Perang Bikin Was-was, Begini Ternyata Kondisi Indonesia Sebenarnya!

cnbcindonesia.com
3 jam lalu
Cover Berita
Foto: Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto saat mengikuti Sidang Kabinet Paripurna, Istana Negara, Jakarta, Jumat (13/3/2026). (Tangkapan Layar Youtube/ Sekretariat Presiden)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah menegaskan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih baik-baik saja meskipun ada gejolak ekonomi akibat perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran.

Seperti diketahui bahwa dampak dari perang tersebut adalah kenaikan harga minyak mentah dunia yang mencapai di atas US$100 per barel. Sehingga menimbulkan kekhawatiran kenaikan inflasi global, penurunan daya beli masyarakat, hingga krisis ekonomi.

Meskipun demikian, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa berdasarkan indikator makro ekonomi menunjukkan bahwa Indonesia masih kuat.


Baca: Purbaya Pilih Efisiensi Anggaran: Ngutang Terus, Nanti Marah-marah

Pertama, dari sisi daya beli masyarakat Airlangga menunjukkan bahwa konsumsi domestik dan Mandiri Spending Index masih berada di level yang baik.

"Kita punya konsumsi domestik itu masih kuat, masih 54% dari PDB, dan Mandiri Spending Index sudah 360,7, itu tinggi. Kalau kita lihat ke pasar-pasar atau ke mall ramai, dan program diskon dari Bina Belanja di Indonesia saja juga jalan terus. Apalagi THR sudah digelontorkan, sudah cair, sehingga daya beli masyarakat terasa baik," ungkapnya kepada awak media di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta pada Senin (16/3/2026).

Kemudian dia menekankan bahwa utang negara sebesar 40% dari PDB, atau di bawah batas aman 60%.

"Rasio utang luar negeri ini 29,9% itu utang yang luar negeri. Utang dalam negeri ada sekitar 10% lagi, jadi total utang kita 40%," ucapnya.

Selain itu, tingkat cadangan devisa Indonesia juga disebutkan oleh Airlangga masih mampu mencukupi 6 bulan impor. Serta indeks manufaktur Indonesia dijelaskan Airlangga berada dalam posisi yang tinggi, yakni 53,8 yang menurutnya sebagai indikasi bahwa adanya kepercayaan berusaha bagi usaha pengolahan.

"Dari segi manufaktur juga baik 53,8. Ini sebetulnya all time high, ini tertinggi. Artinya para manufaktur ini optimis dengan berbagai perjanjian yang ditandatangani, sehingga mereka punya kepercayaan tinggi terhadap apa yang dijalankan oleh pemerintah," terang Menko Perekonomian.

Baca: Defisit APBN Tak Diubah Kecuali Krisis, Purbaya Ungkap Tanda-tandanya!

Airlangga sendiri mengatakan saat terjadi gejolak ekonomi dunia saat ini, peran APBN sebagai shock absorber pun berjalan dengan baik.

"APBN tetap bekerja sebagai shock absorber dalam bentuk bantuan pangan Rp11,92 triliun dan juga memberikan THR, baik ASN, TNI, Polri, kemudian transportasi, subsidi, dan BBM," imbuhnya.

"Kemudian dari pendapatan pajak per Februari tumbuh kuat 30,4 persen. Jadi ini juga sebuah capaian yang bagus dan defisit APBN terkendali 0,53 persen dari PBB. Artinya secara makro, walaupun dalam situasi krisis perang, secara makro kita tetap kuat dan solid." Sambung Airlangga.

Dengan kondisi internal yang menurutnya masih solid, Airlangga sendiri masih yakin bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 5,5% pada 2026.

"Jadi dengan angka-angka ini cukup optimis pertumbuhan bisa di sekitar 5,5%."


(ras/mij) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video: Harga Minyak Mentah Mendidih, Tembus di Atas USD 100 Per Barel

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
AirAsia (CMPP) Raup Pendapatan Rp7,87 Triliun, Rugi Susut 15% di 2025
• 19 jam lalubisnis.com
thumb
IEA Umumkan Pelepasan 400 Juta Barel Cadangan Minyak Darurat untuk Stabilkan Pasar Energi Global
• 16 jam lalupantau.com
thumb
Kemendag Tetapkan Kenaikan Harga Patokan Ekspor Konsentrat Tembaga pada Paruh Kedua Maret 2026
• 15 jam lalupantau.com
thumb
Ketegangan AS-Israel vs Iran Guncang Pasar Asuransi Dunia
• 5 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Fakta-Fakta Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus
• 19 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.