Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Jakarta
Suasana penuh kehangatan terasa di Masjid Baitut Tholibin, lingkungan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah di Jakarta, Sabtu, 14 Maret 2026. Lebih dari 1.600 peserta dari berbagai komunitas menghadiri kegiatan “Ramadan Ceria: Berbuka Bersama 1.000 Difabel”.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang kebersamaan di bulan suci Ramadan, tetapi juga momentum bagi pemerintah untuk menegaskan komitmen memperkuat pendidikan inklusif bagi seluruh anak Indonesia.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa pendidikan merupakan hak setiap anak tanpa terkecuali. Menurutnya, negara berkewajiban memastikan anak-anak berkebutuhan khusus mendapatkan layanan pendidikan yang setara dan berkualitas.
“Semua anak Indonesia, apa pun kondisinya dan di mana pun mereka berada, berhak memperoleh layanan pendidikan. Karena itu kami berkomitmen memperkuat pendidikan inklusif agar anak-anak berkebutuhan khusus dapat belajar bersama dengan anak lainnya,”kata Mu’ti dalam keterangan tertulis, Minggu, 15 Maret 2026.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Kemendikdasmen menyiapkan sejumlah langkah pada 2026 untuk memperluas akses pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Selain mendorong penerapan pendidikan inklusif di sekolah reguler, pemerintah juga berencana menambah Sekolah Luar Biasa di sejumlah daerah yang masih membutuhkan layanan pendidikan khusus.
Kemendikdasmen juga akan meningkatkan kapasitas sekolah melalui program pelatihan guru pendamping bagi peserta didik berkebutuhan khusus. Langkah ini diharapkan membuat semakin banyak sekolah mampu memberikan layanan pendidikan inklusif secara optimal.
Menurut Abdul Mu’ti, tantangan dalam pendidikan inklusif tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan fasilitas, tetapi juga kesiapan tenaga pendidik dan lingkungan sekolah.
“Tahun 2026 kami akan mulai melatih lebih banyak guru pendamping agar sekolah dapat memberikan layanan pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak berkebutuhan khusus,”lanjutnya.
Ia menambahkan bahwa penguatan pendidikan inklusif juga merupakan bagian dari upaya membangun masyarakat yang lebih terbuka serta menghargai keberagaman.
“Kita ingin membangun masyarakat yang tidak memberi sekat antara mereka yang berkebutuhan khusus dengan yang lainnya. Semua anak Indonesia memiliki potensi untuk berkembang jika diberikan kesempatan pendidikan yang berkualitas,”jelasnya.
Acara buka puasa bersama berlangsung meriah dengan berbagai penampilan dari peserta difabel, seperti hadroh, pembacaan ayat Al-Qur’an, mengaji menggunakan bahasa isyarat, dongeng, hingga pembacaan puisi. Berbagai penampilan tersebut menjadi ruang ekspresi sekaligus menunjukkan potensi dan kreativitas penyandang disabilitas.
Pada kesempatan yang sama, Mendikdasmen juga meluncurkan komunitas PijatMu, sebuah inisiatif dari Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang menghimpun para terapis pijat tunanetra di lingkungan Muhammadiyah. Program ini bertujuan memperkuat jaringan, meningkatkan kapasitas, serta mendorong kemandirian ekonomi penyandang disabilitas.
Selain itu, diperkenalkan pula program mudik gratis bagi penyandang disabilitas sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Ramadan Ceria. Program tersebut menyediakan layanan transportasi bagi peserta yang ingin pulang ke kampung halaman selama masa libur Lebaran.
Kemendikdasmen juga menyalurkan berbagai bantuan kepada peserta, antara lain paket sembako, perlengkapan ibadah, baju koko untuk anak-anak, serta Al-Qur’an Braille guna mendukung aktivitas ibadah selama Ramadan.
Melalui kegiatan ini, Kemendikdasmen menegaskan bahwa pendidikan inklusif tidak hanya diwujudkan melalui kebijakan, tetapi juga melalui aksi nyata yang menghadirkan ruang kebersamaan bagi semua. Momentum Ramadan pun dimanfaatkan untuk memperkuat empati sekaligus menegaskan komitmen bahwa setiap anak Indonesia berhak mendapatkan kesempatan pendidikan yang setara.
Editor: Redaksi TVRINews





