PT Bank Central Asia Tbk (BCA) memproyeksikan Bank Indonesia (BI) kembali mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 4,75% di tengah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang sempat menyentuh level Rp17.000.
Chief Economist BCA, David Sumual, mengatakan bahwa keputusan untuk menahan suku bunga untuk menjaga daya tarik aset rupiah di tengah tekanan eksternal yang masih kuat.
“Tetap ya, tekanan eksternal masih cukup kuat dan daya tarik aset rupiah perlu dipertahankan,” kata David kepada Warta Ekonomi, Jakarta, Selasa (17/3/2026).
Menurutnya, pelemahan rupiah turut dipengaruhi oleh meningkatnya sentimen global, termasuk konflik yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah. Selain itu, David juga menyoroti penurunan outlook Indonesia oleh lembaga survei yang mengubah status dari stabil menjadi negatif.
“Tekanan terhadap rupiah masih tergantung pada seberapa cepat perang berakhir dan bagaimana outlook sovereign rating Indonesia ke depan,” terangnya.
Baca Juga: BI Kembali Tahan BI Rate di Level 4,75%
Baca Juga: Bank Mandiri Prediksi BI Rate Hanya Turun Dua Kali Tahun Ini
Sebagai informasi, BI sebelumnya telah memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate di level 4,75% dalam RDG yang digelar pada 18–19 Februari 2026. Selain itu, suku bunga Deposit Facility tetap berada di level 3,75% dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,50%.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa kebijakan tersebut diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian global, sekaligus mendukung pencapaian target inflasi dan pertumbuhan ekonomi nasional.
“Bank Indonesia pada 18–19 Februari 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75%. Suku bunga Deposit Facility tetap sebesar 3,75% dan suku bunga Lending Facility tetap sebesar 5,50%,” ujar Perry dalam konferensi pers virtual, Rabu (19/2/2026).





