Ragam Cerita Pemudik: Dapat Tiket Gratis hingga First Date Setelah LDR 6 Bulan

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Hari Raya Idul Fitri 1447 H sudah di depan mata. Momentum Lebaran identik dengan tradisi mudik untuk berkumpul bersama keluarga di kampung halaman.

Seperti yang terlihat di Terminal Bus Amplas, Medan. Pantauan kumparan pada Selasa (17/3), loket-loket bus mulai dipadati masyarakat yang hendak mudik.

Salah satu pemudik, Rafa Lubis (42), turut memanfaatkan momen ini untuk pulang kampung ke Mandailing Natal bersama istri dan anak-anaknya. Ia menggunakan program tiket mudik gratis dari Pemerintah Kota Medan.

Bagi Rafa, mudik kali ini menjadi kesempatan berharga untuk bertemu orang tuanya yang tinggal di kampung halaman, sementara dirinya menetap di Medan untuk bekerja.

"Mudik buat lebaran saja, karena orang tua di kampung. Kalau kerja di Medan," kata Rafa saat berbincang-bincang dengan kumparan di lokasi, Selasa (17/3).

Perjalanan menuju Mandailing Natal diperkirakan memakan waktu sekitar 15 jam. Rafa terbantu dengan adanya program mudik gratis tersebut.

"Ada kemudahan dengan mudik gratis ini. Mudah-mudahan (tahun depan tetap ada mudik gratis)," kata Rafa.

Selain Rafa, pemudik lainnya, Sri Wahyuni (26), juga bersiap pulang kampung ke Jambi bersama suami dan anak-anaknya untuk bertemu keluarga.

Berbeda dengan Rafa, Sri tidak mendapatkan tiket mudik gratis. Namun hal itu tidak mengurungkan niatnya untuk tetap pulang kampung demi berkumpul dengan keluarga.

"Mau ke Jambi ketemu mertua. Kumpul keluarga di sana. Enggak dapat tiket karena tujuan enggak sampai di sana. Jadi beli tiket sendiri," ucap Sri.

Sri menuturkan, tahun ini ia memilih merayakan Lebaran di kampung halaman suami di Jambi. Pada tahun sebelumnya, ia tidak mudik karena orang tuanya berada di Medan.

"Tahun lalu enggak pulang kampung. Setahun lalu di tempat orang tua, tahun ini di tempat mertua, jadi gantian," ucap Sri.

Curhat Sejoli di Pelabuhan Ciwandan, Mudik Pertama ke Lampung sebagai Pasutri

Capung (36), begitulah panggilannya, tak mampu menahan rasa gembira bisa mudik Lebaran ke kampung halamannya di Lampung. Apalagi tahun ini ada yang berbeda, pertama kali bagi dirinya melaksanakan mudik bersama istri tercinta usai menikah bulan Februari 2026 lalu.

Melalui tulisan "Berkat Doa Ibu Mudik Tahun Ini Bawa Menantu" yang terpasang di tas ransel sang istri, seakan ingin menunjukkan bagaimana rasa bahagianya menjalani perjalanan panjangnya dari Tangerang.

"Ya gua merantau, akhirnya dapat dia (istri). Kita nikah baru bulan (Februari) kemarin. Gua mudik udah sering, cuma karena baru dapat istri di tahun ini," ungkap Capung ditemui di Pelabuhan Ciwandan, Kota Cilegon, Banten, pada Selasa (17/3).

"Dari (pelabuhan) Bakauheuni ke rumah itu masih 3 jam. Total 8 jamlah (perjalanan) dari Tangerang," sambungnya.

Meski begitu, diakui Capung, sang istri jauh lebih antusias dalam perjalanan kali ini lantaran menjadi momen pertama dalam hidupnya merasakan mudik. Istrinya asli Tangerang.

Bahkan, lanjut Capung, dia sempat kena omel sang istri lantaran memilih meminum kopi terlebih dahulu di sela-sela mengantre masuk ke dalam kapal. Hal itu dikarenakan istrinya belum mengetahui bahwa pemudik sepeda motor masih harus menunggu sekitar 30 menit sampai 1 jam di area buffer zone sebelum masuk ke dalam kapal.

"Gua yang punya orang tua, gua yang punya rumah di sana (Lampung), eh malah dia yang ngebet ngajak (mudik). Orangnya di sini, tapi jiwanya udah di sana (Lampung) nih," kelakar Capung.

