Muncul Makhluk Mungil Pembawa Kiamat, Ilmuwan Ungkap Faktanya

cnbcindonesia.com
15 jam lalu
Cover Berita
Foto: Ilustrasi Hari Kiamat. (Dok. Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Penyebaran jamur Aspergillus kian meluas. Ilmuwan memperingatkan kondisi ini berbahaya karena kemunculan makhluk mungil tersebut dipicu 'kiamat' perubahan iklim akibat pemanasan global.

Jamur Aspergillus merupakan jenis kapang yang dapat menyebabkan infeksi pada paru-paru serta gangguan sistem pernapasan. Spora jamurnya bisa masuk ke tubuh manusia melalui udara dan menimbulkan penyakit aspergilosis.

Infeksi dari jamur dapat berisiko pada mereka dengan sistem imun lemah, penderita asma atau fibrosis kistik.


Pilihan Redaksi
  • Kiamat HP Muncul di China, Penggantinya Sudah Dijual di Mana-mana
  • Manusia Rp 2.600 Triliun Bawa Petaka Baru, Profesi Ini Siap-siap Punah

Jamur itu bisa tumbuh subur pada suhu tinggi, membuatnya mampu bertahan dalam tubuh manusia dengan suhu 37 derajat Celcius. Gaya hidup alaminya menurut Elaine Bignell dari University of Exeter membuatnya bisa masuk ke paru-paru manusia.

Sementara itu, studi dari Manchester University mengungkapkan jamur telah menyebar luas ke wilayah Eropa hingga Asia. Peneliti Norman van Rhijn mengatakan dunia berada dalam titik kritis untuk menghadapi peningkatan patogen jamur dan infeksi jamur bisa menyebabkan kematian jutaan orang secara global.

"Kita berbicara tentang ratusan ribu nyawa, dan pergeseran benua dalam distribusi spesies. Dalam 50 tahun ke depan, tempat tumbuh berbagai spesies dan jenis infeksi yang kita hadapi akan berubah total," kata Rhijn, dikutip dari Financial Times, Kamis (19/3/2026).

The Independent melaporkan Aspergillus bisa meluas hingga 77% wilayah lagi pada 2100. Penyebabnya karena pemanasan global akibat penggunaan bahan bakar fosil.

Setidaknya fenomena itu akan membuat sembilan juta orang di Eropa menghadapi risiko infeksi mematikan. Sementara di Asia, penyebaran jamur mencapai wilayah utara seperti China bagian utara, Rusia, hingga Skandinavia dan Alaska juga diprediksi meningkat signifikan.

Tak hanya itu, Aspergillus flavus juga berisiko menyebar ke 16% wilayah baru. Spesies ini tumbuh di tanaman pangan. Penyebarannya jadi ancaman serius bagi ketahanan pangan dan ekosistem sekitarnya secara global.

Hal ini kembali mengingatkan kita tentang dampak yang meluas dari perubahan iklim. Pemerintah di berbagai negara perlu segera mengambil tindakan konkrit sebelum 'kiamat' perubahan iklim merusak kehidupan generasi mendatang.


(fab/fab) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video: Operasi Otonom Jadi Era Baru Industri Pulp & Paper

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Daftar 50 Lokasi Salat Idulfitri Muhammadiyah Semarang 20 Maret 2026, Cek di Sini!
• 4 jam lalurctiplus.com
thumb
Pemerintah Dorong Pembelajaran Daring Mulai April 2026 demi Efisiensi Energi
• 21 jam lalueranasional.com
thumb
Mobil Tua, Pajak Murah dan Irit yang Layak Dibeli di 2026
• 6 jam lalumedcom.id
thumb
Babak 16 Besar Orleans Masters 2026: Ginting Siap Hadapi Rival Klasik Chou Tien Chen
• 52 menit laluviva.co.id
thumb
Auto Happy! Penyaluran Tunjangan Guru Cair Tiap Bulan Mulai 2026
• 8 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.