Fenomena Sulit Dapat Ojol Jelang Lebaran Dinilai Perlu Solusi Jangka Panjang

kumparan.com
9 jam lalu
Cover Berita

Keluhan warganet soal sulitnya mendapatkan layanan ojek online (ojol) jelang Lebaran dinilai perlu mendapat solusi jangka panjang. Ekonom Universitas Airlangga, Rumayya Batubara, menilai fenomena ini bukanlah krisis, namun tetap perlu solusi jangka panjang.

Rumayya menjelaskan, kondisi tersebut sangat spesifik terjadi di Jakarta dan tidak bisa digeneralisasi ke daerah lain. Menurutnya, Jakarta memiliki karakteristik unik sebagai kota dengan konsentrasi driver perantau yang tinggi. Sebagian besar mitra pengemudi berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat, yang secara tradisional pulang ke kampung halaman saat momen mudik.

“Ketika lebaran tiba dan mudik terjadi secara massal, Jakarta kehilangan proporsi driver jauh lebih besar dibanding kota lain. Ini yang menyebabkan penurunan pasokan secara drastis,” ujar Rumayya dalam keterangannya, Selasa (17/3).

Dia menyebut kondisi ini sebagai shock supply dan demand yang bersifat siklikal dan sebenarnya dapat diprediksi setiap tahun. Permintaan layanan justru meningkat, terutama pada jam-jam sibuk seperti menjelang berbuka puasa, sementara jumlah driver yang tersedia menurun tajam.

Situasi tahun ini, lanjutnya, terasa lebih berat karena faktor tambahan berupa cuaca hujan yang memperparah kemacetan. Kondisi tersebut membuat sebagian driver yang masih berada di Jakarta memilih untuk tidak beroperasi.

“Jadi bukan semata karena isu lain, tapi kombinasi antara mudik massal dan faktor cuaca yang memperparah kondisi di lapangan,” jelasnya.

Rumayya menegaskan bahwa faktor mudik menjadi penyebab paling dominan. Hal ini juga menjelaskan mengapa fenomena sulitnya mendapatkan ojol tidak terlalu terasa di kota lain yang basis drivernya lebih banyak berasal dari penduduk lokal.

Terkait solusi, ia menilai kenaikan tarif bukan jawaban utama. Insentif harga memang dapat mendorong sebagian driver yang masih berada di kota untuk tetap aktif, namun tidak cukup efektif menarik kembali mereka yang sudah mudik.

“Keputusan mudik itu bukan semata keputusan ekonomis, tapi juga kultural. Jadi tidak bisa diselesaikan hanya dengan menaikkan tarif,” katanya.

Di sisi lain, kenaikan tarif juga berpotensi menekan daya beli masyarakat. Karena itu, ia menilai pendekatan yang lebih realistis dalam jangka pendek adalah edukasi kepada konsumen, seperti menghindari jam sibuk dan memanfaatkan fitur pemesanan lebih awal.

Sementara untuk jangka panjang, Rumayya menyarankan adanya solusi yang lebih struktural, seperti skema insentif yang mendorong sebagian driver untuk tidak mudik secara bersamaan, serta pengembangan layanan berbasis hub yang tidak sepenuhnya bergantung pada ketersediaan driver individu.

"Dengan demikian, fenomena sulitnya mendapatkan ojol saat periode lebaran dinilai sebagai dinamika tahunan yang berulang, bukan gangguan permanen dalam ekosistem transportasi berbasis aplikasi," tambahnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Vasaka Hotel Makassar Tebar Kebaikan Ramadan Lewat Buka Puasa Bersama Anak Yatim
• 8 jam laluterkini.id
thumb
Menhan minta prajurit jawab dukungan negara dengan kinerja
• 4 jam laluantaranews.com
thumb
H-3 Lebaran, Tol Japek Padat di Puncak Arus Mudik Sore Ini
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Polisi Ungkap Dua Inisial Pelaku Penyiraman Air Keras pada Aktivis Andrie Yunus
• 1 jam lalukatadata.co.id
thumb
Akhirnya! Inara Rusli Minta Maaf ke Wardatina Mawa
• 16 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.