Kata Sebagai Senjata: Propaganda dan Perang Narasi atas Palestina

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Dilansir dari BBC, pada 7 Oktober 2023, Hamas melancarkan serangan Israel selatan, menewaskan ratusan warga sipil dan menyandera 251 orang. Serangan tersebut digambarkan sebagai salah satu konflik paling mematikan dalam sejarah kawasan tersebut, dengan lebih dari 40.000 warga Palestina dilaporkan tewas dalam setahun sejak perang dimulai.

Di balik kehancuran fisik tersebut, berlangsung pula perang lain yang dilancarkan melalui framing media, dan simbol yang membentuk cara dunia memandang dan merespons konflik ini. Konstruktivisme memahami bahwa makna dibangun melalui pengalaman sosial, bukan sesuatu yang tersedia secara objektif begitu saja. Penulis berpandangan bahwa dalam konflik Israel-Palestina, propaganda beroperasi sebagai instrumen utama untuk mengkonstruksi dan mengkontestasikan identitas serta legitimasi di hadapan audiens global. Untuk itu, penulis akan memusatkan fokus pada tiga argumen, yaitu penggunaan name calling untuk mengendalikan pelabelan identitas, card stacking untuk membangun narasi korban yang selektif, serta teknik transfer untuk memobilisasi simbol sebagai kendaraan solidaritas politik.

Pada dasarnya, name calling adalah penggunaan kata-kata negatif untuk menyerang musuh atau pandangan yang berlawanan, di mana penghinaan digunakan sebagai pengganti argumen logis yang justru memanipulasi emosi ketimbang akal. Dalam konteks konflik Israel-Palestina, teknik ini beroperasi jauh melampaui sekadar retorika. Dari sudut pandang konstruktivisme, label bukanlah deskripsi yang netral melainkan instrumen pembentukan identitas. Ketika sebuah negara atau aktor politik berhasil menempelkan label tertentu pada lawannya, dan label itu kemudian diadopsi oleh media, pemerintah, serta institusi internasional, maka label tersebut secara efektif menentukan siapa yang mendapat legitimasi moral dan siapa yang tidak. Kekuatan untuk menamai adalah, dalam pengertian ini, kekuatan untuk mendefinisikan realitas.

Tidak ada ilustrasi yang lebih gamblang dari hal ini selain karakterisasi resmi Israel terhadap lawannya. Pasca serangan 7 Oktober, Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant secara terbuka menyatakan bahwa Israel sedang "fighting againts human animals" sebuah pernyataan yang ia sampaikan di Beersheba yang secara total melucuti kemanusiaan dari pihak yang dilawan. Bahasa yang mendehumanisasi seperti ini tidak sekadar mengekspresikan permusuhan, melainkan mengkonstruksi kerangka moral di mana tindakan militer yang ekstrem menjadi sesuatu yang dapat dibenarkan, bahkan diantisipasi. Dengan melabeli Hamas dan secara tidak langsung, penduduk sipil Gaza sebagai ancaman yang tidak berperikemanusiaan, narasi tersebut secara efektif menutup ruang simpati dan mengalihkan akuntabilitas.

Namun dinamika name calling dalam konflik ini tidak berjalan satu arah. Aktor-aktor Palestina dan para pendukungnya secara progresif mengkontestasi label-label tersebut dengan mengajukan framing tandingan "pendudukan," dan "genosida" yang masing-masing membawa bobot normatif tersendiri dan memobilisasi audiens yang berbeda. Keseluruhan dinamika ini memunculkan medan tempur berisi label-label yang saling berkompetisi, di mana masing-masing pihak tidak sekadar berusaha memenangkan argumen, tetapi berjuang untuk menentukan syarat-syarat di mana argumen itu sendiri dilangsungkan.

Sebagai sebuah teknik propaganda, card stacking bekerja dengan memberikan keuntungan yang tidak adil kepada satu sudut pandang sambil secara bersamaan melemahkan sudut pandang yang lain. Dengan kata lain, card stacking tidak selalu bekerja melalui pemalsuan fakta melainkan melalui penekanan yang selektif, penghilangan yang terencana, dan kurasi cermat atas narasi mana yang layak diceritakan dan mana yang tidak. Dalam konflik Israel-Palestina, teknik ini telah diterapkan secara sistematis dalam pemberitaan media, wacana politik, dan komunikasi institusional, menghasilkan lanskap moral yang timpang di mana penderitaan satu pihak tampil nyata dan layak diratapi, sementara penderitaan pihak lain hanya menjadi suara latar yang nyaris tak terdengar.

Ketimpangan ini paling jelas terlihat dalam cara media Barat dan para pemimpin politiknya membingkai kekerasan dalam konflik ini. Ketika Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa "Israel memiliki hak yang melekat untuk membela diri" sebuah pernyataan yang ia ulangi secara terbuka pada Januari 2024. Framing ini menumpuk narasi ke satu arah tertentu: menempatkan korban dan keamanan Israel di garis depan, sembari secara sistematis meminggirkan konteks struktural berupa puluhan tahun pendudukan, blokade, dan perampasan yang mendahului peristiwa 7 Oktober. Hasilnya adalah sebuah versi konflik yang dimulai di tengah kalimat mengakui serangan itu sambil menghapus kondisi-kondisi yang melahirkannya.

