Rupiah Mendekati Rp17.000 per Dolar AS, Menkeu Purbaya Beberkan Kondisi Sebenarnya

eranasional.com
6 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, ERANASIONAL.COM – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mengalami tekanan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, terutama setelah konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu ketidakpastian di pasar keuangan internasional. Kondisi tersebut berdampak pada berbagai mata uang negara berkembang, termasuk rupiah yang beberapa waktu terakhir bergerak melemah terhadap dolar AS.

Berdasarkan data perdagangan pada Jumat, 13 Maret 2026, nilai tukar rupiah tercatat berada di kisaran Rp16.944 per dolar AS. Angka ini menunjukkan pelemahan yang cukup terasa dalam beberapa pekan terakhir, meskipun pemerintah menilai tekanan tersebut masih dalam batas yang dapat dikelola oleh perekonomian nasional.

Kepala Ekonom PT Bank Mandiri, Andry Asmoro, mencatat bahwa depresiasi rupiah secara kumulatif mencapai sekitar 1,03 persen secara month-to-date dan sekitar 1,52 persen secara year-to-date. Menurutnya, tekanan terhadap rupiah saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh faktor domestik, tetapi lebih banyak dipicu oleh sentimen global yang meningkat akibat konflik geopolitik dan pergerakan harga komoditas energi dunia.

Dalam situasi konflik internasional, investor global cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman atau safe haven seperti dolar AS dan obligasi pemerintah Amerika Serikat. Perpindahan modal tersebut sering kali menyebabkan mata uang negara berkembang mengalami pelemahan karena aliran dana keluar dari pasar finansial mereka.

Pandangan serupa disampaikan Kepala Ekonom PT Bank Central Asia atau BCA, David Sumual, yang menilai tekanan terhadap rupiah kemungkinan masih akan berlanjut dalam jangka pendek. Ia menjelaskan bahwa konflik geopolitik telah mendorong kenaikan harga minyak dunia, yang pada akhirnya meningkatkan ekspektasi inflasi global.

Menurut David, kenaikan harga energi sering kali berdampak luas terhadap perekonomian global karena biaya produksi dan transportasi meningkat. Kondisi tersebut dapat memperbesar tekanan terhadap negara importir energi, termasuk Indonesia, sehingga memengaruhi pergerakan nilai tukar mata uang domestik.

Meski demikian, ia menilai bahwa ketahanan eksternal Indonesia masih relatif kuat. Salah satu indikatornya adalah posisi cadangan devisa yang masih berada pada tingkat yang memadai untuk menjaga stabilitas ekonomi.

Data dari Bank Indonesia menunjukkan bahwa posisi cadangan devisa Indonesia hingga akhir Februari 2026 mencapai sekitar 151,9 miliar dolar AS. Meskipun jumlah ini sedikit menurun dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 154,6 miliar dolar AS, nilainya masih cukup untuk membiayai sekitar 6,1 bulan impor atau sekitar 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Cadangan devisa pada tingkat tersebut dinilai berada di atas standar kecukupan internasional yang umumnya berada pada kisaran tiga bulan impor. Dengan demikian, bank sentral masih memiliki ruang yang cukup untuk melakukan stabilisasi pasar apabila terjadi gejolak yang lebih besar pada nilai tukar rupiah.

Sementara itu, Menteri Keuangan Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, menilai bahwa pelemahan rupiah yang terjadi belakangan ini masih relatif terkendali. Ia bahkan menyebut depresiasi yang dipicu oleh gejolak perang tidak sedalam yang dikhawatirkan sebagian pihak.

Dalam sidang kabinet paripurna yang berlangsung di Istana Kepresidenan Jakarta pada Jumat, 13 Maret 2026, Purbaya melaporkan kondisi tersebut kepada Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, jika dihitung secara langsung dari dampak konflik geopolitik terbaru, pelemahan rupiah diperkirakan hanya sekitar 0,3 persen.

