Penulis: Nirmala Hanifah
TVRINews, Ciamis
Panjalu merupakan salah satu wilayah bersejarah di tanah Sunda memiliki akar budaya dan pemerintahan sendiri. Di mana, dulunya wilayah tersebut merupakan sebuah kerajaan yang lahir dari perpaduan dua keturunan besar, yaitu dari Gunung Sawal dan Gunung Bitung.
Kuncen Panjalu, Ono menuturkan jika sejarah Panjalu menampilkan perpaduan budaya lokal dengan perjalanan spiritual yang kemudian membawa masuknya ajaran Islam ke daerah ini.
“Kerajaan Panjalu dimulai dari Rangga Gumilang, keturunan Gunung Sawal, yang menikah dengan Eyang Permana Dewi, keturunan Gunung Bitung. Dari sinilah kerajaan ini dikenal dengan nama Panjalu, yang menurut bahasa Sunda terdiri dari kata Pang dan Jalu,” ungkapnya kepada tvrinews.com
Ia menerangkan, jika Pang berarti papan di atas atau istri di atas, sedangkan Jalu berarti laki-laki atau yang berada di bawah. Di mana, nama ini menggambarkan struktur sosial dan simbolik kerajaan, di mana sang ratu menempati posisi sentral dalam pemerintahan.
“Kenapa disebut Panjalu? Karena yang menjadi ratunya adalah istri. Panjalu itu bahasa Sunda asli ya. Ada dua makna yaitu Pang dan Jalu. Pang itu papan di atas, istri di atas. Jalu di bawah,” jelasnya
Setelah masa kepemimpinan Eyang Permana Dewi, tahta Panjalu diteruskan kepada Eyang Lembu Sampulur Satu, yang wafat dan dimakamkan di Gunung Tilu, Payung Agung.
Selanjutnya, kerajaan diteruskan kepada Eyang Cakra Dewa, yang menjadi raja paling lama memerintah Panjalu. Di bawah kepemimpinan Eyang Cakra Dewa, kerajaan mencapai masa keemasan, subur, makmur, dan damai.
“Eyang Cakra Dewa paling lama jadi Raja Panjalu. Dan waktu beliau menjadi Raja Panjalu, Panjalu itu menjadi subur makmur gemah ripah loh jinawi. Reak-ketan reak-keton bro di juru bro di panto ya ngalayah di tengah imah itu bahasa Sunda ya. Nah sepi paling towong rampog,” kata dia
Eyang Cakra Dewa memiliki enam anak yakni Eyang Lembu Sampulur Dua, Eyang Boros Ngora, Eyang Panji Barani, Amantrangkan Sarna Arta Wayang, Pundut Agung, dan Anggarunti.
“Setelah mempertimbangkan musyawarah, Eyang Cakra Dewa menyerahkan tahta kepada anak pertama, Eyang Lembu Sampulur Dua,” ungkapnya
Eyang Lembu Sampulur Dua tidak lama menjadi Raja Panjalu dan kemudian pindah ke Tatar Sumedang. Ia menurunkan keturunan di Sumedang dan wafat dimakamkan di Gunung Tampomas.
Posisi raja kemudian dialihkan kepada anak kedua, Eyang Boros Ngora. Sebelum resmi menjadi raja, Eyang Boros Ngora diminta oleh ayahnya untuk menuntut ilmu sejati, yaitu ilmu yang mampu menyelamatkan kehidupan manusia di dunia dan akhir zaman.
“Padahal ilmu Eyang Boros Ngora sudah penuh ya. Tetapi kenapa? Ya Eyang Cakra Dewa sudah tahu ya bahwa beliau bijaksana. Makanya sebelum beliau dijadkan Raja Panjalu beliau disuruh mencari ilmu dulu. Ilmu apa? Ilmu yang sejati. Maksudnya ilmu yang sejati menurut Eyang Cakra Dewa yaitu ilmu yang bisa menyelamatkan kehidupan kita di dunia dan di akhir zaman,” ujarnya
Untuk menandai perjalanan ini, Eyang Boros Ngora diberikan sebuah gayung bolong oleh ayahnya, yang harus dibawa kembali ke Panjalu tanpa bocor.
Ia kemudian menempuh perjalanan mencari ilmu di berbagai tempat di Pulau Jawa, namun tidak menemukan ilmu yang sesuai.
Akhirnya, ia pergi ke Mekkah dan bertemu dengan seorang kakek-kakek, yaitu Eyang Sayidina Ali radhiyallahu anhu, pada tahun 650 Masehi.
Di Mekkah, Eyang Boros Ngora menerima Islam dan belajar ilmu agama dari Eyang Sayidina Ali selama bertahun-tahun. Sebelum pulang ke Panjalu, ia diberikan cindera mata berupa pedang, cis, dan seperangkat alat haji, serta tambahan nama Eyang Syekh Abdul Iman.
Gayung bolong yang dibawa sebelumnya diisi dengan air Zamzam sehingga tidak bocor, sesuai petunjuk Eyang Sayidina Ali.
“Eyang Boros Ngora diberi petunjuk pergi ke Sumur Zamzam. Nah di sana Eyang Boros Ngora pergi ke Sumur Zamzam dan gayung bolong disiukan di Sumur Zamzam dengan kekuatan Allah dengan kemurahan Allah air Zamzam di gayung bolong tidak bocor,” terangnya
Setelah kembali ke Panjalu, Eyang Boros Ngora resmi menjadi raja menggantikan ayahnya, Eyang Cakra Dewa.
Ia memperkenalkan Islam ke wilayah Panjalu dan melanjutkan tradisi kerajaan dengan dasar ajaran agama yang baru, sekaligus mempertahankan kesejahteraan dan kemakmuran kerajaan.
Editor: Redaktur TVRINews