Dari perspektif konstruktivisme, konstruksi korban yang selektif semacam ini bukanlah persoalan pinggiran ia bersifat konstitutif terhadap realitas politik internasional. Siapa yang diakui sebagai korban menentukan siapa yang memperoleh perlindungan diplomatik, akses kemanusiaan, dan solidaritas moral. Card stacking, dalam pengertian ini, tidak sekadar mendistorsi persepsi ia membentuk kondisi politik yang menentukan bagaimana negara-negara bertindak dan bagaimana institusi internasional merespons.

Teknik transfer bekerja dengan mendorong pemindahan perasaan dan asosiasi dari satu ide, simbol, atau seseorang kepada yang lain. Berbeda dengan name calling atau card stacking, teknik ini tidak bergantung pada argumen yang eksplisit. Sebaliknya, ia beroperasi melalui kekuatan afektif simbol, memungkinkan makna berpindah lintas konteks dan audiens tanpa memerlukan penjelasan langsung. Dalam konflik Israel-Palestina, kedua belah pihak memanfaatkan teknik ini, namun resistensi Palestina-lah yang menunjukkan penerapannya paling kreatif dan paling bertahan lama.

Tidak ada simbol yang mengilustrasikan hal ini lebih kuat daripada semangka. Dilansir dari Validnews.id, semangka pertama kali digunakan sebagai simbol perjuangan pasca Perang Arab-Israel 1967, ketika Israel menguasai Tepi Barat dan Gaza. Saat itu, pengibaran bendera Palestina di depan umum dikriminalisasi, bahkan perpaduan warna merah, hitam, hijau, dan putih yang menyerupai bendera pun dilarang digunakan pada berbagai benda. Sebagai respons, rakyat Palestina mengadopsi semangka sebagai pengganti visual yang penuh perlawanan, karena warna alami buah itu secara langsung mencerminkan warna bendera yang dilarang tersebut. Dengan memindahkan bobot emosional dan politis identitas nasional ke sebuah buah yang biasa dijumpai sehari-hari, rakyat Palestina secara efektif melewati represi sembari menjaga identitas kolektif mereka tetap hidup dan terlihat.

Keffiyeh membawa bentuk makna yang dipindahkan secara serupa namun berbeda. Dilansir dari Validnews.id, kain penutup kepala bermotif kotak-kotak hitam putih ini mulai meningkat penggunaannya pada tahun 1960-an oleh para pejuang Palestina, dan paling ikonik digunakan oleh pemimpin PLO Yasser Arafat. Di balik simbolisme politiknya, keffiyeh juga memiliki fungsi praktis digunakan untuk menutupi wajah agar tidak dikenali saat menjalankan aksi perjuangan. Namun seiring waktu, keffiyeh mulai dikenakan oleh para aktivis di seluruh dunia. Menjadi gerakan solidaritas global sehelai kain yang mampu berbicara dalam bahasa politik yang dapat dipahami secara universal, tanpa memerlukan satu kata pun.

Ketiga argumen di atas, penggunaan name calling untuk mengkontestasi identitas dan legitimasi, card stacking untuk membangun narasi korban yang selektif, serta teknik transfer untuk memobilisasi simbol sebagai instrumen solidaritas politik, secara kolektif menegaskan pandangan penulis bahwa konflik Israel-Palestina dilangsungkan sama sengitnya melalui narasi seperti halnya melalui senjata.

Setiap teknik mengungkap upaya yang disengaja untuk mengkonstruksi, mengendalikan, dan mengkontestasikan makna di hadapan audiens global, membuktikan bahwa propaganda dalam konflik ini bukanlah sesuatu yang bersifat kebetulan, melainkan struktural. Sebagaimana diajarkan konstruktivisme, realitas dalam politik internasional tidak ditemukan ia dikonstruksi. Label yang ditempelkan negara pada musuhnya, cerita yang dipilih media untuk diceritakan, dan simbol yang dipeluk komunitas bukanlah sekadar cerminan dari konflik, melainkan bagian yang membentuknya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
KPK: Bupati Cilacap Butuh Rp515 Juta untuk THR Polisi hingga Jaksa
• 8 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Peringatan Dini BMKG: Daftar Wilayah Berpotensi Hujan Lebat 16-17 Maret 2026
• 7 jam lalukompas.tv
thumb
Pagi Buta, Menhub Dudy Purwagandhi Sidak Kendaraan Berat
• 10 jam lalusuara.com
thumb
Hasil Liga Inggris, Klasemen, dan Top Skor: Arsenal Makin Sulit Dikejar Manchester City, Chelsea Terancam di 5 Besar Usai Kalah di Kandang
• 12 jam laluharianfajar
thumb
Cek! Penyesuaian Jadwal Pelayanan Samsat di Sumsel selama Lebaran 2026
• 18 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.