Daya Beli Jelang Lebaran Turun, Masyarakat Lebih Selektif Dalam Berbelanja

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS — Daya beli masyarakat jelang Lebaran menurun di tengah banyaknya pemotongan anggaran. Masyarakat lebih selektif dalam berbelanja seperti memilih harga yang lebih murah. Meski demikian, masyarakat masih antusias membeli busana baru untuk merayakan Idul Fitri.

Penurunan daya beli terlihat dari omzet pedagang di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (16/3/2026). Kepala Toko Sasco, Nur (37) terlihat lesu karena tokonya sepi pembeli, meskipun banyak masyarakat yang mendatangi Pasar Tanah Abang.

“Kalau pendapatan omzet turun tahun ini. Tapi kalau ramainya, ramai tahun ini,” ujar perempuan yang sudah berjualan di Pasar Tanah Abang sejak enam tahun yang lalu tersebut.

Ia merinci, omzet toko pada tahun sebelumnya jelang Lebaran bisa mencapai Rp 50 juta per hari, sedangkan tahun ini paling banyak Rp 25 juta per hari. Adapun Toko Sasco telah menjual busana muslim di Tanah Abang sejak 15 tahun yang lalu.

Menurut Nur, salah satu faktor penurunan omzet tokonya yakni minimnya pembeli dari luar Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). “Sekarang dari daerah cuma yang langganan saja. Sebelumnya ada dari Sumatera seperti Aceh dan Padang,” jelasnya.

Beberapa toko lain yang menjual busana muslim dengan harga sekitar Rp 300.000 juga terlihat sepi. Situasi berbeda dialami penjual pernak-pernik busana muslim seperti kerudung yang justru omzetnya meningkat, salah satunya dialami Toko Dayan. Toko ini menjual kerudung dengan harga mulai dari Rp 35.000 hingga Rp 75.000.

Karyawan Toko Dayan, Sanur (28), menceritakan tokonya mengalami kenaikan omzet dalam empat minggu terakhir. Jika tahun sebelumnya omzetnya maksimal Rp 15 juta per hari, tahun ini sudah mendapatkan lebih dari jumlah tersebut. Namun, ia belum menghitungnya lebih detail.

“(Omzet Rp 15 juta) itu tiap hari minggu. Hari biasa standard lah, Rp 10 juta,” ujar Sanur yang sudah berjualan di Pasar Tanah Abang sejak tiga tahun yang lalu.

Pasar Tanah Tanah Abang menjadi salah satu tempat favorit pengunjung karena harganya dikenal murah. Diana (30) dan Adit (30) rela datang dari Bekasi, Jawa Barat, untuk membeli gamis dan koko.

“Di sini ibaratnya baju-baju yang kayak butik itu masih Rp 300.000-an. Kalau di sana (Bekasi) sudah Rp 600.000-an gitu,” ujar Diana.

Adanya Pasar Tanah Abang membantu keluarga Diana bisa membeli pakaian baru. Sebab, suaminya baru mendapatkan uang tunjangan hari raya (THR) jelang Lebaran, sedangkan busana muslim yang dijual secara daring sudah mulai sulit dicari.

Setiap tahun mereka selalu membeli busana muslim baru jelang Lebaran. “Sudah biasa kayak gitu. Jadi sudah otomatis (beli busana baru) saja gitu,” tutur Diana.

Keuntungan menurun

Di saat penjual di Pasar Tanah Abang mengeluhkan penurunan omzet, penjual di Pasar Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, justru mengalami peningkatan omzet. Salah satu faktornya, harga busana muslim di Pasar Cipulir lebih murah dibandingkan Pasar Tanah Abang.

Meski mengalami peningkatan omzet, keuntungan mereka lebih kecil dibandingkan Lebaran tahun lalu karena biaya produksi juga meningkat. Hal itu disampaikan pemilik Toko Cordova, Khairun (35), yang menjual berbagai busana muslim.

Baca JugaLebaran, Saat Bengkel Mobil Menuai Cuan

Total omzetnya tahun lalu mencapai Rp 6 miliar. Dari jumlah itu, sebanyak Rp 1,5 miliar diperoleh saat Lebaran. Omzetnya pada Lebaran kali ini sudah mencapai Rp 1,5 miliar, tetapi keuntungannya menurun karena biaya produksinya lebih besar. Modalnya untuk membeli bahan pada tahun ini pun lebih mahal dibandingkan tahun sebelumnya.

