Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Lestari Moerdijat (Rerie) menilai kebinekaan harus menjadi kekuatan dalam membangun bangsa di tengah momentum perayaan hari besar keagamaan yang berdekatan. Momentum dua perayaan hari besar keagamaan yang hampir bersamaan merupakan berkah, sekaligus bukti nyata bahwa Indonesia hidup rukun dalam keberagaman.
"Indonesia dibangun di atas fondasi keberagaman. Menghormati sesama adalah kewajiban, bukan pilihan. Kerukunan antarumat beragama harus terus kita pupuk," ujar Rerie dalam keterangannya, Rabu (18/3/2026).
Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 bagi umat Hindu jatuh bertepatan dengan malam takbiran (19/3) bagi umat Islam yang diperkirakan merayakan Idul Fitri 1447 Hijriah pada 20 Maret 2026.
Rerie menekankan menghormati perbedaan adalah kewajiban setiap warga negara. Menurut Rerie yang juga anggota Komisi X DPR RI itu, kebinekaan harus menjadi kekuatan untuk membangun bangsa, bukan sebaliknya.
Survei yang dilakukan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama (Kemenag) bekerja sama dengan Alvara Strategic Research pada 2025 mengungkapkan bahwa Generasi Z mencatat indeks toleransi tertinggi dengan skor 80,03 dalam indikator sikap tidak membubarkan kegiatan keagamaan lain. Angka tersebut melampaui Milenial (78,77), Generasi X (78,97), dan Baby Boomers (78,81).
Catatan tersebut menurut Rerie harus menjadi pemicu bagi setiap anak bangsa untuk terus melestarikan nilai-nilai toleransi yang dimiliki.
"Capaian ini harus dirawat. Jangan sampai kita terpecah belah oleh perbedaan. Justru perbedaan harus kita satukan untuk kemajuan bangsa," kata Rerie.
Pada kesempatan itu, Rerie mengucapkan selamat merayakan Hari Raya Nyepi dan Hari Raya Idul Fitri bagi masyarakat Indonesia yang merayakannya.
Rerie berharap dengan nilai-nilai toleransi yang kuat dari setiap anak bangsa, Indonesia mampu menjawab berbagai tantangan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di masa kini dan mendatang.
(anl/ega)