Ia menilai angka tersebut menunjukkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat untuk menghadapi tekanan global. Dalam pandangannya, reaksi pasar yang relatif terkendali menunjukkan bahwa pelaku pasar internasional masih menilai perekonomian Indonesia memiliki prospek yang stabil.

Purbaya juga menanggapi berbagai spekulasi yang menyebut bahwa rupiah berada dalam kondisi rentan. Ia menilai sebagian pandangan tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh persepsi negatif daripada analisis ekonomi yang komprehensif.

Selain nilai tukar, pemerintah juga memantau indikator lain yang mencerminkan tingkat kepercayaan investor global terhadap ekonomi Indonesia. Salah satu indikator tersebut adalah premi credit default swap atau CDS yang menggambarkan persepsi risiko gagal bayar utang suatu negara.

Menurut Purbaya, premi CDS Indonesia saat ini masih relatif stabil. Hal ini menunjukkan bahwa investor internasional masih memandang risiko ekonomi Indonesia berada pada level yang dapat diterima.

Indikator lain yang turut diperhatikan adalah selisih imbal hasil antara obligasi pemerintah Indonesia atau Surat Berharga Negara (SBN) dengan obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury. Saat ini, spread tersebut tercatat meningkat tipis dari sekitar 240 basis poin pada Januari menjadi sekitar 243 basis poin.

Kenaikan yang relatif kecil ini dinilai menunjukkan bahwa pasar keuangan global masih menaruh kepercayaan terhadap stabilitas ekonomi Indonesia, meskipun tekanan eksternal meningkat.

Dari sisi pergerakan modal asing, pemerintah juga mencatat bahwa aliran dana internasional masih menunjukkan tren yang cukup positif. Meski terdapat arus keluar pada pasar obligasi pemerintah, arus masuk modal masih terjadi pada beberapa instrumen keuangan lainnya.

Data terbaru menunjukkan bahwa hingga Maret 2026 terjadi arus keluar sekitar Rp700 miliar di pasar Surat Berharga Negara. Namun pada saat yang sama, terdapat arus masuk dana asing pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebesar sekitar Rp2,2 triliun dan pada pasar saham dengan nilai yang sama.

Purbaya menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa investor global masih melihat Indonesia sebagai tujuan investasi yang menarik, terutama setelah volatilitas pasar mereda dalam beberapa pekan terakhir.

Ia juga menegaskan bahwa stabilitas ekonomi Indonesia tidak hanya bergantung pada kondisi eksternal, tetapi juga pada kebijakan domestik yang konsisten dalam menjaga disiplin fiskal dan stabilitas sistem keuangan.

Para analis menilai bahwa ke depan pergerakan rupiah akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan situasi geopolitik global, kebijakan suku bunga bank sentral utama dunia, serta dinamika harga komoditas energi.

Jika ketegangan geopolitik mereda dan harga energi kembali stabil, tekanan terhadap rupiah diperkirakan akan berkurang. Sebaliknya, jika konflik semakin meluas, pasar keuangan global kemungkinan akan kembali mengalami volatilitas yang dapat berdampak pada mata uang negara berkembang.

Dalam kondisi seperti ini, koordinasi antara pemerintah dan bank sentral menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas ekonomi. Kebijakan moneter yang responsif, pengelolaan fiskal yang hati-hati, serta komunikasi yang jelas kepada pelaku pasar akan menjadi kunci dalam menjaga kepercayaan investor dan stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Oknum TNI Penjual Senjata Organik ke PNG Ditangkap Setelah Terlibat Kecelakaan Beruntun
• 10 jam laluokezone.com
thumb
Operasi Ketupat 2026: 5.268 Personel Gabungan Siaga di Sulsel
• 17 jam lalurepublika.co.id
thumb
Bukan dari Keluarga Atlet, Yanto Basna Bersyukur Masuk SAD dan Berguru Sepak Bola Modern di Uruguay
• 11 jam lalubola.com
thumb
Ide Menu Lebaran Tanpa Santan
• 14 jam lalubeautynesia.id
thumb
Serangan Roket Hantam Bandara Baghdad Irak, 5 Orang Terluka
• 16 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.