Oleh: Suf Kasman
Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar
HARI ini Ramadan ke-27.
Tersisa dua atau tiga hari lagi jika umur panjang untuk masuk garis finis.
Ibarat perjalanan jauh, kini saya benar-benar sedang memasuki fase Final Approach. Sebuah tahapan krusial menuju pendaratan yang menentukan.
Menatap arloji Bvlgari kesayanganku, muncul kesadaran mendalam.
Waktu Ramadan adalah navigasi utama menentukan keselamatan batin.
Local Time dunia sering menipu.
Padahal waktu keberangkatan setiap hamba adalah kepastian absolut tak tertunda.
Waktu Ramadan bukan deretan angka digital berkedip di layar ponsel.
Ia adalah hakim paling jujur mengadili setiap detik napas di penghujung bulan suci.
Dulu, saya mungkin sering meremehkan filosofi waktu. Menganggapnya sebagai sumber daya tak habis-habisnya.
Kini, saya makin paham ada empat hal mustahil ditarik kembali.
Batu telanjur dilempar, kata-kata lepas dari lidah, kesempatan emas terabaikan.
Dan tentu saja waktu Ramadan yang beranjak pergi tanpa menoleh.
Bicara soal relativitas, waktu Ramadan memberikan pelajaran unik pada pintu kamar mandi.
Saat berada di dalam, lima menit terasa secepat kedipan mata. Tapi saat berdiri di luar menahan hajat, lima menit berasa bagai menunggu antrean panjang bawah terik matahari.
Baru-baru ini, saya menunggu antrean di depan pintu toilet. Pelan-pelan saya ketuk pintunya.
Muncul rasa was-was, jangan sampai pria berjanggut penuh tato yang keluar.
Bisa bahaya jika dia tersinggung karena ketukan saya.
Sambil menunggu, perut sudah beraksi dengan bunyi kentut mirip dentum mercun tahun baru. Eh, ternyata yang keluar anak kecil usia kira-kira 3 tahun. Ketakutan saya ternyata salah alamat. Sontoloyo!
Begitulah sisa waktu Ramadan kita hari ini.
Terasa singkat bagi mereka sibuk beribadah. Namun terasa abadi bagi mereka sekadar menunggu waktu berbuka tanpa amal saleh.
Teringat seorang kawan memajang jam dinding rusak di rumahnya.
Katanya: “Biar saya selalu ingat… waktu boleh saja berhenti berdetak, tapi utang janji kepada Tuhan tetap harus dibayar lunas.”
Ini adalah tamparan bahwa cicilan amal di sisa waktu Ramadan jauh lebih mendesak pembayarannya daripada tagihan bank.
Saat cek dompet ternyata “kritis”, muncul pikiran getir.
Tidak sedikit orang begitu dermawan menghamburkan waktu untuk urusan dunia yang fana. Namun, mendadak jadi kikir saat harus mengalokasikannya untuk urusan akhirat.
Pernah seorang ustaz ditanya: “Kenapa waktu Ramadan terasa cepat sekali berlalu?”
Jawabnya telak: “Karena yang kita kejar adalah pahala… bukan berburu diskon di pusat perbelanjaan Mall MP.”
Sindiran ini menampar batin yang sering lebih sibuk mengecek diskon baju daripada mengecek sisa umur. Padahal, penghujung waktu Ramadan ibarat fasilitas first class muncul sekali setahun.
Kursi ini tidak bisa di-booking dengan uang, melainkan keringat amal saleh.
Masalah waktu juga sering memicu drama komedi di meja sahur.
Alarm pagi berbunyi nyaring, lalu dengan cekatan saya matikan. Lima menit kemudian berteriak lagi, kembali saya bungkam.
Kesimpulannya sederhana: bukan alarmnya lemah. Tapi “mesin” iman menjemput berkah waktu Ramadan sedang butuh servis besar.
Belum lagi penyakit era digital.
Baru saja duduk membuka HP, tiba-tiba waktu dua jam hilang entah ke mana.
Kerap saya singgah di kafe-kafe, duduk ngopi sambil berniat merampungkan tulisan opini untuk esok harinya.
Namun jujur, terkadang di sana saya lebih sering membuang waktu daripada menuju tujuan hakiki.
Waktu Ramadan berjalan terus, saya pun ikut berjalan. Tapi terkadang langkah ini lebih banyak membuang waktu daripada mencapai target spiritual.
Padahal Waktu Ramadan sebenarnya sangat adil. Semua orang dapat jatah 24 jam sama setiap hari.
Bedanya pada eksekusi: ada benar-benar memakai bekerja mengejar rida-Nya.
Jangan biarkan amalan terabaikan hanya karena salah menghitung sisa waktu Ramadhan.
Tuhan sedang memberikan diskon ampunan besar-besaran bagi mereka pandai membagi waktu bersujud.
Rugi besar jika hanya menjadi penonton saat rombongan hamba pilihan sukses mencapai finis tepat waktu.
Waktu Ramadan laksana aliran air di sungai Jeneberang yang tak akan kembali ke hulu. Setiap detik terbuang adalah kerugian permanen tidak bisa ditutup kompensasi apa pun.
Mari manfaatkan sisa napas sebelum mencapai batas akhir waktu dunia.
Sangat ironis jika kita begitu sibuk berburu tiket mudik untuk pulang ke kampung halaman.
Namun lupa mengecek kesiapan “tiket” untuk pulang ke kampung akhirat.
Jangan biarkan Ramadan lewat hanya sebagai angin lalu yang mendinginkan keringat. Sebab kita adalah pengembara di fase Final Approach.
Berjuanglah, agar perjalanan ini tidak berakhir dengan tangan hampa saat napas benar-benar habis.
Selasa, 27 Ramadan 1447 H/ 17 Maret 2026