Khairun menjual dagangannya mulai Rp 125.000 hingga Rp 135.000, sedangkan pakaian yang diobral Rp 50.000. “Kalau dulu masih bisa jual di bawah harga Rp 100.000. Sekarang sudah susah jual di bawah Rp 100.000, enggak nutup. Kelihatannya omzet naik, tetapi kan modalnya lebih mahal,” ujar Khairun yang sudah berjualan di Pasar Cipulir selama tujuh tahun tersebut.

Kepala Toko FDR Group, Egi (23) yang menjual busana muslim secara grosir juga melihat omzet tokonya naik, meskipun tidak sampai dua kali lipat. Sama seperti tahun sebelumnya, tokonya sudah bisa menjual busana muslim hingga ribuan buah jelang Lebaran tahun ini.

Sebagai toko yang menjual secara grosir, barang dagangannya banyak dibeli sejak dua bulan hingga sebulan sebelum Lebaran. Adapun baju koko di toko ini djual dengan harga mulai dari Rp 23.000 hingga Rp 100.000.

Baca JugaPemerintah Optimistis THR dan Bonus Ojol Topang Pertumbuhan Triwulan I-2026

Salah satu pembeli, Tiara (20), warga Bintaro, Jakarta Selatan, tiap tahun selalu membeli busana Lebaran antara di Pasar Tanah Abang atau Cipulir. Ia lebih sering berbelanja di Pasar Cipulir karena harganya lebih murah daripada Pasar Tanah Abang.

“Di sini lebih dekat juga,” ujar mahasiswi tersebut.

Dampak pemotongan anggaran

Situasi di kedua pasar tersebut memperlihatkan daya beli masyarakat yang menurun. Berdasarkan Survei Konsumen Bank Indonesia pada Februari 2026, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Februari 2026 sebesar 125,2 atau lebih rendah dari IKK bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 127,0. IKK Februari 2026 juga lebih rendah dari IKK Februari 2025 yakni sebesar 126,4.

Fenomena penurunan daya beli busana muslim pada Lebaran tahun ini di kedua pasar tersebut dilihat Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal sebagai dampak dari pemotongan anggaran di banyak daerah. Hal ini juga tidak terlepas dari kebijakan pemerintah pusat yang memangkas Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD).

“Ini akan memangkas juga otomatis dari sisi belanja pemerintah daerah dan juga orang-orang di daerah yang sebelum ini banyak diuntungkan atau mendapatkan tambahan pemasukan dari proyek-proyek pemerintah,” jelas Faisal.

Situasi tersebut membuat orang daerah mengurangi belanja ke Jakarta. Akibatnya, konsumsi kelas menengah dan distribusinya relatif lemah, meskipun secara agregat konsumsi naik.

Menurut Faisal, penjualan di Pasar Cipulir meningkat karena faktor persaingan harga antartoko dan kawasan perdagangan. Harga di Pasar Cipulir lebih murah daripada Pasar Tanah Abang karena daya beli masyarakat kelas menengah relatif turun.

Masyarakat lebih selektif dalam berbelanja. Mereka akan mendahulukan kebutuhan yang lebih esensial. Karena pendapatan masyarakat relatif menurun, maka mereka akan mencari tempat yang lebih murah. “Jadi, tempat yang lebih murah itu lebih bisa menarik banyak pelanggan, apalagi kalau dari lokasi lebih strategis,” jelas Faisal.

Sebelumnya, pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 bisa menembus kisaran 5,5-5,6 persen. Otimisme itu ditopang oleh gelontoran THR untuk aparatur sipil negara dan bonus hari raya untuk sekitar 800.000 mitra pengemudi ojek daring.

Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, momentum Idul Fitri 2026 menjadi salah satu penggerak utama konsumsi rumah tangga pada awal tahun. Pemerintah berupaya memastikan daya beli masyarakat tetap terjaga melalui berbagai instrumen fiskal dan kebijakan pendukung (Kompas.id, 3/3/2026).


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ramalan Keuangan Shio 17 Maret 2026: Kuda, Kambing, Monyet, Ayam, Anjing, dan Babi
• 11 jam lalutvonenews.com
thumb
Tim Advokasi Desak Presiden Prabowo Bentuk Tim Investigasi Independen Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus
• 5 jam laluharianfajar
thumb
Trump Berencana Galang Koalisi Global Amankan Jalur Minyak Dunia
• 11 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Usman Hamid Minta Presiden Prabowo Hindari Jalannya Pemerintahan yang Otoriter
• 12 jam lalukompas.tv
thumb
Kebijakan WFA Pegawai Jelang Libur Lebaran Mulai Berlaku Hari Ini, Simak Jadwalnya
• 15 jam lalunarasi.tv
Berhasil disimpan.