JAKARTA, KOMPAS.TV - Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) sekaligus Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla (JK) menerima kunjungan Duta Besar (Dubes) Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi di Kantor PMI, Rabu (18/3/2026).
Pengamat Timur Tengah, Faisal Assegaf, memandang pertemuan JK dan Dubes Iran berkaitan dengan pengalaman Jusuf Kalla yang pernah menjadi penengah konflik.
"Saya kira posisi selama ini pengalaman mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla sebagai penengah perdamaian, kita tahu di Aceh, terus di berbagai konflik, saya kira itu yang membuat Duta Besar Iran Mohammad Boroujerdi mengunjungi, berbicara atau berdiskusi mengenai perkembangan saat ini di Iran," katanya dalam Breaking News KompasTV, Rabu.
Namun, ia menilai tidak pantas jika akhirnya Kalla menawarkan mediasi kepada Iran karena bukan Iran yang pertama kali melakukan pelanggaran hukum internasional dengan menyerang wilayah negara berdaulat.
Menurutnya, tekanan atau upaya pendekatan serta mediasi harusnya dilakukan terhadap Amerika Serikat (AS), khususnya agar segera menghentikan serangan kepada Iran.
Baca Juga: Usai Bertemu Peneliti Bahas Perang, Jusuf Kalla Minta Pemerintah Waspadai Defisit Anggaran Daerah
"Karena di sini posisi Iran adalah negara yang sedang membela diri, negara yang menjadi korban pelanggaran hukum internasional yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel. Itu secara hukum internasional juga diakui berhak membela diri," jelasnya.
Oleh karena itu, menurutnya, jika memang ada upaya mediasi yang ingin dilakukan JK, seharusnya diarahkan kepada Amerika, bukan Iran.
"Tapi dalam konteks Iran, saya berharap pemerintah Indonesia mengirimkan bantuan kemanusiaan," ucapnya.
Faisal menyebut sudah ada ribuan warga Iran tewas dan luka-luka akibat serangan AS-Israel yang dimulai 28 Februari 2026 dan memicu eskalasi konflik di Timur Tengah.
Penulis : Tri Angga Kriswaningsih Editor : Edy-A.-Putra
Sumber : Kompas TV
- jusuf kalla
- pmi
- dubes iran
- iran
- mohammad boroujerdi
- pertemuan jusuf kalla dubes iran





