Istanbul (ANTARA) - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan sedang berunding dengan tujuh negara untuk membahas upaya mengamankan pelayaran di Selat Hormuz.
Saat berbicara kepada wartawan di pesawat kepresidenan Air Force One mengenai Operasi "Epic Fury", Minggu (15/3), Trump memastikan pemerintah AS berdialog dengan sejumlah negara terkait Selat Hormuz pada malam sebelumnya.
Salah satu negara yang diajak berpartisipasi adalah China, yang oleh Trump disebut mendapatkan 90 persen minyak mentah yang dikapalkan ke negara tersebut melalui Selat Hormuz.
"Mereka mendapatkan minyak mereka, sangat banyak, sekitar 90 persen, dari selat itu. Jadi saya ajak, 'maukah kalian bergabung?'. Kita akan tahu nanti. Mungkin mereka mau, mungkin juga tidak," kata Presiden AS itu.
Sementara itu berbicara mengenai Pemimpin Tertinggi baru Iran Mojtaba Khamenei, Trump mengeklaim sebuah video di media sosial yang memperlihatkan 250.000 orang bersorak mendukung Khamenei sebagai video "rekaan kecerdasan artifisial (AI)" dan "tidak pernah terjadi".
"Sudah pasti rekaan AI dan tidak pernah terjadi. Media tahu hal itu tidak terjadi, tapi mereka memberitakannya seakan-akan dia punya dukungan besar. Dia tidak punya dukungan dari siapapun," ucapnya.
Trump juga menjamin harga minyak akan segera turun begitu perang berakhir, seraya menegaskan bahwa perang dengan Iran akan "segera" berakhir.
Selat Hormuz, yang membentang antara Iran di utara hingga Semenanjung Musandam di Oman pada titik selatan, adalah salah satu jalur pelayaran terpenting bagi pasokan migas sedunia.
Iran secara efektif menutup selat tersebut sejak awal Maret menyusul serangan gabungan AS-Israel ke negara tersebut pada 28 Februari, yang hingga kini menyebabkan tewasnya 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Gangguan pelayaran di selat tersebut memicu kenaikan harga minyak dan pupuk sedunia, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan pasokan energi dan harga pangan.
Adapun pada Sabtu, Presiden Trump mengatakan negara-negara yang mendapatkan minyak mereka dari jalur pelayaran strategis tersebut harus bertanggung jawab mengamankan Selat Hormuz, sembari menjamin adanya bantuan dari AS.
Sebelumnya, ia mengatakan pengawalan kapal-kapal Angkatan Laut AS terhadap kapal tanker yang singgah di Selat Hormuz dapat dimulai dalam waktu dekat.
Sumber: Anadolu
Baca juga: AS jajaki operasi multinasional untuk amankan Selat Hormuz
Baca juga: Seoul akan tinjau seruan Trump kirim kapal perang ke Selat Hormuz
Saat berbicara kepada wartawan di pesawat kepresidenan Air Force One mengenai Operasi "Epic Fury", Minggu (15/3), Trump memastikan pemerintah AS berdialog dengan sejumlah negara terkait Selat Hormuz pada malam sebelumnya.
Salah satu negara yang diajak berpartisipasi adalah China, yang oleh Trump disebut mendapatkan 90 persen minyak mentah yang dikapalkan ke negara tersebut melalui Selat Hormuz.
"Mereka mendapatkan minyak mereka, sangat banyak, sekitar 90 persen, dari selat itu. Jadi saya ajak, 'maukah kalian bergabung?'. Kita akan tahu nanti. Mungkin mereka mau, mungkin juga tidak," kata Presiden AS itu.
Sementara itu berbicara mengenai Pemimpin Tertinggi baru Iran Mojtaba Khamenei, Trump mengeklaim sebuah video di media sosial yang memperlihatkan 250.000 orang bersorak mendukung Khamenei sebagai video "rekaan kecerdasan artifisial (AI)" dan "tidak pernah terjadi".
"Sudah pasti rekaan AI dan tidak pernah terjadi. Media tahu hal itu tidak terjadi, tapi mereka memberitakannya seakan-akan dia punya dukungan besar. Dia tidak punya dukungan dari siapapun," ucapnya.
Trump juga menjamin harga minyak akan segera turun begitu perang berakhir, seraya menegaskan bahwa perang dengan Iran akan "segera" berakhir.
Selat Hormuz, yang membentang antara Iran di utara hingga Semenanjung Musandam di Oman pada titik selatan, adalah salah satu jalur pelayaran terpenting bagi pasokan migas sedunia.
Iran secara efektif menutup selat tersebut sejak awal Maret menyusul serangan gabungan AS-Israel ke negara tersebut pada 28 Februari, yang hingga kini menyebabkan tewasnya 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Gangguan pelayaran di selat tersebut memicu kenaikan harga minyak dan pupuk sedunia, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan pasokan energi dan harga pangan.
Adapun pada Sabtu, Presiden Trump mengatakan negara-negara yang mendapatkan minyak mereka dari jalur pelayaran strategis tersebut harus bertanggung jawab mengamankan Selat Hormuz, sembari menjamin adanya bantuan dari AS.
Sebelumnya, ia mengatakan pengawalan kapal-kapal Angkatan Laut AS terhadap kapal tanker yang singgah di Selat Hormuz dapat dimulai dalam waktu dekat.
Sumber: Anadolu
Baca juga: AS jajaki operasi multinasional untuk amankan Selat Hormuz
Baca juga: Seoul akan tinjau seruan Trump kirim kapal perang ke Selat Hormuz





