Perjuangan PSM di Super League Bersama Pelatih Muda, Syamsuddin Umar: Saya Bawa Juara Masih Usia 35 Tahun!

harianfajar
2 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, MAKASSAR — Di tengah situasi yang belum sepenuhnya stabil di papan klasemen Liga 1 Indonesia musim 2025/2026, PSM Makassar kembali menaruh harapan pada tangan-tangan muda. Klub kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan itu kini dipimpin dua figur putra daerah: Ahmad Amiruddin dan Zulkifli Syukur.

Situasi yang mereka hadapi tidak ringan. PSM masih berjuang menjauh dari zona berbahaya klasemen. Namun secercah optimisme mulai muncul setelah Juku Eja mampu mencuri satu poin dari markas Malut United FC dalam laga dramatis yang berakhir 3–3.

Hasil tersebut memang belum sepenuhnya mengubah posisi PSM di klasemen, tetapi setidaknya memberi sinyal bahwa tim masih memiliki daya juang.

Di tengah fase penuh tekanan ini, suara dukungan datang dari salah satu sosok paling berpengaruh dalam sejarah klub: Syamsuddin Umar.

Keyakinan pada Pelatih Putra Daerah

Syamsuddin Umar, mantan pelatih yang pernah membawa PSM meraih kejayaan di dua era berbeda, menilai kehadiran Ahmad Amiruddin dan Zulkifli Syukur justru bisa menjadi kekuatan tersendiri bagi tim.

Menurutnya, kedua pelatih muda itu bukan figur yang datang tanpa pengalaman.

Ahmad Amiruddin pernah terlibat dalam staf kepelatihan Borneo FC Samarinda, sementara Zulkifli Syukur memiliki pengalaman panjang sebagai pemain profesional, termasuk bersama Timnas Indonesia.

Pengalaman tersebut dianggap cukup untuk menjadi modal menghadapi situasi sulit yang tengah dialami PSM.

Namun bagi Syamsuddin, faktor paling penting bukan hanya pengalaman teknis. Ada hal lain yang menurutnya jauh lebih mendasar: identitas sebagai putra daerah.

Dalam tradisi budaya Bugis-Makassar, terdapat nilai siri’, sebuah konsep harga diri yang kuat. Nilai inilah yang menurut Syamsuddin melekat pada dua pelatih muda tersebut.

Dengan semangat itu, ia yakin mereka akan berjuang sekuat tenaga untuk menjaga PSM tetap bertahan di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.

Syamsuddin bahkan percaya target realistis bagi PSM musim ini bukan sekadar selamat dari degradasi, tetapi masih memungkinkan untuk finis di papan tengah.

Pengalaman Pribadi: Juara di Usia Muda

Ketika berbicara tentang pelatih muda, Syamsuddin Umar memiliki cerita yang sangat personal.

Ia mengingat kembali masa ketika dirinya pertama kali membawa PSM menjadi juara. Saat itu, usianya masih sekitar 34 atau 35 tahun—usia yang bahkan lebih muda dibanding banyak pelatih di kompetisi saat ini.

Pengalaman tersebut menjadi bukti baginya bahwa usia bukan penghalang untuk meraih prestasi besar.

Yang dibutuhkan seorang pelatih, menurutnya, adalah keberanian mengambil keputusan, kemampuan membaca pertandingan, serta kepercayaan penuh dari manajemen dan pemain.

Kisah masa lalunya itu juga menjadi alasan mengapa ia begitu optimistis terhadap Ahmad Amiruddin dan Zulkifli Syukur.

Baginya, pelatih muda justru sering membawa energi baru bagi tim.

Klub dengan Sejarah Panjang

Optimisme Syamsuddin Umar juga tidak lepas dari sejarah panjang yang dimiliki PSM Makassar.

Klub yang berdiri pada 1915 ini merupakan salah satu institusi sepak bola paling tua di Indonesia. Dalam perjalanan panjangnya, PSM telah mengoleksi berbagai prestasi penting.

Juku Eja tercatat tujuh kali menjuarai kompetisi tertinggi sepak bola Indonesia di berbagai era. Selain itu, mereka juga pernah meraih gelar Piala Indonesia serta sejumlah trofi domestik lainnya.

Di kancah nasional, PSM juga memiliki catatan unik.

Bersama Persija Jakarta dan Persib Bandung, PSM termasuk klub yang belum pernah merasakan degradasi dari kasta tertinggi sepak bola Indonesia.

Fakta ini membuat tekanan terhadap tim selalu besar setiap kali mereka berada di posisi rawan klasemen.

Lebih dari Sekadar Klub Sepak Bola

Bagi masyarakat Sulawesi Selatan, PSM bukan sekadar klub sepak bola.

Menurut Syamsuddin Umar, keberadaan PSM memiliki makna sosial dan emosional yang sangat kuat.

PSM sering kali menjadi simbol kebanggaan dan persatuan masyarakat daerah tersebut. Ketika tim menang, kebahagiaan terasa menyebar ke berbagai lapisan masyarakat. Sebaliknya, ketika tim kalah, rasa kecewa juga dirasakan secara kolektif.

Dalam ungkapannya yang cukup emosional, Syamsuddin bahkan menggambarkan betapa dalamnya ikatan masyarakat dengan klub ini.

Bagi sebagian orang di Sulawesi Selatan, PSM bukan hanya hiburan akhir pekan, melainkan bagian dari identitas dan harga diri.

Harapan di Tangan Generasi Baru

Kini, di tengah tekanan kompetisi yang semakin ketat, harapan itu kembali diletakkan pada generasi baru pelatih lokal.

Ahmad Amiruddin dan Zulkifli Syukur menghadapi tugas yang tidak mudah: menjaga tradisi panjang klub sekaligus membawa PSM keluar dari masa sulit.

Namun dukungan dari figur seperti Syamsuddin Umar menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap mereka masih sangat besar.

Bagi legenda hidup PSM itu, sejarah klub telah membuktikan bahwa keberanian dan semangat bisa membawa tim melewati masa-masa sulit.

Dan jika semangat siri’ na pacce benar-benar hidup di dalam tim, Syamsuddin percaya satu hal: PSM Makassar akan tetap berdiri tegak di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Oscar 2026 Diwarnai Kemenangan Ganda dan Insiden Pemotongan Pidato
• 11 jam lalumediaindonesia.com
thumb
BMKG: Cuaca Jakarta Hari Ini Cerah hingga Berawan, Hujan Berpotensi Turun Sore
• 10 jam lalukompas.com
thumb
DPR: Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS Bentuk Teror Demokrasi
• 7 jam laluokezone.com
thumb
Aset Konsolidasi BPKH Capai Rp 238,99 Triliun pada 2025, Nilai Manfaat Tetap Terjaga
• 21 jam lalujpnn.com
thumb
2 Penjual Obat Daftar G Ditangkap Polisi di Jagakarsa, 28.243 Butir Obat Disita
• 23 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.