Jakarta, VIVA – Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi menegaskan, pihaknya bakal melakukan berbagai upaya untuk mengurai kepadatan kendaraan di Pelabuhan Penyeberangan Gilimanuk, Bali.
Hal itu guna menangani kemacetan para di pelabuhan tersebut sejak beberapa hari lalu, dengan panjang antrean hingga 32 kilometer (km) sebelum masuk kawasan pelabuhan.
Bersama pihak Badan Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Bali dan para stakeholder terkait lainnya, Dudy memastikan bakal terus berkoordinasi termasuk dengan pemerintah daerah (Pemda) guna mencari cara untuk mengurai kemacetan tersebut.
"Kami mendorong percepatan berbagai langkah operasional di lapangan, untuk mempercepat penguraian kepadatan kendaraan dan penumpang di kawasan Gilimanuk sehingga mobilitas masyarakat tetap terlayani dengan baik," kata Dudy dalam keterangannya, Senin, 16 Maret 2026.
- ANTARA/HO-Humas Polda Bali
Dalam upaya mempercepat pergerakan kendaraan dan memperlancar arus penyeberangan, jumlah kapal yang dioperasikan mencapai 35 unit kapal, dari 28 yang sudah ada dan tambahan 7 kapal, dengan pola pelayanan 8 trip.
Kapal-kapal tersebut terdiri dari 19 kapal yang beroperasi di dermaga moveable bridge (MB), 11 kapal di dermaga landing craft machine (LCM), serta 4 kapal tambahan yang diperbantukan guna meningkatkan kapasitas angkut penyeberangan.
Selain penambahan armada, Dudy memastikan bahwa Kemenhub juga menerapkan sejumlah langkah operasional di lapangan. Antara lain melalui skema Tiba-Bongkar-Berangkat (TBB) untuk mempercepat rotasi kapal, serta percepatan proses bongkar muat guna memperlancar kanalisasi kendaraan kecil.
"Pengaturan lalu lintas kendaraan juga diperkuat melalui pengoperasian buffer zone di terminal kargo Pelabuhan Gilimanuk serta optimalisasi fungsi UPPKB Cekik sebagai titik pengendalian kendaraan sebelum memasuki kawasan Pelabuhan," ujarnya.
Diketahui, berdasarkan pantauan cuaca dari BMKG pada pukul 11.55 WITA, kondisi perairan di Selat Bali terpantau kondusif untuk pelayaran. Cuaca dilaporkan berawan dengan tinggi gelombang rendah sekitar 1 meter, jarak pandang mencapai 10 km, serta arus air mengarah ke utara dengan kecepatan sekitar 2,5 knot.
Kemenhub akan terus melakukan pemantauan secara intensif terhadap kondisi operasional penyeberangan, serta berkoordinasi dengan seluruh pihak terkait untuk memastikan kelancaran layanan transportasi di lintas Ketapang-Gilimanuk.





