Bisnis.com, JAKARTA — Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional Amerika Serikat Joseph Kent mengumumkan pengunduran dirinya dan efektif segera. Keputusan itu diambil menyusul penolakannya terhadap kebijakan perang yang disulut negaranya bersama Israel di Iran.
Dalam surat pengunduran diri yang ditujukan kepada Presiden Donald Trump dan diunggah di media sosial X (d/h Twitter), Kent menyatakan tidak dapat mendukung operasi militer tersebut. Ia menilai Iran tidak menimbulkan ancaman langsung bagi Amerika Serikat dan menyebut keterlibatan Washington dipengaruhi tekanan eksternal.
"Jelas bahwa kita memulai perang ini karena tekanan dari Israel dan pelobi Amerika yang kuat," ulasnya dalam surat pengunduran diri.
Kent menegaskan keputusan perang dinilai tidak sejalan dengan prinsip kebijakan luar negeri yang sebelumnya diusung Trump, khususnya pendekatan America First yang menekankan penghindaran konflik berkepanjangan di luar negeri.
Ia juga menyinggung bahwa pada periode awal pemerintahan Trump, kebijakan militer dinilai lebih terukur, termasuk dalam operasi terhadap tokoh militer Iran Qasem Soleimani serta penanganan kelompok ISIS.
After much reflection, I have decided to resign from my position as Director of the National Counterterrorism Center, effective today.
I cannot in good conscience support the ongoing war in Iran. Iran posed no imminent threat to our nation, and it is clear that we started this… pic.twitter.com/prtu86DpEr
Ia juga mengkritik adanya kampanye disinformasi yang mendorong Amerika Serikat terlibat dalam konflik dengan Iran. Tekanan dari pihak luar, termasuk sekutu, telah membentuk persepsi ancaman yang tidak sepenuhnya akurat.
Baca Juga
- BGN Libatkan Jaksa Cegah Penyimpangan MBG Hingga Tingkat Desa
- Pemerintah Tunda Keterlibatan di Board of Peace, Mensesneg Sebut Imbas Eskalasi Iran
- Fokus Perang Iran, Trump Minta KTT dengan Xi Jinping Ditunda
Dalam surat tersebut, Kent juga mengaitkan situasi saat ini dengan pengalaman masa lalu, termasuk keterlibatan Amerika Serikat dalam Perang Irak yang disebutnya sebagai pelajaran penting agar tidak mengulangi kesalahan serupa.
Sebagai veteran militer yang telah bertugas berulang kali di medan perang, Kent menekankan dampak besar konflik terhadap prajurit dan keluarga mereka. Ia menyatakan tidak dapat mendukung kebijakan yang berpotensi mengorbankan generasi berikutnya dalam perang yang dinilai tidak memberikan manfaat langsung bagi kepentingan nasional.





