Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut subsidi untuk BBM masih aman jika harga minyak dunia ada di level USD 100 per barel. Angka itu memang lebih tinggi dari asumsi rata-rata dalam APBN. Asumsi Indonesia Crude Price (ICP) dalam APBN 2026 ditetapkan sebesar USD 70 per barel.
“Berapa harga subsidinya? Itu kita lihat perkembangan geopolitik. Tapi kalau dengan harga insyaallah, kalau USD 100, antara USD 100, sekarang, kan, USD 70. Kalau masih USD 100 itu insyaallah masih dalam koridor APBN,” kata Bahlil usai melepas rombongan mudik sektor ESDM di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta pada Selasa (17/3).
“Masih bisa kita exercise, tapi ini masih dalam bahasan,” lanjutnya.
Terkait stok BBM sampai setelah Maret, Bahlil menjelaskan sudah memiliki strategi. Untuk itu, ia juga akan terus memastikan negara terus hadir dalam urusan subsidi BBM.
“Sudah, strateginya setelah Maret itu sudah kita lakukan. Bagi yang penting adalah kita, stok semuanya harus ada. Supaya tidak ada kelangkaan di Indonesia. Baik LPG, bensin, maupun solar. Menyangkut harga, negara akan tetap hadir untuk subsidi. Tetap akan hadir,” ujarnya.
Adapun pada penutupan perdagangan Senin (13/3), harga minyak mentah dunia turun sekitar 3 persen setelah beberapa kapal berlayar melalui Selat Hormuz, bahkan ketika sekutu AS menolak seruan Presiden Donald Trump untuk membantu membuka blokade selat tersebut, dan ketika kepala IEA menyarankan lebih banyak cadangan dapat dilepaskan untuk menekan biaya akibat perang.
Dikutip dari Reuters, harga minyak mentah Brent turun USD 2,93, atau 2,8 persen, menjadi USD 100,21 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun USD 5,21, atau 5,3 persen, menjadi USD 93,50 per barel.





