Pemerintah Jepang mulai mempertimbangkan kemungkinan mengirim kapal militer ke kawasan Selat Hormuz untuk membantu pengamanan jalur pelayaran minyak, menyusul permintaan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kepada negara-negara sekutu agar ikut terlibat.
Namun, Penasihat Kebijakan Senior Pemerintah Jepang, Takayuki Kobayashi, menilai langkah tersebut memiliki ambang batas yang sangat tinggi untuk direalisasikan, terutama karena keterbatasan hukum dan sensitivitas politik di dalam negeri. Sehingga harus dipertimbangkan dengan hati-hati.
“Saya memandang ambangnya sangat tinggi untuk mengirim kapal angkatan laut Jepang ke kawasan tersebut berdasarkan hukum yang berlaku di Jepang saat ini,” kata Kobayashi, dikutip dari AFP, Minggu (15/3).
“Secara hukum, kami tidak menutup kemungkinan itu. Tetapi mengingat situasi saat ini di mana konflik masih berlangsung, saya percaya ini adalah sesuatu yang harus dipertimbangkan dengan sangat hati-hati,” imbuhnya.
Ketegangan di kawasan Teluk meningkat setelah serangan yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran. Konflik tersebut memicu lonjakan harga minyak setelah Iran menutup jalur pelayaran penting di Selat Hormuz dan menyerang fasilitas energi di kawasan Teluk.
Bagi Jepang, stabilitas jalur pelayaran di Selat Hormuz sangat krusial. Negara dengan ekonomi terbesar keempat di dunia itu merupakan pengimpor minyak terbesar kelima, dengan sekitar 95 persen pasokan minyaknya berasal dari Timur Tengah dan sekitar 70 persen di antaranya melewati Selat Hormuz.
Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, mengatakan belum ada keputusan terkait kemungkinan pengiriman kapal perang Jepang untuk mengawal kapal tanker di Timur Tengah.
Pekan ini, Takaichi dijadwalkan mengunjungi AS untuk bertemu dengan Presiden Donald Trump. Pertemuan tersebut diperkirakan akan membahas berbagai isu, mulai dari keamanan kawasan Asia-Pasifik hingga konflik dengan Iran.
Kobayashi berharap Takaichi dapat mengetahui secara langsung tujuan Trump ketika meminta dukungan militer dari negara-negara sekutu.
Ia juga memperkirakan kedua pemimpin akan membahas cara Jepang dan Amerika Serikat bekerja sama agar tidak terjadi kekosongan dalam kerangka keamanan di Asia Timur.
Sebelumnya, Trump mendesak sejumlah negara sekutu untuk mengirim kapal ke Selat Hormuz. Negara-negara tersebut diminta untuk bersama-sama mengamankan Selat Hormuz agar tetap terbuka.
Trump, yang mengatakan AS akan segera mulai mengawal kapal-kapal tanker melalui Selat Hormuz tersebut, menulis desakan tersebut di Truth Social.
“Banyak negara, terutama yang terkena dampak upaya Iran untuk menutup Selat Hormuz, akan mengirimkan Kapal Perang, bersama dengan Amerika Serikat, untuk menjaga agar Selat tetap terbuka dan aman,” kata dia dikutip dari AFP, Sabtu (14/3).
“Semoga China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan negara-negara lain yang terkena dampak pembatasan buatan ini, akan mengirimkan Kapal ke daerah tersebut,” sambungnya.





