Cilegon (ANTARA) - Tradisi mudik Lebaran biasanya identik dengan kemacetan kendaraan bermotor atau antrean transportasi umum, namun tidak bagi Verri Sanovri (50).
Pria asal Serpong, Tangerang Selatan ini saat ditemui di Pelabuhan Ciwandan, Cilegon, Selasa malam menunjukkan konsistensi luar biasa dengan memilih bersepeda sebagai moda transportasi utama menuju kampung halaman di Palembang, Sumatera Selatan.
Aksi mengayuh pedal melintasi antarprovinsi ini bukanlah hal baru baginya, melainkan rutinitas tahunan yang telah dilakoninya secara konsisten sejak tahun 2018.
"Selama mudik dari tahun 2018 itu aman, tidak ada kendala. Makanya saya selalu konsisten dan tidak pernah memilih perjalanan malam untuk bersepeda," ujar Verri.
Baca juga: ASDP: Pergerakan mudik di Pelabuhan Merak-Ciwandan mulai meningkat
Berbekal sepeda jenis Surly yang telah dipastikan kelaikan komponennya, Verri memulai perjalanan dari Serpong pada pukul 09.00 WIB dan tiba di Pelabuhan Ciwandan sekitar pukul 20.00 WIB. Baginya, perjalanan jarak jauh ini tidak memerlukan persiapan fisik khusus karena bersepeda sudah menjadi bagian dari aktivitas kesehariannya. Strategi perjalanannya pun cukup terukur. Ia sengaja menghindari bersepeda di malam hari demi keamanan.
"Saya pilih naik kapal jam 12 malam agar bisa istirahat di dalam kapal. Jadi, saat tiba di Lampung sudah waktu Subuh dan bisa lanjut jalan lagi," tambahnya.
Meski harus menempuh rute yang menantang, mulai dari cuaca panas hingga melintasi kawasan hutan, Verri mengaku tetap menikmati setiap momen di atas pedal. Baginya, sepeda adalah satu-satunya hiburan yang membuatnya terus bersemangat.
Selama di perjalanan, ia membawa perlengkapan bikepacking lengkap yang disimpan di tas sepeda nya, mulai dari tenda, kantong tidur (sleeping bag), kompor portabel, hingga peralatan menyeduh kopi.
Baca juga: Demi hemat biaya, pemudik ini pilih bawa kucing mudik ke Lampung
"Satu-satunya hiburan itu ya naik sepeda. Kalau istirahat biasanya di posko mudik. Di jalan juga banyak ketemu orang baik, tadi saja di Cikupa ada yang memberi kopi dingin," tuturnya dengan senyum.
Tahun 2024 menandai pertama kalinya Verri menyeberang melalui Pelabuhan Ciwandan, mengikuti skema pengalihan arus mudik roda dua. Ia memperkirakan akan tiba di rumah orang tuanya di Palembang pada tanggal 20 malam, tepat saat malam takbiran.
Meski pihak keluarga sempat mempertanyakan pilihannya, Verri tetap teguh pada komitmennya. Konsistensi ini bukan sekadar untuk mencari tiket murah yang diakuinya lebih hemat sekitar Rp28.500 melainkan bentuk dedikasi terhadap hobi yang ia cintai.
"Dari orang tua dan istri selalu bilang, 'Ngapain mudik naik sepeda?'. Cuma karena saya hobi, jadi dijalani saja," jelasnya.
Baca juga: Gubernur Banten imbau pemudik cek perkiraan cuaca sebelum perjalanan
Rencananya, setelah merayakan Idul Fitri bersama orang tuanya di Palembang, Verri akan kembali ke Serpong dengan cara yang sama mengayuh sepeda melintasi aspal Sumatera.
Pria asal Serpong, Tangerang Selatan ini saat ditemui di Pelabuhan Ciwandan, Cilegon, Selasa malam menunjukkan konsistensi luar biasa dengan memilih bersepeda sebagai moda transportasi utama menuju kampung halaman di Palembang, Sumatera Selatan.
Aksi mengayuh pedal melintasi antarprovinsi ini bukanlah hal baru baginya, melainkan rutinitas tahunan yang telah dilakoninya secara konsisten sejak tahun 2018.
"Selama mudik dari tahun 2018 itu aman, tidak ada kendala. Makanya saya selalu konsisten dan tidak pernah memilih perjalanan malam untuk bersepeda," ujar Verri.
Baca juga: ASDP: Pergerakan mudik di Pelabuhan Merak-Ciwandan mulai meningkat
Berbekal sepeda jenis Surly yang telah dipastikan kelaikan komponennya, Verri memulai perjalanan dari Serpong pada pukul 09.00 WIB dan tiba di Pelabuhan Ciwandan sekitar pukul 20.00 WIB. Baginya, perjalanan jarak jauh ini tidak memerlukan persiapan fisik khusus karena bersepeda sudah menjadi bagian dari aktivitas kesehariannya. Strategi perjalanannya pun cukup terukur. Ia sengaja menghindari bersepeda di malam hari demi keamanan.
"Saya pilih naik kapal jam 12 malam agar bisa istirahat di dalam kapal. Jadi, saat tiba di Lampung sudah waktu Subuh dan bisa lanjut jalan lagi," tambahnya.
Meski harus menempuh rute yang menantang, mulai dari cuaca panas hingga melintasi kawasan hutan, Verri mengaku tetap menikmati setiap momen di atas pedal. Baginya, sepeda adalah satu-satunya hiburan yang membuatnya terus bersemangat.
Selama di perjalanan, ia membawa perlengkapan bikepacking lengkap yang disimpan di tas sepeda nya, mulai dari tenda, kantong tidur (sleeping bag), kompor portabel, hingga peralatan menyeduh kopi.
Baca juga: Demi hemat biaya, pemudik ini pilih bawa kucing mudik ke Lampung
"Satu-satunya hiburan itu ya naik sepeda. Kalau istirahat biasanya di posko mudik. Di jalan juga banyak ketemu orang baik, tadi saja di Cikupa ada yang memberi kopi dingin," tuturnya dengan senyum.
Tahun 2024 menandai pertama kalinya Verri menyeberang melalui Pelabuhan Ciwandan, mengikuti skema pengalihan arus mudik roda dua. Ia memperkirakan akan tiba di rumah orang tuanya di Palembang pada tanggal 20 malam, tepat saat malam takbiran.
Meski pihak keluarga sempat mempertanyakan pilihannya, Verri tetap teguh pada komitmennya. Konsistensi ini bukan sekadar untuk mencari tiket murah yang diakuinya lebih hemat sekitar Rp28.500 melainkan bentuk dedikasi terhadap hobi yang ia cintai.
"Dari orang tua dan istri selalu bilang, 'Ngapain mudik naik sepeda?'. Cuma karena saya hobi, jadi dijalani saja," jelasnya.
Baca juga: Gubernur Banten imbau pemudik cek perkiraan cuaca sebelum perjalanan
Rencananya, setelah merayakan Idul Fitri bersama orang tuanya di Palembang, Verri akan kembali ke Serpong dengan cara yang sama mengayuh sepeda melintasi aspal Sumatera.





