Filsuf Bereputasi Internasional Jurgen Habermas Meninggal Dunia

wartaekonomi.co.id
3 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Filsuf dan sosiolog asal Jerman, Jürgen Habermas, meninggal dunia pada usia 96 tahun. Kabar wafatnya disampaikan oleh penerbitnya, Suhrkamp Verlag.

The Guardian melaporkan Habermas meninggal pada Sabtu di Starnberg, dekat Munich, Jerman. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh intelektual paling berpengaruh dalam sejarah Jerman pascaperang dan sebagai pemikir penting dalam filsafat politik abad ke-20.

Selama lebih dari tujuh dekade kariernya, Habermas banyak menulis tentang teori sosial, demokrasi, serta prinsip negara hukum.

Ia paling dikenal melalui teori pembentukan konsensus politik yang menekankan pentingnya pembentukan opini publik bagi kelangsungan demokrasi. Pemikirannya juga berpengaruh dalam perdebatan mengenai integrasi Eropa dan pembentukan Uni Eropa.

Kanselir Jerman, Friedrich Merz, menyebut Habermas sebagai salah satu pemikir paling penting pada zamannya.

"Ketajaman analisisnya membentuk diskursus demokrasi jauh melampaui batas negara kami dan menjadi penuntun di tengah situasi yang penuh gejolak. Suaranya akan dirindukan,” kata Merz dalam sebuah pernyataan.

Sepanjang hidupnya, Habermas tetap aktif menulis buku dan artikel opini, bahkan hingga usia lanjut. Dalam wawancara dengan The Guardian pada 2015, ia pernah mengkritik kebijakan Kanselir Jerman saat itu, Angela Merkel, yang dinilainya mempertaruhkan reputasi Jerman pascaperang melalui sikap keras pemerintah terhadap krisis utang Yunani.

Dalam beberapa tahun terakhir, pandangannya juga memicu perdebatan di kalangan intelektual muda. Pada 2022, ia mengkritik Menteri Luar Negeri Jerman saat itu dari Partai Hijau, Annalena Baerbock, atas pernyataan kerasnya terkait perang Rusia di Ukraina.

Pandangan Habermas yang menyebut perang Israel di Gaza setelah serangan Hamas pada 7 Oktober sebagai "pada prinsipnya dapat dibenarkan" juga menuai kritik dari sejumlah filsuf yang terinspirasi oleh tradisi teori kritis.

Karya terakhirnya berjudul "Things Needed to Get Better" diterbitkan pada Desember tahun lalu. Dalam buku tersebut, ia menolak sikap pesimisme dan menilai krisis global saat ini masih dapat dihadapi serta diatasi.

Habermas lahir pada 18 Juni 1929 di Düsseldorf, Jerman, dari keluarga kelas menengah. Ia menjalani dua kali operasi sejak bayi karena kondisi langit-langit mulut sumbing yang menyebabkan gangguan bicara.

Pengalaman tersebut disebut memengaruhi minatnya pada teori komunikasi. Habermas pernah mengatakan bahwa bahasa lisan merupakan “lapisan kebersamaan” yang memungkinkan manusia hidup sebagai individu dalam masyarakat.

Ia dibesarkan dalam keluarga Protestan yang taat. Ayahnya, seorang ekonom yang memimpin kamar dagang setempat, bergabung dengan Partai Nazi pada 1933, meski menurut Habermas hanya sebagai simpatisan pasif.

Seperti banyak anak laki-laki Jerman pada masa itu, Habermas juga bergabung dengan organisasi pemuda Nazi, Hitler Youth, pada usia 10 tahun. Menjelang akhir Perang Dunia II, ia berhasil menghindari wajib militer dengan bersembunyi dari polisi militer.

Habermas kemudian mengatakan bahwa pengalaman menghadapi kenyataan kejahatan rezim Nazi mendorongnya menekuni filsafat dan teori sosial.

Ia menempuh pendidikan di Universitas Bonn, tempat ia bertemu dengan istrinya, Ute Habermas-Wesselhoeft. Habermas mulai dikenal sebagai jurnalis dan akademisi pada 1950-an dan menjadi bagian dari generasi kedua Frankfurt School atau di Indonesia dengan aliran Teori Kritis Mazhab Frankfurt.

Pada 1980-an, ia menjadi tokoh penting dalam perdebatan intelektual yang dikenal sebagai Historikerstreit, yaitu polemik antara sejarawan mengenai cara menafsirkan kejahatan rezim Nazi. Habermas menolak upaya yang dianggap merelatifkan atau menyamakan kejahatan Nazi dengan kejahatan rezim lain.

Ia berpendapat bahwa upaya Jerman untuk berdamai dengan masa lalunya, atau Vergangenheitsbewältigung, harus menjadi bagian penting dari identitas nasional negara tersebut.

Istri Habermas, Ute, meninggal dunia pada tahun lalu. Ia meninggalkan dua anak dari tiga anaknya, yakni Tilmann dan Judith, setelah putri mereka Rebekka meninggal pada 2023.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prakiraan Cuaca Hari Ini: Jakarta bakal Hujan pada Siang hingga Sore
• 8 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Bhayangkara FC Mengintai, Persija dan Persib Terancam Tergelincir
• 19 jam laluviva.co.id
thumb
Jakarta Terasa Lebih Pengap dan Panas? BMKG Ungkap Penyebab Sebenarnya yang Sedang Terjadi
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Beasiswa LPDP 2026, Cek Namamu di Link Ini
• 17 jam lalumedcom.id
thumb
Prediksi Idul Fitri 1447 H: BMKG dan BRIN Sepakat 1 Syawal Jatuh pada 21 Maret 2026
• 17 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.