Ibunya Ditekan di Dalam Negeri, Kapten Timnas Sepak Bola Wanita Iran yang Sempat Dilabeli Pengkhianat Tarik Permohonan Suaka

erabaru.net
9 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Media resmi Iran pada 15 Maret melaporkan bahwa kapten tim nasional sepak bola wanita Iran yang sebelumnya memperoleh suaka di Australia, Zahra Ghanbari, telah mengubah keputusannya dan menarik permohonan suaka.

Sumber informasi menyebutkan bahwa ibu Ghanbari di Iran mendapat tekanan dari Islamic Revolutionary Guard Corps, sehingga memaksanya memilih untuk kembali ke Iran.

Menurut kantor berita resmi Iran Islamic Republic News Agency (IRNA), Ghanbari—yang menjabat sebagai kapten tim, penyerang, dan pencetak gol terbanyak tim nasional—telah menarik permohonan suakanya. Ia disebut akan berangkat dari Australia ke Malaysia terlebih dahulu, sebelum kemudian kembali ke Iran.

Saat ini, karena serangan udara dari pasukan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, tim sepak bola wanita Iran sementara berada di Malaysia, dan jadwal perjalanan selanjutnya masih belum dipastikan.

Pada 6 Maret, ketika serangan udara terhadap Iran sedang berlangsung, tim nasional sepak bola wanita Iran yang sedang bertanding di Australia dalam Piala Asia memilih diam saat lagu kebangsaan diputar sebelum pertandingan, sebagai bentuk protes terhadap pemerintah di Tehran. Tindakan ini menarik perhatian luas dari masyarakat internasional.

Setelah kejadian itu, seorang pembawa acara televisi nasional Iran menuduh para pemain tersebut sebagai “pengkhianat negara”, yang memicu kekhawatiran bahwa mereka dapat menghadapi penganiayaan atau konsekuensi lebih buruk jika kembali ke Iran.

Dalam situasi ketakutan tersebut, para pemain juga meminta bantuan kepada dunia luar. Sebanyak 7 pemain meninggalkan tim dan mendapat perlindungan dari pemerintah Australia.

Namun, di bawah ancaman dan tekanan dari otoritas Iran, termasuk kapten tim Zahra Ghanbari, 5 pemain serta beberapa staf akhirnya membatalkan permohonan suaka dan kemudian dibawa oleh staf konsulat Iran di Australia. Keselamatan para pemain ini kemudian menjadi perhatian luas opini publik internasional.

Pihak berwenang Australia belum memberikan komentar resmi mengenai situasi Ghanbari. Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri Australia Tony Burke pernah menyatakan bahwa tiga pemain timnas wanita Iran yang membatalkan suaka telah memutuskan untuk kembali ke Iran.

Ia mengatakan bahwa setelah para pemain menyampaikan keputusan tersebut kepada pejabat Australia, “kami memberikan beberapa kesempatan kepada mereka untuk mendiskusikan pilihan mereka.” Namun menurutnya, para pemain tersebut menghadapi “keputusan yang sangat sulit.”

Ada laporan yang menyebutkan bahwa para pemain yang sempat melarikan diri itu dipaksa mengubah keputusan mereka karena keluarga mereka di Iran menerima ancaman.

Mantan pemain tim nasional futsal wanita Iran yang kini hidup dalam pengasingan di luar negeri, Shiva Amini, menulis di platform X bahwa ia mendapat informasi bahwa Federasi Sepak Bola Iran bekerja sama dengan Garda Revolusi Iran untuk memberikan tekanan kuat dan sistematis kepada keluarga para pemain di Iran.

Amini—yang sebelumnya meninggalkan Iran setelah menuai kontroversi karena tidak mengenakan hijab—mengatakan bahwa pemerintah di Tehran memberi tekanan langsung kepada ibu Ghanbari, yang menunjukkan betapa keras dan tanpa komprominya metode yang digunakan pemerintah untuk memaksa para atlet tersebut tunduk.

Saluran televisi oposisi Iran International juga menyatakan bahwa mereka menerima informasi bahwa keluarga para pemain mendapat ancaman. Ibu Ghanbari bahkan disebut dipanggil oleh badan intelijen Garda Revolusi, dan setelah itu Ghanbari diberi tahu mengenai interogasi tersebut.

Kelompok hak asasi manusia sebelumnya juga berulang kali menuduh pemerintah Republik Islam Iran bahwa jika seorang atlet melarikan diri ke luar negeri atau menyampaikan kritik terhadap pemerintah, pihak berwenang sering menekan mereka dengan cara mengancam keluarga atau menyita harta milik mereka di dalam negeri. (Hui)

Luo Tingting/Wen Hui


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dolar Dekati Rp17.000/US$, Airlangga: Ekonomi RI Solid
• 13 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Brimob Jaga Ketat Olah TKP Masjid di Jember yang Diguncang Ledakan
• 10 jam laluviva.co.id
thumb
Wakil Ketua Komisi VIII DPR: Kemenag Berhasil Bayarkan TPG Guru Sebelum Lebaran
• 43 menit lalurepublika.co.id
thumb
Curhat Sejoli di Pelabuhan Ciwandan, Mudik Pertama ke Lampung sebagai Pasutri
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Potret Invasi Darat Israel ke Negara Arab, Timur Tengah Makin Panas
• 23 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.