Bisnis.com, JAKARTA — Indonesia tengah menghadapi risiko peningkatan harga bahan bakar minyak (BBM) imbas perang Iran dan Amerika Serikat (AS) di tengah musim mudik Lebaran Idulftri 2026.
Dilansir Bloomberg pada Minggu (15/3/2026), jumlah pergerakan masyarakat Tanah Air diperkirakan melampaui 100 juta orang selama mudik lebaran, sehingga mendorong peningkatan konsumsi bahan bakar.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara mengingatkan bahwa terdapat risiko kenaikan inflasi dan biaya subsidi serta krisis energi, mengingat Indonesia merupakan negara importir minyak mentah dan bahan bakar.
“Pemerintah meminta masyarakat untuk tetap tenang tanpa memberikan solusi konkret. Ini sangat berisiko terutama menjelang Idulfitri ketika konsumsi biasanya meningkat,” kata Bhima.
Sebagai negara dengan perekonomian terbesar di Asia Tenggara, mayoritas sumber impor minyak Indonesia berasal dari pasokan yang kini terganggu akibat perang. Masih terdapat stok bahan bakar di atas rata-rata dari Singapura yang dijual ke negara tetangga, tetapi cadangan bahan bakar Indonesia termasuk yang terendah di kawasan ini.
Hal ini dinilai dapat mempersempit ruang pemerintah untuk mengantisipasi gangguan, seiring perang yang masih berlanjut. Lebih lagi, Kementerian ESDM memproyeksikan konsumsi bensin meningkat 12% pada 12 Maret hingga akhir bulan nanti.
Baca Juga
- Prabowo Minta Skenario WFH dan Kurangi Hari Kerja, Jika Terjadi Krisis BBM
- Siasat Pemerintah Jaga Pasokan BBM Jelang Lebaran Kala Pasokan Minyak Terganggu Perang
- Bahlil Tegaskan Lagi Stok BBM RI Aman, Warga Tak Perlu Panic Buying
Sementara itu, penggunaan bahan bakar diesel diperkirakan akan turun 14,5% karena lebih sedikit orang yang bekerja, tetapi konsumsi bahan bakar penerbangan dan minyak tanah akan meningkat. Stok bahan bakar gas cair (LNG) untuk memasak dan kebutuhan industri diperkirakan cukup untuk 12 hingga 15 hari.
Sebelumnya, Kementerian ESDM menyampaikan bahwa stok bbm relatif aman karena Indonesia memiliki banyak sumber minyak mentah. Masyarakat juga diimbau untuk menahan diri dari pembelian panik (panic buying) dan penimbunan bahan bakar.
Presiden Prabowo Subianto juga telah meminta jajaran menteri Kabinet Merah Putih untuk mengkaji sejumlah langkah efisiensi bahan bakar minyak alias BBM apabila terjadi krisis.
Menurutnya, penghematan konsumsi BBM perlu menjadi perhatian bersama. Dia mengingatkan agar Indonesia tidak merasa terlalu aman tanpa melakukan langkah pengendalian dan antisipasi dalam menghadapi berbagai kemungkinan.
“Kita tidak bisa menganggap bahwa apa pun yang terjadi kita aman. Kita bersyukur kita aman, tetapi kita juga harus tetap berupaya mengurangi konsumsi BBM kita,” kata Prabowo dalam sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Jumat (13/3/2026).





