BI Catat Utang Luar Negeri RI Januari 2026 Naik 1,7 Persen Jadi US$434,7 Miliar

viva.co.id
11 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Bank Indonesia (BI) mencatat Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Januari 2026 tetap terjaga dengan posisi sebesar US$434,7 miliar atau secara tahunan tumbuh 1,7 persen (year on year/yoy). Pertumbuhan ULN tersebut lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada Desember 2025 yang sebesar 1,8 persen (yoy).

“Perkembangan ini terutama dipengaruhi oleh ULN sektor publik,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan di Jakarta, Selasa, 17 Maret 2026.

Baca Juga :
Rupiah Melemah Dibayangi Beban Pembayaran Bunga Utang & Dinamika Timur Tengah
Purbaya Kasih Bocoran Terbaru Soal Restrukturisasi Utang Whoosh, Begini Katanya

Lebih lanjut, ULN Pemerintah pada Januari 2026 tercatat sebesar US$216,3 milia atau secara tahunan tumbuh 5,6 persen (yoy), sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada Desember 2025 sebesar 5,5 persen (yoy).

Perkembangan ULN pada Januari 2026 tersebut dipengaruhi oleh penarikan pinjaman luar negeri untuk mendukung pelaksanaan program dan proyek pemerintah serta aliran masuk modal asing pada Surat Berharga Negara (SBN) internasional seiring dengan tetap terjaganya kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.

Sebagai salah satu instrumen dalam pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), ULN pemerintah dikelola secara cermat, terukur, dan akuntabel dengan pemanfaatan yang terus diarahkan untuk mendukung pembiayaan program-program prioritas guna menjaga keberlanjutan fiskal serta memperkuat perekonomian nasional.

Berdasarkan sektor ekonomi, penggunaan ULN pemerintah dimanfaatkan antara lain untuk mendukung sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (22,0 persen dari total ULN pemerintah); administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (20,3 persen); jasa pendidikan (16,2 persen); konstruksi (11,6 persen); serta transportasi dan pergudangan (8,5 persen).

Posisi ULN pemerintah tersebut didominasi utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,98 persen dari total ULN pemerintah. Di sisi lain, ULN swasta menurun dari sebesar US%194,0 miliar pada Desember 2025 menjadi sebesar US$193,0 miliapada Januari 2026.

Secara tahunan, ULN swasta mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 0,7 persen (yoy) pada Januari 2026, lebih dalam dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar 0,2 persen (yoy). Penurunan posisi ULN swasta tersebut dipengaruhi oleh ULN perusahaan bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations).

Berdasarkan sektor ekonomi, ULN swasta terbesar berasal dari sektor industri pengolahan; jasa keuangan dan asuransi; pengadaan listrik dan gas; serta pertambangan dan penggalian, dengan pangsa mencapai 80,1 persen terhadap total ULN swasta.

Baca Juga :
BI Lakukan Hal Ini Tekan Praktik Money Changer Ilegal di Bali
Rupiah Melemah saat Beban Utang Naik & Kinerja APBN Dinilai Gali-Tutup Lubang
Dicky Kartikoyono Usul Sekuritisasi Kredit UMKM dalam Seleksi DK OJK

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Korlantas Polri berlakukan "one way" nasional pada 18 Maret
• 9 jam laluantaranews.com
thumb
APBN Turun ke Daerah: Desentralisasi Fiskal dan Geliat Ekonomi Lebaran
• 9 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Cerita Orangtua Melawan Konten “Brainrot” yang Dikonsumsi Anak di Medsos
• 5 jam lalukompas.com
thumb
Prediksi Puncak Arus Mudik 18 Maret, Korlantas Akan Terapkan One Way Nasional
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
Kuba Alami Pemadaman Listrik Secara Nasional Usai Jaringan Runtuh Total
• 1 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.