JAKARTA, KOMPAS.com – Di tengah tekanan ekonomi dan kenaikan harga bahan baku jelang Lebaran, Rosida (45) tetap bertahan menjual anyaman ketupat di Pasar Rawa Badak Utara, Koja, Jakarta Utara.
Keahlian yang telah ia tekuni sejak kecil itu kini menjadi penopang utama ekonomi keluarganya, meski penjualan tahun ini cenderung menurun.
Perempuan yang telah menganyam ketupat sejak kecil itu mengaku keterampilannya diwarisi dari sang ibu, yang sebelumnya juga menjalani usaha musiman serupa.
Baca juga: Lebaran yang Berat bagi Pedagang Anyaman Ketupat: Pembeli Sepi, Harga Janur Mencekik
“Saya mah dari umur tujuh tahun udah bisa nganyam. Makanya biar pun sambil merem juga jadi,” ujarnya kepada Kompas.com, Rabu (18/3/2026).
“Biasa setiap Lebaran saya di sini. Setiap tahun tuh saya jualan di sini, gantinya orang tua,” ungkapnya.
Namun, Rosida menyebut penjualan tahun ini lebih sepi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Ia menduga kondisi tersebut dipengaruhi oleh banyaknya warga yang telah lebih dulu mudik, sehingga jumlah pembeli di kota berkurang.
Selain penurunan permintaan, ia juga menghadapi kenaikan harga janur—daun kelapa muda yang menjadi bahan utama anyaman ketupat.
“Janurnya kalau dari bosnya satu ikat gitu Rp 100.000. Isinya 200 biji,” kata Rosida.
Harga tersebut naik sekitar Rp 20.000 dibandingkan tahun lalu. Kenaikan ini memaksanya menyesuaikan harga jual, meski keuntungan belum terasa.
Baca juga: Kisah Pengrajin Janur di Kampung Ketupat Bogor, Upah Rp 4.000 per 100 Ketupat
Rosida menjual janur mentah seharga Rp 10.000 per 10 lembar, sementara ketupat yang sudah dianyam dibanderol Rp 15.000 per 10 buah.
“Keuntungannya ya kalau tahun ini ya belum kelihatan,” kata Rosida.
Ia menuturkan, kondisi usaha mulai terasa berat sejak pandemi Covid-19 dan belum sepenuhnya pulih hingga saat ini.
"Sudah hampir empat tahun lah. Dari (waktu) Covid-19," tuturnya.
Di tengah keterbatasan ekonomi, Rosida tetap bertahan berjualan karena penghasilan tersebut membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga, terutama dengan kondisi suaminya yang bekerja serabutan.
"Suami kerjanya serabutan. Punya anak sekolah, rumah ngontrak, aduh. Kalau kami tinggal diam, yang ada gantung diri emaknya," imbuhnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




