JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai dampak kenaikan harga bensin akibat konflik internasional antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Rano berkelakar, kondisi perang yang tak kunjung usai membuat kepala pusing karena harga BBM melonjak tajam.
“Kalau memang keadaan perang masih terjadi, Bapak, Ibu sekalian, kepala kita di sini juga nyut-nyutan. Kalau bensin naik seratus 100 dollar lebih,” ucap Rano di Balai Kota Jakarta, Selasa (17/3/2026).
Baca juga: Ikuti Arahan Prabowo, Pramono Siap Berlakukan WFH bagi ASN Jakarta demi Hemat BBM
Tidak hanya harga bahan bakar, konflik antarnegara ini juga memicu kenaikan harga bahan pokok.
Menurut Rano, pemerintah menghadapi situasi yang sangat tidak mudah.
"Kemudian harga kebutuhan pokok naik. Nggak gampang, Bapak-bapak,” kata Rano.
Menanggapi situasi ini, Rano mendorong masyarakat untuk memperkuat silaturahmi pasca hari raya.
Ia mencontohkan, kegiatan makan bersama di Balai Kota bisa lebih sering dilakukan sebagai bentuk kebersamaan menghadapi tekanan ekonomi.
“Karena itulah setelah Hari Raya Lebaran, harus makin kita sering silaturahmi. Minimal makan bareng di Balai Kota akan lebih diseringkan,” kata Rano.
Baca juga: Perang Iran–AS Jadi Pengingat Ketergantungan Impor Energi Indonesia
Di lain sisi, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung membuka opsi penerapan kerja dari rumah atau work from home (WFH) untuk mengantisipasi dampak krisis global, termasuk potensi kenaikan harga BBM akibat konflik internasional.
Pramono menegaskan, langkah ini merupakan tindak lanjut dari arahan pemerintah pusat.
“Untuk Work From Home, maka apa yang menjadi arahan dari pemerintah pusat akan dijalankan di DKI Jakarta juga,” ujar Pramono saat ditemui di kawasan Monas, Jakarta Pusat, Selasa.
Pramono menyebut, konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang berlarut-larut berpotensi memberi tekanan pada pasokan energi dunia.
Kondisi tersebut, kata dia, dapat berdampak pada ketersediaan gas dan BBM, termasuk di Indonesia.
“Perang di Iran yang terlalu lama ini pasti akan memberikan tekanan penyediaan energi terutama untuk gas dan juga untuk BBM,” kata dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




