Jakarta (ANTARA) - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mendukung perguruan tinggi untuk inovatif dalam mendaur ulang sampah melalui berbagai upaya pengolahan sampah berbasis riset.
Melalui keterangan di Jakarta, Senin, Mendiktisaintek Brian menekankan pentingnya pengelolaan sampah yang dilakukan secara terdesentralisasi dan terintegrasi dari hulu hingga hilir, dimulai dari pemilahan di tingkat rumah tangga hingga pengolahan residu pada fasilitas pengolahan terpadu.
"Satu kecamatan ada sekitar 100 ton sampah per hari. Kalau bagus pemisahannya, biologi, food waste, yang dibakar itu tinggal 10–20 ton per hari," kata Mendiktisaintek Brian Yuliarto.
Baca juga: Mendiktisaintek nyatakan kampus siap bantu pemerintah atasi sampah
Menteri Brian menilai pendekatan tersebut dapat membantu mengurangi volume sampah yang harus dibuang ke tempat pembuangan akhir, sekaligus membuka peluang ekonomi dari pemanfaatan kembali material yang masih bermanfaat.
Salah satu contohnya, kata dia, adalah tempat pengolahan sampah milik Universitas Islam Bandung (Unisba) yang memiliki teknologi plasma-assisted untuk membantu memecah senyawa berbahaya dalam proses pembakaran residu, dimana efisiensi proses pembakaran serta potensi pengembangan teknologi tersebut dapat diimplementasikan dalam skala yang lebih luas.
Baca juga: Mendiktisaintek libatkan mahasiswa KKN tangani sampah di Kota Bandung
Brian menambahkan pengolahan sampah dapat dilakukan melalui pendekatan bertingkat, dengan pemilahan di tingkat kelurahan, pengolahan skala menengah di tingkat kecamatan, serta pemanfaatan teknologi untuk mengolah residu yang tidak dapat didaur ulang.
Menurut dia, pendekatan ini bisa menjadi lebih efisien dari sisi logistik dan biaya dibandingkan sistem yang terlalu terpusat.
"Bagusnya, yang optimal itu dibangun Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) per 100 ton per hari. Jadi di tingkat kelurahan hanya memisahkan, kemudian dari kelurahan dibawa ke kecamatan untuk diproses," ungkap Mendiktisaintek Brian Yuliarto.
Baca juga: Mendiktisaintek dorong implementasi pengelolaan sampah terintegrasi
Melalui keterangan di Jakarta, Senin, Mendiktisaintek Brian menekankan pentingnya pengelolaan sampah yang dilakukan secara terdesentralisasi dan terintegrasi dari hulu hingga hilir, dimulai dari pemilahan di tingkat rumah tangga hingga pengolahan residu pada fasilitas pengolahan terpadu.
"Satu kecamatan ada sekitar 100 ton sampah per hari. Kalau bagus pemisahannya, biologi, food waste, yang dibakar itu tinggal 10–20 ton per hari," kata Mendiktisaintek Brian Yuliarto.
Baca juga: Mendiktisaintek nyatakan kampus siap bantu pemerintah atasi sampah
Menteri Brian menilai pendekatan tersebut dapat membantu mengurangi volume sampah yang harus dibuang ke tempat pembuangan akhir, sekaligus membuka peluang ekonomi dari pemanfaatan kembali material yang masih bermanfaat.
Salah satu contohnya, kata dia, adalah tempat pengolahan sampah milik Universitas Islam Bandung (Unisba) yang memiliki teknologi plasma-assisted untuk membantu memecah senyawa berbahaya dalam proses pembakaran residu, dimana efisiensi proses pembakaran serta potensi pengembangan teknologi tersebut dapat diimplementasikan dalam skala yang lebih luas.
Baca juga: Mendiktisaintek libatkan mahasiswa KKN tangani sampah di Kota Bandung
Brian menambahkan pengolahan sampah dapat dilakukan melalui pendekatan bertingkat, dengan pemilahan di tingkat kelurahan, pengolahan skala menengah di tingkat kecamatan, serta pemanfaatan teknologi untuk mengolah residu yang tidak dapat didaur ulang.
Menurut dia, pendekatan ini bisa menjadi lebih efisien dari sisi logistik dan biaya dibandingkan sistem yang terlalu terpusat.
"Bagusnya, yang optimal itu dibangun Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) per 100 ton per hari. Jadi di tingkat kelurahan hanya memisahkan, kemudian dari kelurahan dibawa ke kecamatan untuk diproses," ungkap Mendiktisaintek Brian Yuliarto.
Baca juga: Mendiktisaintek dorong implementasi pengelolaan sampah terintegrasi





