Euforia Bukber, Baju Lebaran, dan Harapan Ekonomi Melesat 6% Meski Ada Perang

katadata.co.id
2 jam lalu
Cover Berita

Mal Grand Indonesia di Jakarta Pusat sangat ramai menjelang jam berbuka puasa, terutama sejak pekan kedua Ramadan. Hampir semua restoran dan kafe penuh. Jangan harap bisa mendapatkan tempat jika baru datang ke restoran mendekati jam berbuka puasa, tanpa reservasi lebih dulu.

Di beberapa restoran tertentu, reservasi untuk jam berbuka puasa bahkan sudah penuh hingga menjelang Hari Raya Idul Fitri sejak awal pertengahan Ramadan. Bulan puasa memang membawa berkah bagi bisnis restoran, terutama karena adanya euforia buka bersama atau kerap disebut bukber. 

Jauh sebelum ramai bukber, pengeluaran masyarakat untuk restoran dan hotel telah menjadi salah satu pendorong ekonomi pada kuartal keempat 2025. Pertumbuhan mencapai 6,38% secara tahunan dan mendorong konsumsi rumah tangga tumbuh 5,11% serta ekonomi kuartal IV 2025 secara keseluruhan tumbuh 5,39% yoy. 

Pemerintah pun mengharapkan hal yang sama dapat terjadi pada kuartal pertama tahun ini.  Konsumsi rumah tangga selama Ramadan dan Lebaran diharapkan mendongkrak ekonomi kuartal I 2026.

Stimulus Lebaran dan Harapan Ekonomi Melesat 6%

Sebelum perang antara Iran dan Amerika Serikat meletus pada 28 Februari 2026, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sangat yakin ekonomi kuartal pertama tahun ini akan melesat dan mampu tumbuh 5,5% hingga 6%. Salah satu pendorongnya adalah tunjangan hari raya ASN dan pegawai swasta, serta bantuan sosial yang akan mendorong konsumsi masyarakat. 

Pemerintah telah mengucurkan anggaran mencapai Rp 55 triliun untuk pembayaran THR ASN, TNI, Polri, hingga pensiunan. Sedangkan THR yang akan dibayarkan para pengusaha untuk para karyawannya diperkirakan mencapai Rp 127 triliun jika mengacu data BPJS Ketenagakerjaan. 

Pemerintah juga memberikan sejumlah stimulus untuk menopang daya beli masyarakat selama Ramasan dan Lebaran. Program stimulus mencakup diskon transportasi hingga percepatan penyaluran bantuan sosial senilai Rp 12,8 triliun. 

Namun, mampukah stimulus-stimulus ini benar-benar mendongkrak ekonomi sesuai harapan Purbaya?

Sejumlah data-data terbaru menunjukkan momentum Ramadan memberikan suntikan bagi perekonomian di dalam negeri. Data PMI Manufaktur Indonesia yang dirilis S&P Global pada Februari 2026 naik dari 52,6 pada bulan sebelumnya menjadi 53,8. Level tersebut merupakan yang tertinggi dalam dua tahun terakhir dan menandai kondisi industri dalam mode ekspansi yang kuat, didorong oleh peningkatan produksi dan pensanan baru menjelang Ramadan.

Adapun angka di atas 50 menunjukkan sektor manufaktur berada pada mode ekspansi atau tumbuh, sedangkan level di bawah 50 menunjukkan sektor manufaktur sedang berada pada mode kontraksi atau penurunan. 

Indeks Keyakinan Konsumen yang dirilis Bank Indonesia pada Februari berada di zona optimistis di level 125,2 meski menurun dibandingkan bulan sebelumnya. 

Data Mandiri Spending Index (MSI) juga menunjukkan peningkatan konsumsi masyarakat yang signifikan, didorong oleh momentum Ramadan, dengan indeks mencapai 360,7 pada Maret 2026. Belanja masyarakat tetap resilien pada awal 2026, didukung belanja pemerintah yang agresif dan konsumsi rumah tangga yang kuat, terutama di kuartal I.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto meyakini, konsumsi domestik selama Ramadan sangat kuat. Hal ini terutama didorong oleh program diskon Belanja di Indonesia Saja (BINA) serta momentum tunjangan hari raya (THR).

"Mandiri Spending Index lebih dari 360,7 dan kalau kita lihat ke pasar-pasar atau ke mall program diskon dari BINA juga jalan terus apalagi THR sudah digelontorkan," ujar Airlangga saat media gathering di Kantor Menko Perekonomian,  Senin (16/3). 

Meski ada situasi perang, Airlangga masih optimistis pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 mencapai 5,5%. Ia memastikan APBN bekerja sebagai penyerap gejolak atau shock absorber yang timbul akibat dampak perang di Timur Tengah. 

