Revitalisasi 116 Sekolah & Hadirnya RKD Percepat Pemulihan Pendidikan di Bireuen

kumparan.com
8 jam lalu
Cover Berita

Pemerintah melalui Kemendikdasmen terus mempercepat pemulihan layanan pendidikan di Kabupaten Bireuen, Aceh, pascabencana banjir yang melanda wilayah tersebut pada akhir 2025.

Upaya tersebut dilakukan melalui pembangunan Ruang Kelas Darurat (RKD) agar proses belajar tetap berjalan, sekaligus program revitalisasi sekolah yang memperbaiki sarana pendidikan secara permanen.

Mendikdasmen, Abdul Mu’ti, secara simbolis memulai program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun 2026 dengan melakukan peletakan batu pertama di sejumlah sekolah penerima bantuan, yaitu UPTD TK Negeri Mujahidin, UPTD SMP Negeri 2 Peudada, dan SMK Kesehatan Muhammadiyah di Kabupaten Bireuen.

“Kita melakukan peletakan batu pertama pembangunan di TK Negeri Mujahidin yang mendapatkan bantuan revitalisasi tahun 2026. Ini merupakan realisasi dari revitalisasi tahun 2026 yang alhamdulillah sebagian sudah bisa dimulai pembangunannya,” ujar Abdul Mu’ti di Bireuen, Selasa (10/3).

Pada 2026, program revitalisasi di Kabupaten Bireuen menyasar 116 sekolah terdampak bencana dengan total nilai bantuan mencapai Rp167,4 miliar. Dari jumlah tersebut, sebanyak 86 sekolah akan melaksanakan pembangunan secara swakelola oleh sekolah, sementara 30 sekolah lainnya akan dikerjakan oleh TNI AD.

Mu’ti menjelaskan bantuan revitalisasi yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing satuan pendidikan. Fasilitas yang dibangun maupun diperbaiki mencakup ruang kelas baru, perpustakaan, laboratorium, toilet, ruang administrasi, hingga sarana pendukung lainnya.

“Mudah-mudahan dengan revitalisasi ini kegiatan pembelajaran dapat berlangsung lebih baik lagi dan masyarakat yang terdampak musibah banjir dapat bangkit kembali dengan sarana pendidikan yang lebih baik,” ujarnya.

Salah satu penerima bantuan revitalisasi, Kepala UPTD TK Negeri Mujahidin, Mursyidah, mengungkapkan kondisi sekolahnya sebelumnya cukup memprihatinkan bahkan sebelum banjir melanda. Setelah bencana terjadi, kerusakan bangunan semakin parah dan beberapa ruang kelas hampir tidak dapat digunakan untuk belajar.

Dengan jumlah murid sekitar 120 anak, pihak sekolah harus menyiasati pembelajaran dengan menempatkan sekitar 30 anak dalam satu ruang kelas.

Melalui program revitalisasi ini, TK Negeri Mujahidin menerima bantuan sebesar Rp1,032 miliar yang akan digunakan untuk rehabilitasi tiga ruang belajar, rehabilitasi ruang administrasi, pembangunan satu ruang kelas baru, penataan lingkungan sekolah, serta perbaikan sanitasi.

“Alhamdulillah kami sangat senang dan bersyukur mendapat kesempatan menjadi salah satu sekolah yang mendapatkan bantuan revitalisasi. Ini merupakan sesuatu yang sudah lama kami tunggu,” ungkap Mursyidah.

Hal serupa disampaikan Kepala SMP Negeri 2 Peudada, Salawati. Sekolahnya menerima bantuan revitalisasi sebesar Rp3,4 miliar yang akan digunakan untuk pembangunan ruang administrasi, rehabilitasi sembilan ruang belajar, pembangunan dua unit toilet, rehabilitasi perpustakaan, serta pembangunan ruang UKS.

Sebelum revitalisasi dilakukan, sejumlah ruang kelas di sekolah tersebut sering mengalami kebocoran dan bahkan tergenang air ketika hujan turun.

Kondisi tersebut kerap mengganggu proses pembelajaran karena siswa harus berpindah tempat belajar ke musala saat hujan turun di tengah kegiatan belajar.

Hadirnya RKD Bangkitkan Semangat Belajar Murid Pascabencana

Untuk memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung selama proses perbaikan sekolah, Kemendikdasmen juga menghadirkan Ruang Kelas Darurat (RKD) di sejumlah satuan pendidikan.

Di SMK Negeri 1 Peusangan, delapan RKD telah diresmikan untuk mendukung proses pembelajaran setelah sebagian ruang belajar terdampak banjir. Kepala SMK Negeri 1 Peusangan, Faisal, mengatakan kehadiran RKD membuat kegiatan belajar mengajar di sekolahnya dapat kembali berlangsung lebih nyaman dan teratur.

