TANGERANG, KOMPAS.com – Di tengah arus mudik Lebaran melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta, tidak semua orang berkesempatan pulang kampung untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri bersama keluarga. Sebagian justru harus berangkat ke luar negeri demi pekerjaan, termasuk Tegar Satria (32), warga Sukabumi.
Tegar harus terbang ke Korea Selatan untuk menjalani kontrak sebagai awak kapal selama delapan bulan. Keberangkatan ini membuatnya harus merayakan Lebaran jauh dari keluarga, bahkan meninggalkan istrinya yang baru dinikahi.
“Ini pertama kali juga enggak Lebaran bareng keluarga. Pasti sedih banget,” ujar Tegar saat ditemui Kompas.com di Bandara Soekarno-Hatta, Kota Tangerang, Rabu (18/3/2026).
Baca juga: 10.000 Hewan Peliharaan Ikut Mudik Naik Kereta, Tujuan Favorit Yogyakarta-Bandung
Bagi dia, momen Lebaran kali ini terasa lebih berat dibandingkan hari-hari biasa. Selain berpisah dengan istri, ia juga tidak bisa berkumpul bersama orang tuanya seperti tahun-tahun sebelumnya.
“Kalau ninggalin keluarga di momen biasa sudah biasa, tapi ini kan Lebaran, harusnya kumpul keluarga,” kata dia.
Meski demikian, pekerjaan di sektor pelayaran bukan hal baru bagi Tegar. Keberangkatan ini merupakan yang ketiga kalinya dalam tahun ini sejak ia beralih profesi.
Sebelumnya, Tegar bekerja sebagai teknisi pesawat di sejumlah maskapai, di antaranya Garuda Indonesia dan Sriwijaya Air. Namun, ia terdampak efisiensi karyawan saat pandemi Covid-19 dan akhirnya memutuskan beralih ke sektor pelayaran.
"Ini sebenarnya keinginan sendiri juga untuk pindah haluan ke pelayaran plus ada omongan juga dari teman-teman kalau ternyata tugasnya itu gini, gini, gini. Saya tertarik ternyata," jelas dia.
Untuk mendukung peralihan karier tersebut, Tegar mengikuti kursus singkat selama enam bulan sebelum akhirnya bekerja di kapal.
Sementara itu, sang istri, Tazkia (24), mengaku telah memahami risiko pekerjaan suaminya sejak awal. Meski begitu, ia tetap merasakan berat harus menjalani Lebaran tanpa kebersamaan.
Baca juga: Cerita Pekerja Infal Lebaran, Dapat Hadiah Sekardus Baju dari Majikan
“Dari awal sudah tahu risikonya, jadi mau enggak mau kami terima. Kalau keberatan pasti ada,” ujar Tazkia.
Ia mengatakan, komunikasi melalui pesan singkat dan panggilan video akan menjadi cara utama untuk menjaga hubungan selama Tegar bekerja di luar negeri.
“Paling nanti WhatsApp terus, tapi tergantung dia ada waktu luang atau enggak,” ucap dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



