FAJAR, MAKASSAR — Fenomena penempatan ruang ibadah di sudut-sudut sempit bangunan modern menjadi sorotan reflektif Guru Besar Filsafat dan Pemikiran Islam UIN Alauddin Makassar, Prof. Barsihannor.
Dalam tulisannya bertajuk “Tuhan di Lorong Sempit”, ia mengangkat realitas yang kerap luput dari perhatian publik, yakni bagaimana ruang spiritual sering kali berada di posisi yang tidak sebanding dengan ruang komersial.
Dalam berbagai gedung modern seperti hotel, perkantoran, hingga pusat perbelanjaan, ruang-ruang megah umumnya diperuntukkan bagi aktivitas ekonomi.
Lobi luas, restoran mewah, serta ruang pertemuan dirancang dengan estetika tinggi dan fasilitas lengkap. Namun di sisi lain, ruang ibadah kerap ditempatkan di area tersembunyi, sempit, dan sekadar memenuhi standar minimal.
Kondisi ini, menurutnya, bukan hanya persoalan desain bangunan semata, melainkan mencerminkan cara pandang manusia modern dalam menempatkan nilai spiritual di tengah kehidupan yang semakin materialistik.
Ruang ibadah yang terpinggirkan seolah menjadi simbol bahwa hubungan dengan Tuhan sering kali hanya menjadi pelengkap di tengah kesibukan duniawi.
“Menempatkan ruang ibadah di sudut sempit kadang terasa seperti simbol yang tidak disengaja tentang bagaimana manusia modern menempatkan Tuhan dalam kehidupannya, ada, tetapi sering berada di pinggiran,” tulisnya, Selasa, 17 Maret 2026.
Meski demikian, ia juga mengapresiasi sejumlah pusat perbelanjaan di Makassar yang mulai menghadirkan ruang ibadah yang lebih layak.
Mushalla tidak lagi diposisikan sebagai ruang sisa, melainkan bagian integral dari desain bangunan dengan fasilitas yang nyaman, bersih, dan estetis.
Fenomena ini dinilai sebagai langkah positif yang menunjukkan bahwa modernitas dan spiritualitas dapat berjalan beriringan.
Kehadiran ruang ibadah yang representatif tidak hanya memenuhi kebutuhan teknis, tetapi juga menunjukkan penghormatan terhadap nilai-nilai religius di tengah kehidupan urban.
“Ia menunjukkan bahwa modernitas dan spiritualitas tidak harus dipertentangkan,” lanjutnya.
Lebih jauh, refleksi tersebut tidak berhenti pada aspek fisik bangunan.
Prof. Barsihannor mengajak masyarakat untuk melihat persoalan ini sebagai gambaran yang lebih luas tentang “arsitektur kehidupan” manusia.
Banyak individu, menurutnya, menghabiskan sebagian besar energi untuk pekerjaan dan urusan material, sementara hubungan dengan Tuhan hanya mendapatkan sisa waktu.
Dalam konteks ini, ia menilai bahwa posisi Tuhan dalam kehidupan sering kali berada di “lorong sempit” perhatian manusia. Padahal, kesadaran spiritual justru menjadi fondasi bagi lahirnya nilai-nilai seperti kejujuran, kepedulian, dan keseimbangan hidup.
“Tuhan hadir dalam hidup manusia, tetapi kadang hanya di ‘lorong sempit’ waktu dan perhatian,” ujarnya.
Melalui tulisannya, ia mengajak pembaca untuk merenung kembali tentang prioritas hidup.
Ia menegaskan bahwa meskipun Tuhan tidak membutuhkan ruang besar, manusia justru memerlukan ruang yang luas untuk selalu mengingat-Nya.
Refleksi ini menjadi pengingat bahwa penempatan ruang ibadah, baik dalam bangunan maupun dalam hati, mencerminkan nilai yang dianggap penting dalam kehidupan.
Ketika ruang spiritual diberi tempat utama, maka kehidupan diyakini akan memiliki arah yang lebih bermakna dan seimbang.(an)