"Ya dia mudik baru tahun ini. Tadi gua nyeduh kopi, dia marah. Orang mau jalan kok sempat-sempatnya nyeduh kopi. Kata gua slow, tenang aja," kata Capung menirukan omelan istrinya.

Cerita Pemudik di Pelabuhan Ciwandan, Bisa 'First Date' Setelah LDR 6 Bulan

Setiap tahun menjelang lebaran, ribuan pemudik sepeda motor selalu memenuhi areal Pelabuhan Ciwandan, Kota Cilegon, Banten, untuk menyeberang dari Pulau Jawa menuju Pulau Sumatera. Mereka rela menempuh perjalanan jauh hanya demi satu tujuan, yakni bertemu dengan orang-orang tercinta di kampung halaman.

Seperti yang dirasakan oleh salah seorang pemudik sepeda motor, Ferry Adriansyah. Ia sangat antusias menyambut kepulangan lantaran berencana menemui pujaan hatinya untuk pertama kali usai menjalani hubungan LDR selama 6 bulan.

Hal itu tampak dari sebuah pesan yang disampaikan dalam sebuah tulisan yang ditempelkan di ransel bawaannya.

Tulisan "RELA MENINGGALKAN KOTA TANGERANG DEMI YUNDA TERSAYANG", seolah menjadi bukti antusiasmenya menyambut pertemuan perdana dengan kekasih alias "first date".

"Saya kan merantau, tapi ceweknya di kampung. Saya belum pernah ketemu, kenalnya pas saya di Jawa (Kota Tangerang). Kenal di media sosial, terus sering teleponan, pacaran tapi LDR," ungkap Ferry ditemui di Pelabuhan Ciwandan, Selasa dini hari (17/3).

"Dan ini rencananya mau pertemuan pertama," imbuhnya.

Ferry mengaku tidak melakukan persiapan khusus untuk bertemu pertama kali dengan kekasihnya tersebut, termasuk tidak membawakan oleh-oleh sebagai tanda cinta.

"Enggak ada (bawa oleh-oleh), cuma bawa perasaan aja, karena sudah ditunggu (pacar) di sana," ujarnya sambil tersenyum.

Ia berharap, perjalanannya ke wilayah Lampung lancar, tak terjadi sesuatu yang membuat keluarga dan pacarnya menjadi khawatir.

"Mudah-mudahan aman (perjalanan) aja, biar bisa ketemu dia (pacar), dan keluarga juga," tandas Ferry.

Girangnya Penjual Gorengan di Karawang Ikut Mudik Gratis: Hemat Ongkos Rp 4 Juta

Pada Selasa (17/3) pagi, halaman Pemda Karawang sudah ramai dikerumuni warga. Deretan bus terparkir rapi, sementara ratusan calon pemudik datang silih berganti, membawa tas, kardus, dan harapan untuk pulang.

Di tengah keramaian, Mu’in (42) tampak semringah. Bersama istri dan dua anaknya, ia datang sejak subuh demi memastikan keluarganya tak ketinggalan bus.

"Berangkat abis subuhan dari rumah," katanya kepada kumparan.

Mu'in merupakan pemudik asal Serang, Banten. Dia menetap di Karawang setelah menikah pada tahun 2012.

Di Karawang, Mu'in dan istri berjualan gorengan dan menerima pesanan snack box secara online dari rumah untuk menghidupi dua anaknya.

"Kayak bikin risol, snack box kayak gitu. Jualan online sama istri," jelas Mu'in.

Mu'in ikut mudik gratis tujuan Surabaya—kampung halaman istrinya. Ia antusias menantikan momen ini.

Sebab untuk pulang ke Surabaya memakai bus, kata dia, tiketnya mencapai Rp 900 ribu per orang. Jika dikali empat orang, biayanya mencapai hampir Rp 4 juta.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Shireen Sungkar Wakafkan Sumur di Gunung Kidul atas Nama Vidi Aldiano
• 25 detik lalugrid.id
thumb
Foto: Pemudik Sepeda Motor Padati Pelabuhan Ciwandan
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Ganja Medis Terbukti Tidak Efektif Obati Gangguan Mental
• 2 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Wamenkes Sebut 121 Petugas KAI di Stasiun Gambir Layak Bertugas Selama Arus Mudik Lebaran 2026
• 19 jam lalupantau.com
thumb
Harga BBM Tidak Menentu, Kendaraan Listrik Dinilai Menjadi Solusi Strategis
• 34 detik lalujpnn.com
Berhasil disimpan.