Analis Sebut Standby Buyer jadi Kunci Rights Issue di Tengah Fluktuasi Pasar

bisnis.com
11 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Rencana penambahan modal melalui skema rights issue yang dilakukan sejumlah emiten di tengah kondisi pasar yang fluktuatif dinilai sangat bergantung pada kepastian pembeli siaga atau standby buyer.

Berdasarkan catatan Bisnis, terdapat sejumlah emiten yang diketahui tengah menggodok aksi penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) atau rights issue. Beberapa di antaranya adalah PT Wahana Interfood Nusantara Tbk. (COCO) hingga PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR).

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta Utama, menjelaskan bahwa keberhasilan aksi korporasi ini tidak hanya diukur dari terserapnya saham baru, tetapi juga dari tujuan penggunaan dananya. 

Menurut Nafan, pasar akan memberikan apresiasi lebih jika dana hasil penambahan modal tersebut dialokasikan untuk ekspansi bisnis perseroan.

“Jika tujuannya untuk ekspansi bisnis, sebenarnya bisa diapresiasi. Namun, jika hanya digunakan untuk melunasi utang-utang sebelumnya, ini menjadi hal yang patut digarisbawahi investor,” ujarnya kepada Bisnis, Minggu (15/3/2026).

Dia pun menekankan pentingnya kehadiran standby buyer guna menarik minat investor, terutama dari kalangan ritel. Tanpa adanya pihak yang menjamin penyerapan saham sisa, investor akan cenderung bersikap wait and see

Baca Juga

  • Right Issue atau Private Placement untuk Emiten Kejar Free Float 15%? Begini Kata BEI
  • Banjir Right Issue Imbas Aturan Free Float 15%, KSEI Siapkan Antisipasi
  • Menakar Peluang Right Issue Jumbo Terserap 'Pasar' jelang Tutup Tahun

Kehadiran pembeli siaga juga dipandang sebagai bentuk komitmen dan kepercayaan terhadap prospek jangka panjang emiten. Hal ini sangat krusial, terutama bagi saham-saham dengan kapitalisasi menengah dan kecil.

"Harus terdapat standby buyer agar bisa menarik minat investor ritel untuk masuk. Jika tidak ada, investor akan bersikap hati-hati," pungkas Nafan.                                                                                                             

Nafan juga menyoroti tren penggunaan dana untuk inisiatif berbasis lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG). Menurutnya, emiten yang mampu mengarahkan pendanaannya ke sektor energi baru terbarukan (EBT) atau kendaraan listrik akan meraih sentimen positif karena sejalan dengan dorongan pemerintah.

Di sisi lain, untuk saham-saham di sektor penunjang minyak dan gas (migas) dan konsumsi yang memiliki likuiditas rendah, Nafan menyarankan supaya investor untuk tetap memantau aliran dana besar atau smart money.

“Wait and see dulu. Kalau smart money masuk, baru bisa menjadi pertimbangan. Terutama untuk strategi swing trading, kita harus memperhatikan arus dana tersebut sebelum mengambil keputusan,” ucap Nafan.

Dihubungi terpisah, Head of Research RHB Sekuritas Andrey Wijaya memandang rights issue masih menjadi salah satu opsi pendanaan yang menarik karena mampu memperkuat permodalan tanpa harus menambah beban utang. 

Menurutnya Andrey, dibandingkan instrumen utang, rights issue memberikan fleksibilitas lebih besar bagi emiten dalam menjaga kesehatan neraca keuangan. 

Namun, dalam kondisi pasar yang volatil, banyak perusahaan cenderung berhati-hati dalam menentukan waktu pelaksanaan agar dapat memaksimalkan minat investor sekaligus meminimalkan potensi dilusi pemegang saham lama. 

“Prospek rights issue di tengah kondisi pasar yang volatil sebenarnya masih cukup terbuka, namun timing menjadi faktor yang sangat penting,” ujarnya. 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Link Live Streaming Manchester United Vs Aston Villa Malam Ini, Mulai 21.00 WIB
• 13 jam lalukompas.tv
thumb
Pihak Teddy Pardiana Sebut Sule Sempat Ajukan Penetapan Ahli Waris, tapi Ditolak
• 39 menit lalukumparan.com
thumb
Kecelakaan minibus dan truk terjadi di Garut
• 8 jam laluantaranews.com
thumb
KA Tambahan Gambir-Solo Balapan PP Beroperasi 15-31 Maret 2026, Ada Diskon hingga 30 Persen
• 20 jam lalukompas.tv
thumb
RI-Singapura Matangkan Ekspor Listrik Bersih, Kepri Disiapkan Jadi Hub Industri Teknologi
• 18 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.