Konsolidasi Bank Perekonomian: OJK Proses Merger 22 BPR/S Jadi 6 BPR/S

bisnis.com
5 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kembali melanjutkan program konsolidasi Bank Perekonomian Rakyat/Syariah (BPR/BPRS). Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari penguatan struktur industri perbankan.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyampaikan per 11 Maret 2026, sebanyak 142 BPR/S telah efektif melakukan konsolidasi menjadi 50 BPR/S. 

“Sementara 22 BPR/S yang akan menjadi 6 BPR/S masih dalam proses di Kementerian Hukum dan 242 BPR/S lainnya sedang dalam proses di OJK,” kata Dian dalam keterangannya, dikutip pada Rabu (18/3/2026).

Adapun, OJK melihat bahwa tren penurunan jumlah BPR masih terus berlanjut pada 2026. Hal ini seiring dengan pelaksanaan konsolidasi BPR yang berada dalam kepemilikan yang sama melalui penggabungan/peleburan usaha atau adanya pencabutan izin usaha, baik self-liquidation maupun karena masuk dalam status Bank Dalam Resolusi (BDR).

Di sisi lain, Dian mengungkapkan bahwa OJK tengah menyusun peraturan mengenai permodalan BPR/S. Langkah ini dilakukan sebagai upaya otoritas dalam memperkuat industri BPR/S sesuai dengan Roadmap Pengembangan dan Penguatan Industri BPR/S (RP2B) yang telah diluncurkan pada 2024.

Dian menyebut, beleid yang mengatur permodalan BPR/S ini selanjutnya akan menjadi landasan dalam menyusun klasifikasi BPR yang saat ini masih dalam proses pengkajian yang mendalam. 

Baca Juga

  • Jadi Pelaku Kejahatan Perbankan, OJK Tindak Debitur BPR Duta Niaga Pontianak
  • OJK Cabut Izin BPR Koperindo, LPS Siapkan Pembayaran Simpanan Nasabah
  • OJK Setujui Penggabungan 4 Bank ke BPR Nusamba Tanjungsari Tasikmalaya

“OJK juga senantiasa melakukan pemantauan terhadap implementasi RP2B yang didalamnya mencakup penguatan struktur industri BPR/S,” ujarnya.

Sepanjang 2025, OJK menyebut bahwa kinerja industri BPR/S mencatatkan pertumbuhan yang stabil. Per Desember 2025, total aset BPR/S tumbuh 5,60% secara tahunan (year on year/YoY) yang didukung oleh penyaluran kredit yang tumbuh 5,94% YoY menjadi Rp177,42 triliun. 

Pada saat yang sama, dana pihak ketiga (DPK) juga mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,86% YoY menjadi Rp169,69 triliun. Kinerja industri BPR/S juga tetap terjaga dengan rasio Capital Adequacy Ratio (CAR) untuk BPR dan BPRS masing-masing sebesar 28,91% dan 19,73% atau berada di atas threshold sesuai ketentuan. 

Kendati Non-Performing Loan (NPL) terpantau mengalami sedikit peningkatan secara tahunan, OJK menyebut bahwa risiko kredit tetap manageable.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Trump Serukan Partisipasi Tiongkok dalam Pengawalan, Kunjungan ke Tiongkok Ditunda Lebih dari Sebulan karena Situasi Perang
• 10 jam laluerabaru.net
thumb
[LIVE] Pantauan Arus Mudik di Tol MBZ: Jumlah Kendaraan Naik 121% | 17 MARET 2026
• 14 jam lalukompas.tv
thumb
Penjualan dan Pendapatan Agung Podomoro (APLN) Lesu Sepanjang 2025
• 2 jam laluidxchannel.com
thumb
Bea Cukai Jakarta Periksa Puluhan Yacht di Dermaga Batavia, Cek Izin Impornya
• 17 jam lalukumparan.com
thumb
Kejagung Ikut Terlibat dalam Pengawasan Program Makan Bergizi Gratis
• 20 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.