Pemerintah juga telah menyiapkan langkah-langkah mitigasi risiko eksternal. Salah satu fokusnya adalah memastikan ketersediaan BBM dan mendorong efisiensi konsumsi energi melalui kebijakan work from home (WFH) serta penghematan anggaran di berbagai Kementerian/Lembaga (K/L).

"Arahan Presiden terkait dengan dampak perang Iran, AS, dan Israel Ini untuk mempercepat ketersediaan BBM serta mengambil langkah untuk penghematan konsumsi BBM. Penerapan work from home dan perlunya disiplin fiskal memastikan defisit tidak meningkat," kata dia.

Deputi Bank Indonesia Aida S. Budiman mengatakan, momentum pertumbuhan ekonomi pada kuartal I mulai terlihat menguat, terutama didorong oleh peningkatan permintaan domestik menjelang Idulfitri. Konsumsi rumah tangga, menurut dia, meningkat seiring momen hari besar keagamaan, perbaikan pendapatan, penyaluran THR, bantuan sosial, serta berbagai insentif pemerintah. Di sisi lain, investasi juga menunjukkan akselerasi melalui berbagai program dan proyek strategis pemerintah.

Dengan perkembangan tersebut, menurut Aida, pertumbuhan ekonomi kuartal I diperkirakan  lebih baik dibandingkan kuartal IV 2025. "Sedangkan proyeksi pertumbuhan PDB tahun ini tetap berada di kisaran 4,9% hingga 5,7%," ujar Aida. 

Di sisi lain, BI juga akan terus mencermati sejumlah risiko, terutama terkait perkembangan eskalasi konflik di Timur Tengah. Kondisi geopolitik itu berpotensi memengaruhi inflasi melalui gangguan pasokan dan kenaikan harga komoditas global.

Efek Perang Belum Berdampak ke Daya Beli

Meski efek perang Iran dan AS terlihat pada harga minyak, kurs rupiah, dan ihsg, dampaknya masih terbatas pada kanal pasar keuangan dan belum merembet ke inflasi. Kondisi ini dinilai membuat daya beli masyarakat secara umum tetap terjaga, sehingga konsumsi, terutama selama Ramadan dan Idulfitri, masih berpotensi menjadi penopang pertumbuhan ekonomi. 

Policy and Program Director Prasasti Center for Policy Studies Piter Abdullah menilai, siklus musiman Ramadan dan Lebaran tetap berhasil mendorong ekonomi meskipun di tengah tekanan global, termasuk perang di Timur Tengah.

Menurut Piter, indikasi tersebut terlihat dari pergerakan mudik yang tetap terjadi serta meningkatnya aktivitas belanja masyarakat menjelang Lebaran. Meski dampaknya belum sepenuhnya tercermin dalam data resmi, ia memperkirakan dorongan terhadap perekonomian tetap positif. Namun, skala dampaknya kemungkinan lebih kecil dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Senada dengan Piter, Ekonom Bank Permata Faisal menyebut pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 akan sangat ditopang oleh konsumsi masyarakat selama Ramadan dan Idulfitri. Ia menilai dampak konflik Timur Tengah sejauh ini lebih terasa melalui kanal pasar keuangan dan belum signifikan memicu inflasi, sehingga daya beli masyarakat relatif masih terjaga.

Selain faktor konsumsi, Faisal juga melihat adanya dorongan dari efek basis rendah tahun lalu, mengingat pertumbuhan kuartal I 2025 berada di bawah 5 persen. Dari sisi fiskal, belanja pemerintah yang lebih terakselerasi, termasuk melalui program MBG, turut menjadi penopang tambahan.

Dengan kombinasi faktor tersebut, pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 dinilai memiliki peluang untuk lebih tinggi dibandingkan kuartal IV 2025.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
APBN Dijaga Ketat, Ini Jenis Anggaran yang Dipangkas Pemerintah Demi Tahan Defisit 3 Persen
• 3 jam lalutvonenews.com
thumb
H-4 Lebaran 2026, Arus Mudik di Kalikangkung Tembus 1.300 Kendaraan per Jam
• 8 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Harga Cabai Rawit Merah di Jatim Tembus Rp85.950 Per Kg, Ayam Ras Rp41.550 Per Kg
• 10 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Kronologi Kecelakaan Beruntun di Tol Pemalang, Berawal dari Bus Hilang Kendali sampai Hantam 5 Mobil Pemudik
• 10 jam lalugrid.id
thumb
NATO: Implikasi Serangan AS–Israel ke Iran bagi Aliansi Barat
• 5 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.