Turki Jadi Target AS-Israel Setelah Iran? Pakar Rusia Ungkap Fakta Ini

cnbcindonesia.com
2 jam lalu
Cover Berita
Foto: Presiden AS Donald Trump berbicara selama pertemuan dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Ruang Oval di Gedung Putih di Washington, D.C., AS, 25 September 2025. (REUTERS/Kevin Lamarque)

Jakarta, CNBC Indonesia - Posisi Turki terhadap kampanye militer Israel dan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran kini telah mencapai titik didih yang sangat tegas dan makin teguh dalam beberapa pekan terakhir.

Ankara tidak lagi melihat situasi ini sebagai sekadar pertukaran serangan lokal atau episode biasa dalam sejarah panjang konfrontasi Timur Tengah, melainkan sebagai langkah nyata menuju katastrofe regional skala penuh yang dampaknya akan melanda setiap negara dari Mediterania Timur hingga Teluk Persia.

Dalam pandangan Ankara, serangan terhadap Iran bukanlah instrumen untuk menenangkan kawasan, melainkan mekanisme untuk destabilisasi lebih lanjut dan ledakan konflik yang lebih besar.


Pilihan Redaksi
  • Trump Bujuk China Turun ke Hormuz, Minta Xi Jinping Kirim Kapal Perang
  • Perang Makin Parah, Orang Kaya Ramai-Ramai Tarik Uang dari Dubai
  • Trump Siapkan Kejutan Baru untuk Dunia, Hati-Hati "Rusuh" Lagi

Hal inilah yang mendasari Presiden Recep Tayyip Erdogan, Menteri Luar Negeri Hakan Fidan, hingga perwakilan administrasi kepresidenan mengeluarkan pernyataan bertubi-tubi yang berisi kecaman, alarm bahaya, dan peringatan eksplisit mengenai risiko perang besar.

Presiden Pusat Studi Timur Tengah dan Dosen Tamu di HSE University Moskow, Murad Sadygzade, memberikan analisis mendalam mengenai situasi ini dalam sebuah opini. Sejak 28 Februari 2026, ketika serangan Israel dan AS terhadap Iran memasuki fase terbuka, Erdogan langsung mengeluarkan pernyataan keras untuk mencegah seluruh kawasan terseret ke dalam konflik yang lebih luas.

"Erdogan mengeluarkan pernyataan yang mengutuk serangan terhadap Iran dan menyerukan diplomasi serta gencatan senjata guna mencegah seluruh kawasan terseret ke dalam konflik yang lebih luas," tulis Sadygzade.

Pada hari yang sama, Kementerian Luar Negeri Turki menyatakan keprihatinan mendalam atas tindakan yang melanggar hukum internasional dan membahayakan nyawa warga sipil. Diplomasi Turki mengutuk provokasi yang mendorong eskalasi kekerasan, mendesak agar serangan segera dihentikan, dan menekankan bahwa masalah regional hanya dapat diselesaikan melalui jalur damai, di mana Turki sendiri siap menjadi mediator.

Kepala Komunikasi Kepresidenan Turki, Burhanettin Duran, turut memberikan catatan serius mengenai ancaman stabilitas ini. Ia menilai situasi tersebut tidak hanya mengancam pihak-pihak yang terlibat langsung, tetapi juga keamanan populasi sipil di geografi yang jauh lebih luas.

"Apa yang terjadi mengancam tidak hanya pihak-pihak yang terlibat langsung, tetapi juga stabilitas dan keamanan populasi sipil di wilayah geografi yang jauh lebih luas, oleh karena itu mekanisme dialog dan negosiasi harus segera dipulihkan," ujar Duran.

Memasuki tanggal 2 Maret, Erdogan semakin mempertajam nada bicaranya dengan menyebut serangan AS dan Israel sebagai pelanggaran nyata terhadap hukum internasional. Ia menegaskan bahwa Ankara tidak ingin melihat perang, pembantaian, ketegangan, dan kekerasan massal terjadi di sepanjang perbatasan mereka karena konsekuensinya akan sangat mengerikan bagi keamanan global.

