SUDAH lebih dua pekan perang Israel-Amerika versus Iran berlangsung. Perlawanan balasan Iran yang diserang duluan semakin ganas pula. Jangankan akhir cerita, bahkan jeda pertempuran pun, belum tampak tanda-tandanya.
Meski di sana perang, ekonomi secara global seketika bergejolak. Pasar finansial bereaksi keras. Terjadi volatilitas nilai tukar mata uang. Begitu di bursa saham dan komoditas lainnya.
Perdagangan intetnasional (ekspor-impor) tersendat. Laju pertumbuhan perekonomian bakal tersendat. Tak terkecuali perekonomian Indonesia seketika ikut meriang.
Betapa tidak, ledakan perang Israel-AS melawan Iran membuat harga minyak dan gas langsung menyala. Wilayah strategis Iran, Selat Hormuz, seketika menjadi fokus utama dan konsen global.
Pasalnya, 20 persen perdagangan minyak mentah dunia melewati selat sempit itu. Gas alam cair (LNG) 20 persen, urea/pupuk nitrogen bahkan sampai 40 persen, perdagangan batang global 11 persen.
Terutama minyak, gas, dan kebutuhan negara-negara Asia, seperti China, Jepang, Korea Selatan. Termasuk pula Indonesia.
Panas demamnya perekonomian Indonesia semakin meningkat jika perang berlangsung dalam waktu lama. Diperlukan segera resep penurun panas yang tokcer. Sebelum perekonomian makin mendidih merebus kantong rakyat.
Awam bertanya, mengapa Indonesia? Bukankah Indonesia termasuk pengekspor migas? Kalau harga minyak naik berarti Indonesia untung. Benar.
Tetapi Indonesia juga mengimpor jenis minyak dan gas yang tidak diproduksi di dalam megeri. Neraca perdagangan migas Indonesia (ekspor dikurangi impor) minus alias defisit.
Nah, dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) asumsi harga minyak mentah hanya 70 dollar AS per barel. Kalau harga minyak naik otomatis pemerintah merogoh kantong lebih dalam. Belanja minyak bakal lebih besar untuk memenuhi kebutuhan yang sudah diprediksi sebelumnya sebagai salah satu asumsi dalam penyusunan APBN.
Artinya, APBN yang memang sudah dirancang defisit (lebih besar pasak daripada tiang, lebih besar pengeluaran dari pendapatan) bakal semakin boncos. Defisitnya membengkak.
Angka defisit APBN bakal semakin menggelembung jika perang membuat pasar valuta asing kian bergejolak juga. Misalnya, nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS.
Nilai tukar mata uang, ditentukan antara lain faktor persepsi dan interpretasi pelaku pasar, selain faktor fundamental ekonomi. Jika pasar valuta bergejolak, otomatis bank sentral masuk pasar melalukan intervensi mencegah rupiah ambruk. Bank sentral (Bank Indonesia) menggunakan cadangan devisa yang ada.
Nilai tukar rupiah anjlok, harga minyak melonjak, defisit APBN membengkak, maka fundamental ekonomi goyah, rapuh. Dispekulasi para spekulan, bahaya. Pemerintah harus mengeluarkan lebih banyak rupiah tambahan untuk membayar pembelian minyak dan bayar utang yang jatuh tempo (harus dibayar).
Mengapa? Karena harga minyak dan nominal utang jatuh tempo dibayar pakai dollar, bukan pakai rupiah. Tambah banyak rupiah yang harus dikuras untuk membayar keduanya, harga minyak impor dan harga dolar AS.
Kalau perekonomian negara-negara mitra dagang Indonesia juga terganggu akibat perang, permintaan akan barang ekspor Indonesia juga menurun. Akibatnya, produksi barang ekapor Indonesia juga melemah. Pabrik-pabrik bisa mengurangi produksi.
Dampaknya, sumber pendapatan pemerintah berupa pajak dari kegiatan produksi dan transaksi juga anjlok. Bisa terjadi juga pengurangan tenaga kerja. Pengangguran bertambah. Kemiskinan meningkat. Permintaan barang konsumsi dalam negeri pun menurun.
Begitulah dampak perang berkelindan, kait-mengait seperti benang kusut. Perlu penanganan tepat mengurainya. Resep agar demam panas perekonomian turun stabil harus komprehensif dan tepat dosis. Jika tidak, misalnya ada satu resep yang over dosis, dan ada sakit yang diabaikan, maka demamnya bisa saja reda, tapi pasiennya muntaber. Misalnya...
(Andi Suruji)




