Lonjakan harga minyak hingga 150 dolar per barel dapat memberikan dampak serius terhadap perekonomian global jika konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran terus berlanjut dalam beberapa pekan ke depan.
Konsultan dari Foreign Reports Matthew Reed, mengatakan pasar energi akan membutuhkan waktu lama untuk kembali stabil bahkan jika konflik berhenti segera.
Dikutip dari Al Jazeera, Reed menjelaskan bahwa pasar energi saat ini berada dalam kondisi yang sangat rentan.
"Jika konflik berhenti hari ini sekalipun misalnya jika Presiden AS Donald Trump menyatakan kemenangan atau Iran mengumumkan gencatan senjata pasar energi dunia tetap membutuhkan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan untuk kembali normal," kata Reed.
Menurut dia, saat ini harga minyak dunia telah mencapai sekitar 100 dolar AS per barel. Jika konflik berlanjut selama beberapa minggu lagi, harga minyak berpotensi naik mendekati atau bahkan melampaui 120 dolar AS per barel, mendekati level yang pernah terjadi pada 2022.
Reed memperingatkan bahwa konflik berkepanjangan dapat mendorong harga minyak hingga mendekati 150 dolar AS per barel.
Jika kondisi tersebut terjadi, dampaknya bisa sangat besar terhadap perekonomian dunia karena harga energi yang tinggi dapat menekan permintaan dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.
“Jika harga minyak mendekati 150 dolar per barel, dampaknya bisa menghancurkan karena akan memicu penurunan permintaan dan memperlambat ekonomi global,” ujarnya.
Selain pasar minyak, Reed juga menilai pasar gas alam berpotensi menghadapi tekanan yang lebih serius. Ia menyebut sekitar 20 persen pasokan gas alam cair dunia saat ini terhambat setelah produksi di Qatar terganggu akibat situasi konflik.
Menurut Reed, penggantian pasokan gas alam cair tersebut dalam waktu singkat hampir tidak mungkin dilakukan, sehingga berpotensi memperburuk krisis energi global.





