Perebutan pasar di industri perhotelan semakin ketat. Persaingan industri perhotelan kini tidak hanya berasal dari segmen pasar. Preferensi pariwisata dan keterbukaan informasi yang berbasis teknologi akal imitasi (AI) menyebabkan konsumen dengan mudah melihat performa hotel untuk menentukan pilihan menginap.
Colliers Indonesia memprediksi, kinerja pasar perhotelan pada triwulan I (Januari-Maret) 2026 masih menjadi periode yang cukup menantang. Aktivitas bisnis kemungkinan belum sepenuhnya kembali normal. Sementara itu, segmen pasar pemerintah diperkirakan masih tidak pasti dan terbatas sepanjang 2026, meskipun terdapat tanda-tanda perbaikan secara bertahap.
Di tengah pasar yang belum pulih, kompetisi perhotelan kian ditentukan oleh faktor kualitatif. Faktor itu antara lain layanan yang lebih personal, penawaran berorientasi kesehatan (wellness), konsep ramah lingkungan, serta kuatnya layanan berbasis teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI).
Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran, mengungkapkan, kompetisi antarindustri hotel bakal semakin ketat. Teknologi telah memudahkan konsumen untuk melihat ulasan layanan dan tarif hotel, perkembangan paket dan informasi terkait hotel guna memastikan pilihan menginap.
”Hotel menghadapi tantangan operasional di tengah perebutan pasar yang semakin tinggi. Tantangan teknologi itu harus dijawab pelaku usaha perhotelan dengan pendekatan konsumen yang lebih baik dan kualitas tidak bisa asal-asalan. Dengan keterbukaan informasi, upaya menjaga kualitas menjadi nomor satu,” katanya, saat dihubungi, Selasa (17/3/2026).
Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto, berpendapat, teknologi AI semakin krusial memengaruhi cara hotel ditemukan dan dipersepsikan. Hal itu mencakup penggabungan konten pemasaran dan ulasan tamu, konsistensi dalam narasi, pelaksanaan operasional, dan kualitas layanan.
“Hotel yang mampu menyeimbangkan penerapan teknologi tinggi dengan pengalaman layanan yang hangat dan berpusat pada manusia akan berada pada posisi yang lebih baik untuk melindungi nilai merek, menjaga ketahanan harga, serta membedakan diri di pasar yang semakin kompetitif dan terbatas dari sisi permintaan,” ujar Ferry, beberapa waktu lalu.
Menurut Ferry, periode bulan puasa pada Februari–Maret ditandai menurunnya perjalanan bisnis, khususnya dari segmen pemerintah. Industri perhotelan tetap fokus pada efisiensi operasional dan efektivitas manajemen untuk menghadapi tantangan pasar. Meski demikian, perhotelan di Jakarta mulai memasuki fase reposisi, yakni adaptasi teknologi, serta pendekatan kolaboratif dipandang esensial dalam menghadapi berbagai tantangan struktural.
Penjadwalan lebih banyak acara luring (offline), perluasan pilihan lokasi, serta kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk penyelenggara acara, maskapai penerbangan, diprediksi semakin berperan penting dalam memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan perolehan pendapatan industri perhotelan.
“Diversifikasi pasar diperkirakan menjadi strategi yang layak untuk diterapkan,” ujar Ferry.
Menurut Maulana, adaptasi pasar tidak mudah karena kontribusi aktivitas pemerintah untuk keterisian hotel masih sangat besar, yakni 60-70 persen secara nasional. Setiap daerah memiliki karakter berbeda-beda yang menentukan ketergantungan terhadap segmen pemerintah dalam okupansi hotel. Untuk daerah yang tidak memiliki sumber daya alam, dan korporasi multinasional, maka aktivitas pemerintah masih menjadi penopang.
Tantangan di tahun 2026 akan semakin besar dengan adanya ketegangan geopolitik global yang dapat berimbas pada kondisi ekonomi dan daya beli, terutama jika mendorong kenaikan harga bahan bakar minyak dan bahan baku lainnya. Hal itu dapat memengaruhi pariwisata dan pasar.
Sebelumnya, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengemukakan, tahun 2025 menjadi tahun yang cukup berat bagi pelaku usaha perhotelan, antara lain dipengaruhi perubahan pola belanja pemerintah dan masyarakat pada awal tahun. Tingkat rata-rata okupansi lebih rendah 3,27 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian dan industri akomodasi yang penuh dinamika, lanjutnya, penting bagi semua pemangku kepentingan untuk tidak hanya bertahan, namun memahami dan mengantisipasi perubahan pasar melalui pengembangan model bisnis yang adaptif, fleksibel, dan terbuka terhadap inovasi.
Berdasarkan Indonesia Tourism Outlook 2025 yang dirilis Kementerian Pariwisata, wisatawan cenderung semakin peduli terhadap lingkungan, menjadikan kesehatan dan kebugaran sebagai bagian dari tujuan berwisata, serta mencari pengalaman yang bermakna dengan layanan yang nyaman dan sesuai kebutuhan. Pilihan wisatawan terhadap akomodasi pun semakin beragam.
Irene Janti, Country Director Brand & Marketing The Ascott Limited – Indonesia, berpendapat, seiring meluasnya kota dan berkembangnya komunitas, kebutuhan ruang hotel tidak hanya untuk mendukung kegiatan bisnis dan acara berskala besar, tetapi juga menghadirkan keseimbangan antara produktivitas, kesehatan, dan koneksi sosial semakin meningkat.
“Kami meyakini pertumbuhan dinamis Indonesia, khususnya di kawasan urban yang terus berkembang,” ujarnya, dalam keterangan pers, saat pembukaan Harris Hotel & Convention Center Serpong, beberapa waktu lalu.
Harris Hotel &Convention Serpong menjadi hotel kelima dalam portofolio bisnis hotel PT Summarecon Agung Tbk. Harris Hotel &Convention Center Serpong terhubung dengan Summarecon Mall Serpong. Hotel itu sekaligus menambah fasilitas MICE (Meeting, Incentives, Conventions and Exhibitions) di kawasan Summarecon Serpong.
"Konsep Lifestyle Ecosystem Experience akan menciptakan konektivitas seamless antara mal dan hotel, sehingga kegiatan retail, lifestyle hingga staycation dapat dilakukan di satu tempat, tanpa harus berpindah," ujar Soegianto Nagaria, Direktur PT Summarecon Agung Tbk.





