalam melumpuhkan jaringan spionase dan operasi klandestin Iran di seluruh dunia.
"Rantai komando rezim ini sedang diputus satu per satu. Operasi tidak akan berhenti sampai ancaman sepenuhnya sirna," tegas juru bicara militer Israel.
Bunker Buster AS Hantam Selat Hormuz
Di saat yang sama, Pentagon mengonfirmasi penggunaan amunisi penghancur bunker (bunker busters) seberat 5.000 pon di sepanjang garis pantai Selat Hormuz.
Serangan udara Amerika Serikat ini menargetkan situs-situs rudal bawah tanah yang dianggap mengancam jalur pelayaran energi global.
Penggunaan bom penetrasi dalam (deep penetrator) ini mengirimkan sinyal destruktif bagi fasilitas militer Iran yang sebelumnya dianggap tidak tertembus.
Langkah ini diambil setelah Teheran secara efektif menutup Selat Hormuz, yang memicu lonjakan harga minyak dunia hingga menembus angka $110 per barel.
Dampak Global dan Ancaman Balasan
Situasi di lapangan kini berubah menjadi perang terbuka yang melibatkan serangan fasilitas energi secara timbal balik.
Berikut eskalasi yang terjadi saat ini:
- Lumpuhnya Jalur Minyak: Penutupan Selat Hormuz menyebabkan gangguan pada 20% pasokan minyak dunia.
- Serangan Balasan Iran: Teheran membalas dengan meluncurkan gelombang drone dan rudal ke wilayah Israel serta fasilitas gas di Qatar dan UEA.
- Krisis Kemanusiaan: Pemerintah Iran melaporkan ribuan korban jiwa akibat serangan udara yang terus berlanjut sejak akhir Februari.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, memperingatkan bahwa serangan terhadap infrastruktur energi akan memicu "konsekuensi tak terkendali" yang akan menyeret seluruh dunia ke dalam krisis yang lebih dalam.
"Dunia sedang menyaksikan pergeseran peta kekuatan di Timur Tengah. Pertanyaannya bukan lagi kapan perang berakhir, melainkan apa yang tersisa setelah debu pertempuran ini mereda." dikutip NBC News
Editor: Redaksi TVRINews





