PRESIDEN Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengumumkan ada banyak negara yang akan mengerahkan kapal perang untuk mengamankan Selat Hormuz. Jalur pelayaran vital yang mengangkut sekitar 20 persen kebutuhan minyak dunia tersebut kini menjadi pusat konfrontasi antara Washington dan Teheran.
Melalui unggahan di platform Truth Social pada Sabtu (14/3), Trump mengeklaim bahwa koalisi global tengah dibentuk untuk menghadapi upaya Iran menutup jalur tersebut.
"Banyak negara, terutama yang terdampak oleh upaya Iran menutup Selat Hormuz, akan mengirim Kapal Perang, bersama dengan AS, untuk menjaga Selat itu tetap terbuka dan aman," tulis Trump.
Baca juga : Trump Klaim Perang Melawan Iran Segera Berakhir: Militer Mereka Habis
Pernyataan Trump kali ini bernada sangat agresif. Ia menegaskan tidak akan ragu menggunakan kekuatan militer penuh untuk memastikan stabilitas jalur maritim tersebut.
"AS akan mengebom habis-habisan garis pantai, serta terus menembaki Perahu dan Kapal Iran dari perairan tersebut. Bagaimanapun caranya, kami akan segera membuat Selat Hormuz TERBUKA, AMAN, dan BEBAS!" tegasnya.
Sebelumnya, pada Jumat (13/3), Trump juga mengonfirmasi kepada wartawan bahwa Angkatan Laut AS akan segera memulai misi pengawalan langsung bagi kapal-kapal tanker yang melintasi selat sensitif tersebut. "Itu akan segera dilakukan," ujarnya singkat.
Baca juga : Pulau Kharg Jadi Target, Dunia Waspadai Krisis Minyak
Respons Iran: "Konsekuensi Agresi AS"
Di sisi lain, pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, justru menyerukan agar penutupan Selat Hormuz terus dilanjutkan. Dalam pidatonya pada Kamis (12/3), Khamenei berjanji akan membuka front baru dalam konflik melawan AS dan Israel.
Senada dengan pimpinannya, Perwakilan Tetap Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, menuding balik Washington sebagai penyebab instabilitas di kawasan. Menurutnya, situasi panas di Selat Hormuz adalah konsekuensi langsung dari tindakan destabilisasi dan agresi yang dilancarkan Amerika Serikat terhadap kedaulatan Iran.





