Panen Raya Saat Libur Lebaran, Petani Bahagia Sekaligus Cemas

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

Panen raya yang datang bersamaan dengan Lebaran 2026, menjadi kabar gembira bagi petani. Mereka bisa berlebaran penuh suka cita.

Akan tetapi, tetap ada tantangan di baliknya. Masalahnya terkait pada penyerapan gabah petani karena libur panjang.

Berdasarkan data Perum Bulog Wilayah Regional Jawa Timur, masa panen raya terjadi pada Maret hingga April 2026. Sentra produksi padi yang panen pun tersebar merata. Selain Banyuwangi, ada Jember, Malang, Jombang, Madiun, Tuban, Bojonegoro hingga Ngawi.

Di Jember, misalnya, sebagian petani memasuki panen sejak pertengahan Ramadhan. Namun, sebagian lagi baru memasuki masa panen di musim libur Lebaran, antara H-7 hingga H+7.

Baca JugaDari Jatim Menjaga Pangan Nusantara

Ketua Kelompok Tani Subur Makmur Desa Candijati, Arjasa, Jember, Jumantoro mengatakan, Rabu (18/3/2026) atau H-2 Lebaran, banyak padi siap panen.

Namun, petani memilih menunda panen. Alasannya, khawatir tidak ada pembeli, para pekerja sudah libur, dan tidak ada penggilingan padi yang buka.

“Penundaan panen sangat berisiko bagi petani di musim cuaca ekstrem seperti padi rentan roboh terkena angin kencang hingga terendam banjir,” ujar Jumantoro.

Bila itu terjadi, petani berisiko gagal panen. Kalau pun bisa diselamatkan, bakal ada penurunan kualitas karena gabahnya menjadi busuk atau menghitam. Tidak hanya itu, biaya panennya lebih tinggi karena hanya bisa menggunakan tenaga manusia bukan mesin.

“Harapan petani, pemerintah melalui Bulog bisa tetap menyerap hasil panen petani di saat pedagang dan penggilingan swasta libur lebaran. Agar petani tidak menanggung risiko kerugian akibat penundaan panen,” ucap Ketua Perkumpulan Petani Pangan Nasional (P3N) tersebut.

Penundaan panen juga terjadi di Sidoarjo. Suud (52), petani di Kecamatan Krian mengatakan, hamparan tanaman padinya saat ini mulai menguning. Dia memperkirakan pada pekan depan tanaman padinya sudah siap dipanen.

“Saya menunggu pembeli kapan mereka siap panen. Petani tidak bisa kerja sendiri, kami juga harus menunggu tenaga yang memanen dan penggilingan padi buka,” ujar Suud.

Baca JugaUpaya Jatim Menjadi Benteng Pangan Nasional

Menyisati risiko gagal panen karena penundaan, Suud berencana memanennya sendiri. Dilakukan manual, tidak menggunakan mesin pemanen modern.

Setelah dipanen, dia akan membawa pulang gabah hasil panen untuk dijemur di rumahnya dan baru dijual dalam bentuk gabah kering giling (GKG).

Suud mengatakan, saat ini, harga gabah kering panen (GKP) antara Rp 6.500 hingga Rp 6.800 per kilogram. Namun, jika kualitas gabahnya buruk, harga jualnya bisa anjlok dibawah Rp 6.000 per kg.

Menanggapi kekhawatiran petani, Bulog Jatim memastikan ada Tim jemput gabah yang standby selama cuti lebaran. Pemimpin Wilayah Perum Bulog Jawa Timur Langgeng Wisnu Adinugroho mengatakan, ingin mengoptimalkan serapan selama panen raya Maret-April 2026.

“Bulog akan siap on the spot membeli dengan harga pembelian pokok Rp 6.500 per kg untuk GKP dalam kemasan karung di pinggir jalan,” ujar Langgeng.

Selain itu, penjualan juga bisa melalui Babinsa TNI, Babinkamtibmas Polri serta penyuluh pertanian di tiap desa. Alasannya, mereka sudah bekerjasama dengan Bulog untuk membeli panen petani.

Jatim adalah lumbung pangan terbesar nasional dengan konstribusi lebih dari 17 persen untuk komoditas beras selama lebih dari lima tahun berturut-turut.

“Untuk mencegah peredaran uang palsu, kami mengimbau petani bertransaksi cashless atau transfer ke rekening masing-masing,” kata Langgeng.

Langgeng yakin hal itu bisa terlaksana dengan baik. Menjelang Idul Fitri 2026, Perum Bulog Jatim mengklaim telah menyerap 588.000 ton GKP atau setara  300.000 ton beras.

Capaian itu merupakan jumlah tertinggi seluruh Indonesia  dengan kontribusi 32 persen dari capaian nasional sebesar 1.818.000 GKP atau 950.000 ton setara beras.

Pakan ternak

Selain itu, Bulog Jatim juga menyerap komoditas jagung dari petani. Serapannya berupa jagung pipil kering (JPK).

Realisasinya sebanyak 40.796 ton atau tertinggi seluruh Indonesia. Jumlah itu setara dengan 40 persen dari target 100.000 ton sampai akhir tahun.

Harga beli Bulog untuk komoditi jagung yaitu Rp. 6.400 per kg untuk kadar air (KA) maksimal 14 persen di gudang Bulog. Serapan jagung ini Bulog didukung penuh oleh Polda Jatim melalui semua jajaran polres di Jawa Timur.

Bulog juga mendapat dukungan berupa penggunaan gudang jagung milik Polri untuk penyimpanan jagung antara lain di Desa Pacing, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto.

“Serapan ini nantinya akan digunakan untuk stabilisasi harga jagung di tingkat peternak melalui program SPHP (stabilisasi pasokan dan harga pangan). Tujuannya, menjaga stabilisasi harga jagung pakan ternak yang berdampak pada stabilisasi harga pakan, telur dan daging ayam,” kata Langgeng.

Jatim adalah lumbung pangan terbesar nasional dengan konstribusi lebih dari 17 persen untuk komoditas beras selama lebih dari lima tahun berturut-turut.

Oleh karena itu, menjaga serapan saat libur Lebaran 2026 tidak hanya menjaga kelangsungan usaha para petani. Upaya itu ikut menguatkan ketahanan pangan nasional, terutama di tengah memanasnya geopolitik global saat ini.

Baca JugaProduksi Padi di Jatim Tinggi, Pendapatan Petani Tak Menentu


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ali Larijani Gugur Dibunuh AS-Israel saat Kunjungi Putrinya di Teheran
• 10 jam laludetik.com
thumb
Baim Wong Kenang Hidup Susah Sampai Nyaris Jual Mobil Demi Bayar Kontrakan
• 13 jam lalugrid.id
thumb
Layanan Transjakarta Berubah Jadwal saat Hari Pertama Lebaran dengan Tarif Rp1
• 4 jam lalutvonenews.com
thumb
KSP Pastikan Ketahanan Energi, dari Listrik Desa hingga Pasokan Aman Lebaran 2026
• 6 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kapolri Lepas Ribuan Peserta Mudik Gratis Polri Presisi 2026 di Polda Metro Jaya
• 11 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.