Kriteria Hilal dalam Penentuan Awal Hijriah, Lebaran 2026

bisnis.com
9 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA - Penentuan awal bulan kamariah di kawasan Asia Tenggara terus mengalami penguatan seiring perkembangan ilmu falak dan astronomi modern.

Salah satu tonggaknya adalah kesepakatan negara-negara anggota MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) yang menjadi rujukan bersama dalam menetapkan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah secara lebih terukur dan dapat dipertanggungjawabkan.

Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Arsad Hidayat, menjelaskan, kerja sama regional melalui forum MABIMS telah berlangsung sejak lama sebagai upaya menyatukan pendekatan penentuan awal bulan hijriah di kawasan.

“Sejak 1992, negara-negara anggota MABIMS menggunakan kriteria imkanur rukyat dengan parameter 2–3–8 sebagai acuan dalam menilai visibilitas hilal,” ujarnya dilansir dari laman kemenag.

Ia menerangkan, parameter 2–3–8 mencakup tinggi hilal minimal 2 derajat, elongasi 3 derajat, serta umur bulan minimal 8 jam setelah ijtimak. Kriteria ini menjadi dasar dalam menilai validitas laporan rukyatul hilal yang disampaikan dari berbagai titik pengamatan di kawasan Asia Tenggara.

Namun demikian, Arsad menuturkan bahwa perkembangan data astronomi menunjukkan adanya keterbatasan pada kriteria tersebut. Pada posisi hilal yang masih rendah, dengan elongasi kecil, sabit bulan sangat tipis sehingga sulit diamati secara kasat mata. “Pada ketinggian sekitar 2 derajat dengan elongasi 3 derajat, hilal masih sangat tipis dan sering tertutup cahaya syafak, sehingga peluang terlihatnya sangat kecil,” jelasnya.

Baca Juga

  • Ini 177 Lokasi Pemantauan Hilal Lebaran 2026 Hari Ini, 19 Maret
  • Hasil Sidang Isbat Awal Puasa 2026, Hilal Tidak Terlihat 1 Ramadan Diprediksi Jatuh 19 Februari
  • Hilal 1 Ramadan 1447 H Tak Terlihat di Titik Pantau Kanwil Kemenag DKI Jakarta

Kondisi tersebut, lanjutnya, mendorong para pakar falak dan astronom dari negara-negara anggota MABIMS untuk melakukan kajian ulang terhadap kriteria visibilitas hilal. Proses ini berlangsung melalui forum ilmiah, musyawarah rukyat, serta penelitian berbasis data pengamatan global yang terus berkembang.

“Kesepakatan mengenai kriteria baru ini tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi melalui proses kajian ilmiah yang panjang dan melibatkan para pakar astronomi serta ahli falak dari negara-negara anggota MABIMS,” ujarnya.

Hasil kajian tersebut kemudian mengerucut pada kriteria baru yang dinilai lebih realistis secara astronomis, yakni tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat. Parameter ini didasarkan pada kompilasi data rukyat global yang menunjukkan bahwa ketebalan sabit bulan dan posisi hilal dari ufuk menjadi faktor utama dalam menentukan kemungkinan terlihatnya hilal.

Arsad menambahkan, kesepakatan kriteria baru tersebut kemudian diadopsi oleh negara-negara anggota MABIMS sebagai acuan bersama dalam penentuan awal bulan hijriah. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat keselarasan penetapan kalender hijriah di kawasan Asia Tenggara.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jadwal Imsak dan Buka Puasa 19 Maret 2026 di Jakarta dan Sekitarnya
• 16 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Kementan Siapkan Mitigasi Kekeringan di Sektor Perkebunan Saat Kemarau
• 22 jam laluidxchannel.com
thumb
Terkuak! Pangkat-Asal Matra Terduga Prajurit TNI Pelaku Penyiraman Air Keras Andrie Yunus
• 20 jam lalukompas.tv
thumb
Urai Macet di Gilimanuk, Pemerintah Kerahkan Kapal Besar hingga Percepat Waktu Sandar
• 20 jam lalubisnis.com
thumb
Megawati dan Prabowo Bertemu Lebih 2 Jam di Istana, Bahas Apa?
• 51 menit lalujpnn.com
Berhasil disimpan.