“Kami sangat bersyukur atas hadirnya delapan RKD yang memungkinkan murid kembali belajar dengan lebih fokus dan tertib. Ruang belajar yang layak menjadi faktor penting agar proses pendidikan dapat berjalan optimal,” ujar Faisal.

Respons positif juga datang dari para siswa. Farah Salsabila, siswi SMK Negeri 1 Peusangan, mengaku kehadiran RKD memberikan semangat baru bagi para siswa untuk kembali belajar setelah masa sulit akibat bencana.

“Hadirnya RKD ini menjadi semangat baru kami untuk terus belajar. Semoga ke depan fasilitas seperti laboratorium, komputer, dan fasilitas lainnya juga bisa kembali tersedia,” ujarnya.

Secara keseluruhan, di Kabupaten Bireuen terdapat 15 RKD yang tersebar di lima sekolah, yaitu delapan RKD di SMK Negeri 1 Peusangan, dua RKD di SMA Negeri 1 Peusangan Siblah Krueng, dua RKD di SMA Negeri 1 Peusangan, satu RKD di SMA Negeri 2 Kutablang, serta dua RKD di SMAS Terpadu Al-Furqan.

Menurut Abdul Mu’ti, pembangunan RKD merupakan bagian dari upaya pemulihan layanan pendidikan pascabencana agar proses pembelajaran tetap berjalan dan semangat belajar siswa tetap terjaga.

“Semangat belajar harus tetap tertanam kepada para peserta didik. Hadirnya RKD ini menjadi wujud nyata upaya kami untuk mempercepat pemulihan layanan pendidikan dan membangkitkan semangat belajar pascamusibah,” ujarnya.

Revitalisasi Sekolah Berdampak Nyata pada Kenyamanan Pembelajaran

Upaya revitalisasi sekolah juga telah memberikan dampak nyata bagi satuan pendidikan di Bireuen. Pada 2025, program revitalisasi telah menjangkau 29 sekolah di kabupaten tersebut dengan total bantuan sekitar Rp36 miliar.

Plt Kepala SMP Negeri 1 Peusangan Selatan, Leni, mengatakan revitalisasi memberikan dampak besar terhadap kenyamanan proses pembelajaran di sekolahnya. Menurutnya, ruang kelas yang sebelumnya kurang layak kini telah jauh lebih baik sehingga siswa dapat belajar dengan lebih fokus dan nyaman.

“Ruang kelas tidak lagi bocor, plafon sudah layak, pintu dan jendela lebih kokoh, serta fasilitas perpustakaan dan laboratorium komputer menjadi lebih baik sehingga siswa lebih betah untuk belajar,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan Kepala SMA Negeri 3 Samalanga, Ira Novita. Ia menilai revitalisasi membantu sekolahnya memaksimalkan pemanfaatan laboratorium IPA setelah ruang administrasi baru dibangun.

Sementara itu, Kepala SMA Negeri 1 Peudada, Yuslina, menyampaikan revitalisasi membantu memperbaiki sejumlah fasilitas sekolah yang sebelumnya sudah lama membutuhkan perbaikan, seperti ruang kelas, perpustakaan, toilet, hingga pembangunan ruang UKS dan bimbingan konseling.

Kebermanfaatan revitalisasi juga dirasakan SLB Vokasional Muhammadiyah Bireuen, Istiarsyah selaku kepala sekolah mengatakan, banyak fasilitas baru yang kini hadir seperti ruang sensori integrasi, perpustakaan, UKS, dan ruang keterampilan yang sebelumnya belum tersedia.

Menurut Abdul Mu’ti, pembangunan sarana pendidikan melalui revitalisasi tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang untuk membangun generasi masa depan.

“Membangun gedung bukan sekadar mendirikan tembok yang tinggi, tetapi membangun fondasi yang kokoh untuk melahirkan anak-anak Indonesia yang cerdas dan berkarakter,” ujarnya.

Melalui kombinasi pembangunan RKD dan revitalisasi sekolah secara bertahap, pemerintah berharap pemulihan layanan pendidikan di Kabupaten Bireuen dapat berlangsung lebih cepat sehingga siswa dapat kembali belajar dengan aman, nyaman, dan penuh semangat.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
inDrive Bukukan Pendapatan Bersih Rp10,2 Triliun Pada 2025, Naik 31 Persen Secara Tahunan
• 2 jam laluidxchannel.com
thumb
Kesal 3 Hari Antre, Sopir Parkir Truk Halangi Akses ke Kapal di Pelabuhan BBJ
• 11 jam laludetik.com
thumb
Mengapa Iran Sulit Ditaklukkan Israel-AS Pascawafatnya Khamenei
• 3 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Jusuf Kalla Sebut Kasus Aktivis KontraS Disiram Air Keras Harus Diusut Serius! Singgung Kasus Novel
• 16 jam lalukompas.tv
thumb
Cuti Bersama Lebaran 2026 Bikin Bursa Tutup Panjang, Ini Jadwal Lengkap Libur BEI Maret 2026
• 8 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.