Bisnis.com, JAKARTA — Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) mencatat lonjakan kunjungan ke pusat perbelanjaan menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 H atau Lebaran 2026.
Kendati demikian, pelaku ritel mulai mewaspadai potensi penurunan traffic setelah periode puncak berakhir pada April mendatang.
Ketua Umum Hippindo Budihardjo Iduansjah mengatakan kenaikan kunjungan mal saat ini ditopang oleh momentum Ramadan yang berdekatan dengan sejumlah hari besar keagamaan seperti Nyepi, Jumat Agung, dan Paskah.
Kondisi ini, kata Budihardjo, mendorong peningkatan aktivitas masyarakat, termasuk kunjungan ke pusat perbelanjaan setelah menjalankan ibadah, sehingga traffic diperkirakan akan tetap kuat hingga April.
“Semua itu hari-hari besar keagamaan yang sangat mengundang traffic orang, habis pulang dari ibadah bisa langsung ke mal, jadi traffic sangat bagus sampai April,” kata Budihardjo kepada Bisnis, Rabu (18/3/2026).
Berdasarkan data Hippindo, hingga saat ini kenaikan kunjungan ke pusat perbelanjaan mencapai 20% menjelang Lebaran. Bahkan, Budihardjo memperkirakan lonjakan tersebut akan mencapai puncaknya dalam waktu dekat.
“Mulai hari ini sudah mulai melonjak [pengunjung mal] terus sampai nanti Sabtu-Minggu. Puncaknya sampai satu minggu ke depan,” terangnya.
Seiring meningkatnya traffic, pelaku usaha ritel juga menggenjot berbagai program promosi, mulai dari produk makanan dan minuman, pakaian, hingga layanan seperti salon.
Adapun, Hippindo menargetkan program Belanja di Indonesia Aja (BINA) Lebaran 2026 mampu mencatatkan transaksi sebesar Rp53 triliun sepanjang 6–30 Maret 2026.
Namun demikian, kinerja transaksi secara keseluruhan diperkirakan cenderung stagnan dibandingkan tahun lalu. Hal ini antara lain dipengaruhi oleh keterbatasan pasokan barang impor di tengah lonjakan permintaan.
“Transaksi dibanding tahun lalu melihat ini stabil, artinya tidak turun dan cukup bagus dibanding bulan Januari, Februari. Namun yang kami lihat mungkin nanti kalau sampai akhir bulan kemungkinan kita sama ya sama tahun lalu, karena ada problem di kekosongan barang beberapa impor,” ujarnya.
Budihardjo menjelaskan, kendala pasokan tersebut bukan disebabkan oleh eskalasi tensi geopolitik global, melainkan karena penumpukan kebutuhan akibat banyaknya acara dalam waktu bersamaan yang mendorong lonjakan permintaan barang. Kondisi ini membuat perencanaan impor sebelumnya tidak sepenuhnya mengantisipasi tingginya kebutuhan pada periode saat ini.
Di sisi lain, Hippindo mengingatkan adanya potensi penurunan pengunjung usai periode Lebaran, yakni April 2026.
Untuk mengantisipasi hal itu, Hippindo bersama Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Perekonomian, Kementerian Perdagangan (Kemendag), Kementerian Pariwisata (Kemenpar), serta asosiasi pusat perbelanjaan tengah menyiapkan berbagai inisiatif, termasuk menggelar event yang mampu menarik wisatawan, terutama dari luar negeri.
Menurutnya, langkah ini penting agar Indonesia semakin diposisikan sebagai destinasi wisata belanja, kuliner, dan rekreasi yang aman dan ramah, sekaligus mendorong masuknya devisa ke berbagai daerah seperti Jakarta dan Bali.