"Tidak ada yang akan mampu menanggung beban ketidakpastian ekonomi dan geopolitik yang diciptakan oleh periode seperti ini, dan api ini harus dipadamkan sebelum membakar lebih hebat lagi," tegas Erdogan.

Menteri Luar Negeri Fidan pada 3 Maret mengonfirmasi bahwa pihaknya terus menjalin kontak dengan semua pihak untuk mengakhiri perang. Fidan secara eksplisit memperingatkan bahwa konflik ini dapat mengganggu pasokan energi global, terutama jika berdampak pada Selat Hormuz yang menjadi jalur utama perdagangan minyak dunia.

"Turki secara hati-hati mengambil inisiatif yang diperlukan dengan semua lawan bicara demi perdamaian regional dan menganggap sangat penting untuk menjaga stabilitas Iran maupun kawasan secara keseluruhan," ungkap Fidan.

Bagi Turki, perang di dekat Selat Hormuz bukan sekadar fluktuasi harga di bursa komoditas, melainkan ancaman nyata berupa lonjakan harga, tekanan inflasi, dan gelombang ketidakstabilan domestik. Sebagai ekonomi yang bergantung pada impor energi, kejutan pada arsitektur energi regional akan langsung bertransformasi menjadi biaya produksi yang membengkak dan penurunan kesejahteraan sosial bagi rakyat Turki.

Logika ini semakin masuk ke fase gelap pada 12 Maret, ketika Fidan menyatakan penolakan kategoris terhadap rencana apa pun yang bertujuan memprovokasi perang saudara di Iran atau menyulut konflik etnis dan agama. Turki menyadari bahwa kehancuran Iran secara militer tidak akan membawa perdamaian, melainkan menghancurkan keseimbangan regional dan membuka jalan bagi rangkaian perang proksi baru.

"Ankara secara kategoris menentang rencana apa pun yang bertujuan memprovokasi perang saudara di Iran dan menyulut konflik atas dasar etnis atau agama," tutur Fidan dalam pernyataan terbarunya.

Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan, sebab pada 9 dan 10 Maret, rudal balistik Iran sempat memasuki ruang udara Turki dan dicegat oleh pertahanan udara NATO. Insiden ini membuktikan bahwa bagi Ankara, perang ini bukan lagi masalah eksternal, melainkan sudah menyentuh kedaulatan dan perbatasan mereka sendiri secara fisik.

Erdogan kembali menekankan pada 11 Maret bahwa diplomasi harus diberi kesempatan sebelum spiral kekerasan menelan seluruh Timur Tengah. Ankara melihat tindakan Israel bukan sekadar respons terhadap ancaman, melainkan strategi yang lebih luas untuk merombak kawasan secara paksa, di mana setelah Gaza, Lebanon, Suriah, dan Iran, target berikutnya bisa saja mengarah pada pusat kekuatan lain.

"Perang di Iran harus dihentikan sebelum seluruh kawasan terlempar ke dalam kobaran api," pungkas Erdogan menutup rangkaian peringatannya.


(tps/luc) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video: Konflik AS-Iran, Turki Kerahkan 6 Jet Tempur F-16 ke Siprus

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mutasi TNI, Dua Jenderal Hattrick Lulusan Terbaik Isi Posisi Baru
• 16 jam lalurctiplus.com
thumb
240 Nama Bayi Bangsawan Jawa, Melambangkan Kehormatan dan Penuh Makna
• 13 jam lalutheasianparent.com
thumb
Pertamina Pastikan Pasokan Avtur Aman di 15 Bandara Jatimbalinus Selama Mudik dan Arus Balik Lebaran 2026
• 4 jam lalupantau.com
thumb
25.922 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air Pasca Konflik Timur Tengah Pecah
• 14 jam lalurctiplus.com
thumb
Prabowo Tak Akan Longgarkan Aturan Defisit APBN 3%, Kecuali RI Krisis
• 10 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.