Trump Salahkan Iran Meski Intelijen Konfirmasi Rudal AS Hantam Sekolah

mediaindonesia.com
16 jam lalu
Cover Berita

SEBUAH fakta mengejutkan terungkap di balik serangan maut yang menghantam sebuah sekolah dasar di Minab, Iran. Meski Presiden Donald Trump sempat bersikeras menuding Iran sebagai dalang di balik tragedi tersebut, penyelidikan terbaru menunjukkan serangan itu berasal dari rudal Tomahawk milik militer Amerika Serikat (AS).

Menurut dua sumber yang memahami masalah ini, upaya Trump untuk menyalahkan Iran berakar dari asesmen awal intelijen AS yang sempat menduga rudal tersebut milik Teheran. Namun, penilaian awal itu segera dibantah hanya dalam hitungan jam.

Kronologi Kegagalan Intelijen

Awalnya, CIA melaporkan kepada Presiden, mereka tidak yakin rudal tersebut milik AS. Hal ini didasarkan pada posisi sirip rudal yang terlihat terlalu rendah untuk sebuah Tomahawk. Namun, dalam waktu 24 jam, CIA menyadari kesalahan asesmen tersebut setelah meninjau rekaman video dari sudut pandang lain.

Baca juga : Investigasi AS: Rudal Tomahawk Salah Sasaran Hantam Sekolah di Iran, 182 Orang Tewas

Meski demikian, Trump tampaknya sudah terlanjur memegang narasi awal. Saat berbicara kepada wartawan di Air Force One Sabtu lalu, ia tetap menuding Iran, bahkan ketika Menteri Pertahanan Pete Hegseth bersikap lebih hati-hati dengan menyatakan kasus tersebut masih dalam penyelidikan.

Bahkan setelah tampak menerima kenyataan rudal yang menghantam sekolah adalah Tomahawk, senjata yang hanya dimiliki AS dan segelintir sekutu dekatnya, Trump tetap melontarkan klaim tanpa dasar bahwa rudal itu milik Iran.

Seorang mantan perwira CIA menyayangkan komunikasi intelijen yang prematur kepada Presiden.

Baca juga : Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth Klaim Iran Gunakan Tameng Sipil

"Memberikan informasi awal kepada Trump adalah hal yang berbahaya karena dia bisa mengubahnya menjadi rasa malu yang luar biasa," ujarnya. "Jika pimpinan bertanya, hal terbaik adalah mengatakan Anda tidak tahu, daripada harus meralat catatan itu di kemudian hari."

Tragedi Salah Sasaran Terburuk

Investigasi Pentagon saat ini mengonfirmasi bahwa serangan tersebut menewaskan sedikitnya 175 orang, yang mayoritas adalah anak-anak. Hal ini menjadikannya salah satu kesalahan target paling mematikan dalam beberapa dekade terakhir.

Penyelidikan berfokus pada mengapa militer menggunakan intelijen usang. Sekolah tersebut terletak di blok yang sama dengan pangkalan angkatan laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Bangunan sekolah itu memang dulunya bagian dari kompleks militer, namun telah dipisahkan oleh dinding dan dialihfungsikan menjadi sekolah antara tahun 2013 hingga 2016.

Peran AI dan Basis Data Target

Dalam operasionalnya, militer AS menggunakan sistem bernama Maven Smart System untuk membangun basis data target melalui citra satelit. Perencana militer kemudian menyusun daftar target menggunakan alat kecerdasan buatan (AI), termasuk model bahasa besar seperti Claude dari Anthropic.

Masalahnya, meski sebuah bangunan telah masuk dalam basis data sebagai target potensial bertahun-tahun sebelumnya, data tersebut belum tentu diverifikasi ulang saat serangan benar-benar akan diluncurkan. Dalam fase pembukaan perang dengan Iran ini, daftar target potensial mencapai ribuan, dan belum jelas apakah setiap target telah diverifikasi keakuratannya.

Menanggapi situasi ini, juru bicara Gedung Putih Anna Kelly menegaskan investigasi masih berlangsung.

"Sebagaimana yang telah kami sampaikan, tidak seperti rezim teroris Iran, Amerika Serikat tidak menargetkan warga sipil," tegasnya. (The Guardian/Z-2)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Analis Nilai Pejabat Publik Harus Dekat dengan Rakyat Meski Berisiko Dicap Pencitraan
• 5 jam lalupantau.com
thumb
Kedai Steak Nusantara Jadi Pilihan Bukber Ramadan
• 6 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Wakil Rektor Universitas Paramadina: Pembatasan Kuota PTN Wujudkan Keadilan Ekosistem PT
• 19 jam laluokezone.com
thumb
Ribuan Nakes Disiagakan di RSUD dr. Soetomo Surabaya Selama Libur Lebaran
• 1 jam lalutvrinews.com
thumb
Nyepi Berdekatan Idulfitri 2026, Menag: Satu Bumi, Satu Keluarga
• 3 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.