Tuberkulosis Tidak Sembuh dengan Herbal, Obat Antituberkulosis Harus Diminum Sampai Tuntas

kompas.id
7 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS– Media sosial sempat ramai dengan pernyataan seorang pemengaruh atau influencer yang mengatakan tuberkulosis bisa sembuh dengan mengonsumsi obat herbal. Hal itu dipastikan tidak benar oleh sejumlah ahli. Tuberkulosis bisa sembuh bukan dengan obat herbal, melainkan obat antituberkulosis yang dikonsumsi sampai tuntas.

Dewan Penasehat Stop TB Partnership Indonesia (STPI) yang juga Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Tjandra Yoga Aditama saat dihubungi di Jakarta, Rabu (18/3/2026), menegaskan informasi menyesatkan mengenai pengobatan tuberkulosis dapat berdampak buruk bagi pasien. Hal itu dapat membuat pasien tidak menggunakan obat antituberkulosis (OAT) yang sudah terbukti secara ilmiah dapat mengobati tuberkulosis.

“Kalau obat antituberkulosis tidak digunakan, ada tiga dampak buruknya. Pertama, penyakit tuberkulosis tidak sembuh; kedua penyakitnya dapat makin berat dan bukan tidak mungkin menimbulkan keparahan dan kematian; dan ketiga penyakit tuberkulosisnya akan terus menular ke orang disekitarnya,” tuturnya.

Tjandra menambahkan, risiko terjadinya resistensi obat juga bisa terjadi jika orang yang sebelumnya sudah mengonsumsi OAT kemudian menggantinya dengan obat lain yang tidak benar. Obat antituberkulosis yang digunakan di Indonesia saat ini sudah terbukti keamanan dan manfaatnya. Obat tersebut juga digunakan di banyak negara selama bertahun-tahun dengan tingkat kesembuhan yang tinggi.

Baca JugaTuberkulosis yang Tak Kunjung Usai
Baca JugaTuberkulosis Musuh Kesejahteraan Rakyat
Baca JugaTuberkulosis Kita, Perlu Kerja Lebih Keras

Hal tersebut disampaikan pula oleh dokter spesialis paru yang juga staf pengajar Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Erlina Burhan. Klaim obat herbal dapat menyembuhkan tuberkulosis merupakan informasi yang keliru.

Obat antituberkulosis

Sampai saat ini, pengobatan tuberkulosis yang disarankan dengan menggunakan OAT yang terdiri dari empat kombinasi obat, yakni isoniazid (INH), rifampicin, pyrazinamide, dan etambutol. Kombinasi obat tersebut harus dikonsumsi oleh pasien minimal enam bulan secara rutin dan tidak boleh putus sampai tuntas.

“Kalaupun herbal ada efek untuk bantu imunitas seseorang, itu bisa ditambahkan bukan menggantikan. Bila (pasien) tidak diobati dengan benar malah akan membuat kerusakan yang lebih luas dengan gejala yang lebih berat,” tutur Erlina.

Kalaupun herbal ada efek untuk bantu imunitas seseorang, itu bisa ditambahkan bukan menggantikan.

Pengobatan tuberkulosis membutuhkan kombinasi obat tertentu karena terkait dengan sifat dari kuman penyebab tuberkulosis yang disebut Mycobacterium tuberculosis. Bakteri tersebut berkembang secara lambat serta memiliki fase dormansi (tidur). Dengan kombinasi obat jangka panjang, itu akan membantu tubuh membunuh dan menghilangkan bakteri tersebut.

Erlina menuturkan, pengobatan tuberkulosis tidak bisa sekadar dengan pemberian herbal. Pasien yang tidak tuntas mengonsumsi obat antituberkulosis akan berisiko mengalami resistensi atau kebal obat yang dapat membuat pengobatan lebih sulit dan lebih panjang. Sementara jika pasien mengonsumsi obat dengan tepat dan sampai tuntas, risiko kegagalan pengobatan, kekambuhan, dan kuman yang kebal bisa dicegah.

“Jadi, sedemikian kompleks tuberkulosis. Tidak bisa dicegah dan diobati dengan herbal. Ada prosedur yang perlu diikuti oleh pasien untuk mendapatkan kesembuhan,” ucapnya.

Secara terpisah, Juru bicara Kementerian Kesehatan Widyawati dalam video resmi Kementerian Kesehatan menyampaikan bahwa penyakit tuberkulosis hanya dapat disembuhkan dengan obat antituberkulosis yang memang spesifik untuk membunuh bakteri penyebab tuberkulosis. Obat tersebut secara ilmiah telah terbukti keamanan, kualitas, dan khasiatnya.

Ia pun menegaskan belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan obat herbal dapat menyembuhkan tuberkulosis. Obat herbal dapat mengurangi efek samping obat, namun tidak dapat menggantikan obat antituberkulosis.

Baca JugaObat Tuberkulosis yang Baru Mempercepat Penyembuhan Penyakit Menular Mematikan
Baca JugaPutus Obat Masih Jadi Kendala, Inovasi Pengobatan Tuberkulosis Perlu Diperluas
Baca JugaPengidap Tuberkulosis Resisten Obat Membutuhkan Perlindungan Sosial

“Penggunaan obat herbal sebaiknya hanya sebagai pendamping dan tidak tetap harus dikonsultasikan dengan dokter atau tenaga kesehatan,” ujar Widyawati.

Ia pun mengimbau agar masyarakat tidak mudah percaya dengan informasi yang belum terbukti secara medis. Kesadaran akan gejala tuberkulosis dapat ditingkatkan pula, antara lain batuk lebih dari dua minggu, demam, berkeringat di malam hari, serta penurunan berat badan.

Jika gejala tersebut muncul, sebaiknya segera lakukan pemeriksaan diri ke puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat. Lakukan pengobatan tuberkulosis dengan tepat apabila terdiagnosis penyakit tersebut.

“Tuberkulosis bisa sembuh asalkan diobati dengan cara yang benar dan harus tuntas, Obat antituberkulosis sudah tersedia gratis di puskesmas dan fasilitas kesehatan lainnya,” kata Widyawati.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Premi Asuransi Melonjak akibat Perang AS-Israel vs Iran
• 5 menit laluviva.co.id
thumb
Masuk Skema Cristian Chivu, Inter Milan Serius Buru Permata 20 Tahun Milik Atalanta Musim Panas Nanti
• 7 jam lalutvonenews.com
thumb
Cara Raih Kepercayaan Pengguna di Ranah Digital
• 5 menit lalumedcom.id
thumb
Sinopsis Drama China Dazzling, Guan Xiaotong Jadi Cahaya bagi Li Yunrui di Tengah Kehidupan Sulit
• 23 jam lalugrid.id
thumb
Komisi III DPR Minta Polisi Usut Aktor Intelektual Dibalik Penyerangan Air Keras ke Andrie KontraS
• 23 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.